Reklamasi Tambang Jadi Kunci Pemulihan Ekologi dan Ekonomi Hijau

AKURAT.CO Reklamasi dan pemulihan lingkungan kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari praktik pertambangan berkelanjutan.
Bagi perusahaan-perusahaan anggota Grup MIND ID, reklamasi tidak lagi dipandang sebagai kewajiban administratif setelah kegiatan tambang berakhir, melainkan sebagai upaya memulihkan fungsi ekologis kawasan sekaligus menciptakan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Melalui berbagai program restorasi lahan, rehabilitasi ekosistem, konservasi biodiversitas, hingga pengembangan tanaman energi, perusahaan-perusahaan tambang anggota Grup MIND ID berupaya menunjukkan bahwa aktivitas pertambangan dapat berjalan beriringan dengan upaya pelestarian lingkungan.
Baca Juga: Grup MIND ID Salurkan 1.735 Hewan Kurban Dari Sumatera hingga Papua
Di ANTAM, reklamasi diposisikan sebagai instrumen pemulihan fungsi ekologis jangka panjang. Perusahaan menjalankan program reklamasi dan rehabilitasi secara sistematis dengan tujuan mengembalikan fungsi lingkungan pada area pascatambang agar tetap aman, stabil, dan produktif.
Kegiatan tersebut meliputi penataan lahan, pengendalian erosi dan sedimentasi, revegetasi menggunakan spesies lokal, hingga pemantauan kualitas lingkungan secara berkala.
ANTAM juga mengintegrasikan program konservasi biodiversitas melalui pemantauan flora dan fauna, rehabilitasi ekosistem sungai, serta perlindungan kawasan bernilai konservasi tinggi di sekitar wilayah operasional.
Pada 2025, ANTAM telah menanam lebih dari 195 ribu pohon di area pascatambang maupun kawasan rehabilitasi lainnya.
Selanjutny, Bukit Asam atau PTBA mengembangkan inovasi melalui pemanfaatan tanaman kaliandra merah di lahan reklamasi. Tanaman energi tersebut dikembangkan sebagai bahan baku wood pellet untuk program co-firing pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
Program ini tidak hanya mempercepat penghijauan lahan pascatambang, tetapi juga mendukung pengurangan emisi karbon melalui substitusi sebagian penggunaan batu bara dengan biomassa.
Hingga 2025, PTBA bersama mitra akademik telah melakukan penanaman kaliandra merah di lahan seluas 26,47 hektare dengan lebih dari 240 ribu batang tanaman.
Di samping itu, Freeport Indonesia menjadikan pengelolaan biodiversitas sebagai salah satu fokus utama strategi keberlanjutannya.
Perusahaan menerapkan berbagai sistem pengelolaan lingkungan yang bertujuan meminimalkan dampak operasional terhadap ekosistem, termasuk pemantauan lingkungan secara berkelanjutan dan pengelolaan tailing sesuai standar yang telah diverifikasi secara internasional.
Baca Juga: BP BUMN dan Danantara Benahi Struktur MIND ID untuk Percepat Hilirisasi
Selain itu, Freeport melakukan penilaian kondisi alam melalui pendekatan empat tahap, mulai dari identifikasi lokasi, evaluasi, asesmen, hingga penyiapan langkah mitigasi guna memperkuat perlindungan keanekaragaman hayati di wilayah operasionalnya.
Sementara itu, PT Timah menempatkan reklamasi dan restorasi lanskap pascatambang sebagai bagian penting dari strategi keberlanjutan perusahaan. Upaya tersebut tidak hanya dilakukan melalui revegetasi lahan bekas tambang, tetapi juga rehabilitasi ekosistem pesisir dan laut.
Program yang dijalankan mencakup pembangunan terumbu karang buatan, penanaman mangrove, hingga restocking kepiting sebagai bagian dari pemulihan ekosistem perairan yang terdampak aktivitas pertambangan.
Pada 2025, perusahaan mencatat realisasi 100 persen target perawatan reklamasi dan rehabilitasi lingkungan yang telah ditetapkan.
Adapun PT Vale Indonesia menempatkan reklamasi dan rehabilitasi kawasan tambang sebagai bagian dari strategi menjaga keberlanjutan sumber daya alam jangka panjang.
Perusahaan menjalankan pemulihan lahan melalui revegetasi, pengelolaan keanekaragaman hayati, dan rehabilitasi kawasan terdampak operasi tambang untuk memastikan kawasan yang telah ditambang dapat kembali memiliki fungsi ekologis yang mendukung keseimbangan lingkungan di sekitar wilayah operasi.
Berbagai inisiatif tersebut menunjukkan bahwa paradigma industri pertambangan terus berubah. Reklamasi tidak lagi berhenti pada penanaman kembali vegetasi, melainkan berkembang menjadi upaya pemulihan ekosistem yang lebih komprehensif dari konservasi biodiversitas, rehabilitasi kawasan darat dan perairan, hingga pengembangan tanaman energi yang mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Dengan pendekatan tersebut, perusahaan-perusahaan anggota Grup MIND ID membuktikan bahwa kegiatan pertambangan dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








