Jaringan Bisnis Summarecon: Dari Kelapa Gading hingga 9 Kawasan Kota Mandiri

AKURAT.CO Sebuah kawasan perumahan bisa saja berhenti sebagai tempat tinggal. Namun, ketika di dalamnya terdapat pusat perbelanjaan, sekolah, rumah sakit, hotel, ruang komersial, fasilitas olahraga, hingga ruang publik, kawasan tersebut telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Pola inilah yang terlihat dalam perkembangan jaringan bisnis Summarecon selama puluhan tahun.
Jaringan bisnis Summarecon dibangun melalui konsep pengembangan kota mandiri atau township. Model tersebut menggabungkan hunian dengan berbagai fasilitas pendukung, mulai dari kawasan komersial dan pusat belanja hingga pendidikan, kesehatan, perhotelan, olahraga, dan rekreasi. Berdasarkan narasi perusahaan, Summarecon kini mengembangkan sembilan kawasan utama yang tersebar di Jabodetabek, Jawa Barat, Banten, hingga Makassar.
Yang menarik, perjalanan tersebut bermula dari lahan sekitar 10 hektare di Kelapa Gading pada 1970-an. Dari pengembangan lahan awal itu, Summarecon kemudian membangun model bisnis yang tidak hanya bergantung pada penjualan rumah, tetapi juga menciptakan ekosistem kawasan dengan berbagai sumber aktivitas ekonomi.
Bagaimana Jaringan Bisnis Summarecon Terbentuk?
PT Summarecon Agung Tbk. didirikan pada November 1975 oleh Soetjipto Nagaria dan rekan-rekannya. Setahun kemudian, perusahaan mulai mengembangkan perumahan di lahan 10 hektare di Kelapa Gading Permai, kawasan yang kemudian berkembang menjadi Summarecon Kelapa Gading.
Pada tahap awal, bisnisnya berangkat dari kebutuhan paling dasar dalam sebuah kawasan: hunian. Namun, pengembangan kemudian melebar ke ruko di sepanjang Jalan Bulevar Kelapa Gading, fasilitas olahraga, hingga pusat perbelanjaan. Kehadiran Mal Kelapa Gading sejak 1990 menjadi salah satu contoh bagaimana kawasan hunian mulai dipadukan dengan aktivitas komersial.
Pola tersebut menjadi penting karena sebuah township membutuhkan lebih dari sekadar rumah. Penghuni membutuhkan tempat berbelanja, bekerja, makan, berolahraga, mengakses pendidikan, dan memperoleh layanan kesehatan. Dari sinilah jaringan bisnis pengembang dapat berkembang mengikuti kebutuhan kawasan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








