TINS Gandeng Perminas Kembangkan Pengolahan Rare Earth dan Slag Timah di Bangka Belitung

AKURAT.CO PT Timah (Persero) Tbk. (TINS) dan PT Perusahaan Mineral Nasional (Persero) (Perminas) melakukan penandatangan Conditional Framework terkait pengembangan pengolahan slag timah dan rare earth elements (REE/LTJ) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Kerja sama ini dituangkan dalam kerangka kerja sama bersyarat bertajuk Sovereign Strategic Mineral Cooperation Framework Pengolahan Slag Timah, Monasit & REE/LTJ Bangka.
Kesepakatan ini ditandatangi oleh Direktur Utama PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas), Gilarsi Wahju Setijono dan Direktur Utama PT Timah (Persero) Tbk. (TINS), Restu Widiyantoro.
Dan turut disaksikan oleh Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin; Chief Technology Officer Danantara, Sigit Puji Santosa; Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sekaligus Kepala Badan Industri Mineral (BIM), Brian Yuliarto di Gedung Badan Pengaturan BUMN.
Baca Juga: MoU Rare Earth, Indonesia Bidik Rantai Pasok Global
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung agenda hilirisasi pemerintah sekaligus memperkuat kedaulatan mineral nasional melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya yang selama ini belum dikelola secara maksimal.
Direktur Utama PT Perminas (Persero), Gilarsi Wahju Setijono menyampaikan, kesepakatan kerja sama dengan PT Timah menjadi momentum penting dalam membangun pengelolaan mineral strategis nasional, khususnya pengolahan slag timah dan rare earth elements.
Menurutnya, proses menuju kerja sama tersebut melalui pembahasan intensif guna menyusun framework kolaborasi yang akan dijalankan kedua perusahaan.
“Hari ini cukup membahagiakan karena setelah perjuangan panjang akhirnya kita menyepakati kolaborasi antara PT Timah dan Perminas. Bukan sekadar wacana, tetapi langkah konkret untuk memulai perjalanan baru dalam membangun kedaulatan mineral Indonesia,” kata Gilarsi dalam keterangannya, Sabtu (23/5/2026).
Gilarsi menjelaskan, kerja sama tersebut diarahkan menjadi kemitraan strategis jangka panjang dalam pengembangan pengolahan slag timah dan mineral tanah jarang.
Dalam prosesnya, kedua perusahaan juga mempelajari berbagai aspek pengembangan, termasuk penguatan teknologi pengolahan guna mempercepat hilirisasi mineral strategis nasional.
“Teknologi pengolahan ini memang cukup strategis dan selama ini banyak dikunci oleh negara lain. Karena itu kami berupaya menghadirkan partner yang tepat agar proses pengolahan bisa dipercepat,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Timah, Restu Widiyantoro menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah yang membuka peluang perusahaan memperluas peran dalam pengembangan hilirisasi mineral strategis.
Menurutnya, selama puluhan tahun PT Timah berfokus pada pengolahan bijih timah dari hulu hingga hilir untuk kebutuhan ekspor.
Namun melalui kerja sama strategis tersebut, perusahaan kini memiliki peluang untuk meningkatkan nilai tambah melalui pengelolaan mineral strategis.
“Selama ini PT Timah hanya fokus mengelola bijih timah dari hulu sampai hilir untuk ekspor. Dengan adanya kerja sama ini, kami memiliki kesempatan untuk naik kelas melalui pengembangan hilirisasi dan pengelolaan mineral strategis,” tutur Restu.
Ia mengungkapkan, slag yang selama ini dianggap sebagai sisa hasil produksi ternyata memiliki potensi ekonomi dan strategis yang besar.
Melalui kerja sama pengolahan slag dan mineral tanah jarang, material tersebut diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi perusahaan maupun negara.
Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin mengatakan, kerja sama strategis tersebut merupakan bagian dari upaya mengoptimalkan kekayaan alam nasional demi kepentingan bangsa dan negara.
“Kita ingin mengelola kekayaan alam yang dimiliki bangsa ini untuk tujuan utama, yakni kepentingan nasional dan kesejahteraan bangsa serta negara,” pungkasnya.
Menurutnya, kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada tahap wacana, tetapi mampu menghasilkan langkah konkret dan berkelanjutan dalam mendukung hilirisasi mineral strategis nasional.
Di tempat yang sama, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sekaligus Kepala Badan Industri Mineral (BIM), Brian Yuliarto menyebut pengembangan hilirisasi REE dan mineral strategis menjadi langkah penting untuk memperkuat industrialisasi nasional.
Menurut Brian, pengembangan industri mineral strategis tidak hanya bertujuan meningkatkan ekonomi nasional, tetapi juga membangun kepercayaan diri bangsa agar mampu sejajar dengan negara maju dalam industri mineral kritis dunia.
“Ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga harga diri bangsa agar Indonesia mampu menjadi produsen mineral strategis bernilai tinggi dan masuk dalam jajaran negara maju di sektor mineral kritis,” ucap Brian.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









