Pangan Olahan di Tengah Banjir Informasi, Membedakan Risiko dan Sensasi

AKURAT.CO Perbincangan mengenai pangan olahan semakin ramai di media sosial. Berbagai konten mengulas komposisi, bahan tambahan pangan, hingga dampak makanan ultra-proses terhadap kesehatan.
Sebagian membantu meningkatkan kesadaran masyarakat, tetapi tidak sedikit yang menyederhanakan persoalan dan menimbulkan anggapan bahwa semua pangan hasil proses industri pasti berbahaya.
Yang terbaru muncul informasi berantai dan sejumlah konten di sosial media tentang anggapan bahaya makan sosis. Informasi ini tentu saja bisa menyesatkan jika tidak dilengkapi dengan konteks masalahnya. Padahal, industri makanan olahan memiliki pangsa pasar yang sangat besar dengan rekam jejak yang panjang dan kredibel.
Baca Juga: ITPC Sao Paulo Dukung Makanan Olahan RI Masuk Pasar Brasil
Sejumlah pakar di bidang pangan menjelaskan informasi mengenai suatu bahan terkadang disajikan tanpa menjelaskan jumlah pemakaian, tingkat paparan, pola konsumsi, maupun konteks penelitian.
Istilah seperti bahan kimia, pengawet, perisa, dan pangan ultra-proses akhirnya kerap diposisikan sebagai penanda bahaya. Padahal, keamanan dan kualitas pangan tidak dapat dinilai hanya berdasarkan nama bahan atau panjangnya daftar komposisi.
Ketua Umum Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) masa bakti 2022–2026, Prof. Dr. Ir. Giyatmi, M.Si., mengatakan perdebatan mengenai pangan perlu ditempatkan dalam kerangka ilmiah. Menurutnya ilmu pengetahuan harus menjadi fondasi utama dalam penyusunan kebijakan pangan.
Perdebatan mengenai pangan tidak boleh hanya didasarkan pada persepsi atau tren global. Indonesia membutuhkan kebijakan pangan yang dibangun di atas bukti ilmiah agar mampu menjawab tantangan gizi, keamanan pangan, ketahanan pangan, sekaligus mendorong inovasi industri pangan nasional.
"Teknologi pangan bukan masalah, melainkan bagian dari solusi, kata Giyatmi dalam Seminar Nasional PATPI 2026, beberapa waktu lalu.
Pengolahan merupakan bagian dari sistem pangan. Memasak, membekukan, fermentasi, pasteurisasi, dan sterilisasi merupakan bentuk pengolahan dengan tujuan berbeda. Teknologi tersebut antara lain digunakan untuk mengendalikan kontaminasi, menjaga mutu, mempermudah distribusi, dan memperpanjang masa simpan.
Karena itu, pangan olahan tidak serta-merta sama dengan ultra-processed food atau UPF. Penilaian terhadap suatu produk juga perlu mempertimbangkan kandungan gula, garam dan lemak, kepadatan energi, ukuran sajian, nilai gizi, serta frekuensi konsumsinya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







