Akurat Logo

Gunung Anak Krakatau Erupsi, Warga Diminta Jauhi Radius 3 Km

Lukman Nur Hakim Akurat.co | 6 September 2026, 14:24 WIB
Gunung Anak Krakatau Erupsi, Warga Diminta Jauhi Radius 3 Km
Ilustrasi letusan gunung krakatau

AKURAT.CO Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkap erupsi menerus Gunung Anak Krakatau pada 4 September 2026 disertai semburan lava atau lava fountain, suara gemuruh, dan dentuman yang terdengar hingga sejumlah wilayah Jawa Barat.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria mengatakan, Gunung Anak Krakatau sudah naik statusnya dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) sejak tanggal 2 Juli 2026.

“Pada tanggal 4 September 2026 pukul 23.00 WIB, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai dengan semburan lava menerus atau lava fountain, disertai suara gemuruh serta dentuman,” kata Lana dalam konferensi pers yang disiarkan di Youtube Badan Geologi, Minggu (6/9/2026).

Baca Juga: Anak Krakatau Erupsi, Badan Geologi Jelaskan soal Potensi Tsunami

Lana menyampaikan, emisi erupsi tersebut telah berhenti pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Fenomena semburan lava menerus merupakan salah satu karakteristik Gunung Anak Krakatau dan umum terjadi pada gunung api dengan viskositas magma yang relatif rendah.

Badan Geologi pun mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau, termasuk pengunjung, wisatawan, dan pendaki, untuk tidak memasuki atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung api.

“Badan Geologi Kementerian ESDM memberikan rekomendasi agar masyarakat di sekitar Gunung Api Anak Krakatau dan pengunjung atau wisatawan atau pendaki tidak diperbolehkan memasuki/melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 3 km dari pusat aktivitas Gunung Api Krakatau,” ujarnya.

Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat. Warga yang terdampak hujan abu diimbau menggunakan masker.

“Masyarakat diharapkan juga tidak terpancing isu-isu erupsi Gunung Api Krakatau yang berasal dari sumber tidak terpercaya,” tambah Lana.

Dentuman Terdengar di Jawa Barat

Lebih lanjut, Badan Geologi juga memastikan suara dentuman dan getaran pada kaca serta pintu yang dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Jawa Barat pada 4-5 September 2026 berkaitan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau.

Baca Juga: BNPB Siapkan Operasi Modifikasi Cuaca Atasi Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau

Lana mengatakan kesesuaian waktu antara kejadian erupsi dan sinyal yang tercatat pada stasiun pemantauan di Jawa Barat memperkuat indikasi bahwa fenomena tersebut berasal dari gelombang akustik erupsi Gunung Anak Krakatau.

“Kesesuaian waktu dan erupsi Gunung Api Krakatau dan sinyal pada stasiun pemantauan di Jawa Barat mendukung kuat bahwa fenomena tersebut berasal dari gelombang akustik erupsi Gunung Api Krakatau,” ucapnya.

Lana menjelaskan, gelombang akustik berfrekuensi rendah dari erupsi dapat merambat dalam jarak yang jauh pada kondisi atmosfer tertentu.

Ketika mencapai wilayah yang lebih jauh, gelombang tersebut dapat dirasakan masyarakat sebagai suara dentuman.

“Contohnya ketika erupsi Gunung Kelud terdengar hingga Jawa Tengah, dan Gunung Lewotobi Laki-Laki terdengar hingga Maumere dan Pulau Alor,” tutur Lana.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.