Google Bayar Denda Senilai Rp77 Triliun Terkait Gugatan Privasi Konsumen di Amerika Serikat

AKURAT.CO Google telah setuju untuk menyelesaikan gugatan yang mengklaim bahwa mereka secara diam-diam melacak penggunaan internet jutaan orang.
Hakim Distrik di Amerika Serikat, Yvonne Gonzalez Rogers di Oakland, California, menunda persidangan yang dijadwalkan pada 5 Februari 2024 dalam gugatan kelompok yang diusulkan pada hari Kamis (28/12/2023), setelah pengacara untuk Google dan konsumen mengatakan bahwa mereka telah mencapai penyelesaian awal.
Gugatan tersebut menuntut setidaknya USD5 miliar atau sekitar Rp77,2 triliun. Persyaratan penyelesaian tidak diungkapkan, tetapi para pengacara mengatakan bahwa mereka telah menyetujui perjanjian yang mengikat melalui mediasi.
Baca Juga: Capai Rp255,8 T per Desember 2023, Penyaluran KUR Baru 86 Persen dari Target
Setelahnya, diharapkan untuk mengajukan penyelesaian formal untuk persetujuan pengadilan pada 24 Februari 2024.
Baik Google maupun pengacara dari konsumen penggugat tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Para penggugat menuduh bahwa analisis, cookie dan aplikasi Google memungkinkan unit Alphabet melacak aktivitas mereka bahkan ketika mereka mengatur peramban Chrome Google ke mode penyamaran dan peramban lain ke mode penjelajahan pribadi.
Mereka mengatakan bahwa hal tersebut mengubah Google menjadi kumpulan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dengan membiarkan perusahaan mengetahui tentang teman, hobi, makanan favorit, kebiasaan belanja hingga "hal-hal yang berpotensi memalukan" yang mereka cari secara online.
Pada bulan Agustus, Rogers menolak tawaran Google untuk membatalkan gugatan tersebut.
Dia mengatakan bahwa ini adalah pertanyaan terbuka apakah Google telah membuat janji yang mengikat secara hukum untuk tidak mengumpulkan data pengguna ketika mereka menjelajah dalam mode privat.
Hakim mengutip kebijakan privasi Google dan pernyataan lain dari perusahaan yang menunjukkan batasan informasi yang dapat dikumpulkan.
Gugatan yang diajukan pada tahun 2020 ini mencakup "jutaan" pengguna Google sejak 1 Juni 2016, dan menuntut ganti rugi setidaknya USD5.000 per pengguna atas pelanggaran undang-undang penyadapan federal dan undang-undang privasi California.
Kasusnya adalah Brown dkk v Google LLC dkk, Pengadilan Distrik AS, Distrik Utara California, No. 20-03664.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







