Akurat Logo

Apa Itu Tone Deaf? Ini Arti, Contoh, dan Cara Menghindarinya di Media Sosial

Putri Chandra | 14 September 2026, 13:39 WIB
Apa Itu Tone Deaf? Ini Arti, Contoh, dan Cara Menghindarinya di Media Sosial
Ilustrasi, apa itu tone deaf - magnific

AKURAT.CO Istilah tone deaf belakangan semakin sering digunakan di media sosial, terutama ketika muncul pernyataan atau tindakan yang dianggap kurang peka terhadap situasi tertentu.

Lantas, apa itu tone deaf? Secara harfiah, istilah ini berarti “tuli nada”, tetapi dalam konteks sosial maknanya merujuk pada sikap seseorang yang dinilai kurang memahami perasaan, kondisi, atau situasi orang lain.

Untuk memahami penggunaannya, simak arti tone deaf, contoh dalam kehidupan sehari-hari, hingga cara menghindarinya saat berkomentar di media sosial.

Baca Juga: Maudy Ayunda Bicara Mindfulness, Kenali News Fatigue dan Dampaknya bagi Kesehatan Mental


Apa Itu Tone Deaf?

Tone deaf secara harfiah berarti “tuli nada”, yaitu kondisi ketika seseorang kesulitan membedakan atau mengikuti nada dalam musik.

Namun, dalam konteks sosial, tone deaf punya arti berbeda. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang dianggap kurang peka terhadap situasi, perasaan, atau kondisi orang lain, sehingga ucapan atau tindakannya dinilai tidak tepat dengan keadaan.

Jadi, dalam kasus Maudy Ayunda, ketika warganet menyebutnya tone deaf, maksudnya bukan Maudy “tuli nada”, melainkan sebagian warganet menilai cara penyampaian kontennya kurang peka terhadap kondisi masyarakat yang sedang menghadapi persoalan tertentu.


Contoh Tone Deaf dalam Kehidupan Sehari-hari

1. Bercanda tentang kondisi seseorang yang sedang kesulitan

Misalnya, seseorang sedang mengalami masalah keuangan, tetapi justru ada yang bercanda dengan mengatakan, “Kalau nggak punya uang, ya tinggal cari uang.” Pernyataan seperti ini bisa dianggap tone deaf karena tidak mempertimbangkan kondisi orang tersebut.

Baca Juga: Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tone Deaf? Ini Alasan Konten Mindfulness Dikritik Warganet

2. Membahas kemewahan di tengah orang yang sedang mengalami kesulitan

Seseorang terus menceritakan barang mahal, liburan mewah, atau pengeluaran besar kepada teman yang sedang kesulitan secara finansial. Meskipun tidak selalu bermaksud buruk, situasinya dapat dianggap kurang peka.

3. Memberikan komentar yang tidak sesuai saat seseorang sedang berduka

Contohnya, ketika seseorang baru kehilangan anggota keluarga, tetapi orang lain justru membicarakan hal sepele atau membuat candaan yang tidak pada tempatnya.

4. Menganggap masalah orang lain terlalu sepele

Ucapan seperti, “Kamu terlalu memikirkan masalah itu,” atau “Orang lain juga punya masalah yang lebih berat,” dapat dianggap tone deaf karena mengabaikan perasaan dan pengalaman orang lain.

5. Membuat candaan tentang bencana atau musibah

Ketika banyak orang sedang terdampak banjir, gempa, kebakaran, atau bencana lainnya, membuat lelucon mengenai kondisi tersebut bisa dianggap tidak sensitif.

6. Mengeluh tentang hal kecil kepada orang yang sedang menghadapi masalah besar

Misalnya, seseorang mengeluh karena tidak bisa membeli barang yang diinginkan kepada teman yang sedang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Konteks percakapan membuat keluhan tersebut bisa terdengar kurang peka.

7. Memberikan nasihat tanpa memahami kondisi seseorang

Contohnya, mengatakan, “Kalau stres, jangan dipikirkan,” kepada seseorang yang sedang menghadapi masalah berat. Niatnya mungkin membantu, tetapi cara penyampaiannya bisa dianggap tone deaf karena terlalu menyederhanakan masalah.

8. Mengunggah konten yang tidak sesuai dengan situasi sekitar

Misalnya, seseorang membuat konten pesta atau pamer kemewahan ketika lingkungan sekitarnya sedang menghadapi musibah. Konten tersebut belum tentu salah, tetapi dapat dianggap tone deaf jika tidak mempertimbangkan konteks.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.