Mohammed Bin Salman: Saya Tidak Peduli Istilah Sportwashing

AKURAT.CO, Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed Bin Salman, menegaskan bahwa ia tak memedulikan istilah sportwashing (pencucian melalui olahraga) yang dituduhkan terhadap negaranya. MBS–demikian sapaannya–mengatakan bahwa Arab Saudi melakukan investasi di olahraga untuk meningkatkan pendapatan per kapita (GDP).
Hal ini disampaikan oleh Mohammed Bin Salman sehubungan dengan besarnya investasi Arab Saudi di olahraga dalam empat tahun terakhir. Di antaranya adalah dengan membeli klub Liga Primer Inggris, Newcastle United, dan merekrut pemain terbaik di Eropa ke Liga Pro Saudi pada tahun ini.
Pada saat bersamaan, Arab Saudi dihadapkan dengan tuduhan menggunakan olahraga untuk membersihkan citra mereka sebagai negara yang melakukan pelanggaran hak asasi manusia.
Baca Juga: Kebal Hukum, Mohammed bin Salman Bebas dari Pengadilan AS atas Pembunuhan Jamal Khashoggi
Tahun lalu, Arab Saudi mengeksekusi mati 81 orang dan dituduh melakukan pelecehan terhadap wanita. Juga dugaan pembunuhan jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi, pada 2018 yang menyebut Mohammed Bin Salman sebagai dalang.
“Jika sportwashing meningkatkan GDP (negara) saya satu persen, maka kami akan meneruskan sportwashing,” kata Bin Salman sebagaimana dipetik dari BBC.
“Saya tidak peduli (dengan istilah sportwashing). Saya mendapatkan satu persen pertumbuhan di GDP dari olahraga dan saya mencari 1,5 persen lagi. Sebut sesuka Anda–kami akan mendapatkan 1,5 persen itu.”
Upaya investasi Arab Saudi dilakukan dengan perusahaan penanaman modal milik negara (PIF). Perusahaan inilah yang menyuntikkan dana untuk membeli Newcastle dan membantu empat tim Liga Pro Saudi (Al Hilal, Al Nassar, Al Ahli, dan Al Ittihad) mendapatkan pemain kelas dunia dari Eropa di musim panas ini.
Baca Juga: Gelombang Uang Liga Pro Saudi Akan Bertahan Jangka Panjang
Di cabang tinju, Arab Saudi telah menjadi arena pertarungan global dalam empat tahun terakhir. Dimulai sejak tarung ulang tinju kelas berat antara Anthony Joshua dan Andy Ruiz Jr pada Desember 2019 dan akhir tahun ini Saudi bersiap menggelar laga eksebisi antara Tyson Fury dan eks juara dunia UFC, Francis Ngannou.
Mereka juga punya balap mobil paling bergengsi di dunia, yakni F1 Grand Prix Arab Saudi yang sudah digelar sejak 2021. Pembalap Mercedes, Lewis Hamilton, yang menjadi juara pada 2021 sempat menyatakan ketidaknyamanannya dengan isu pelanggaran hak asasi manusia di negara gurun Timur Tengah itu.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







