BWF Resmi Terapkan Sistem Skor 15x3, Efektivitas Pemangkasan Durasi Laga Masih Diragukan

AKURAT.CO, Keputusan Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) meresmikan sistem skor baru 15x3 mulai Januari 2027 memicu beragam reaksi. Meski langkah ini bertujuan memperpendek durasi dan meningkatkan daya tarik iklan televisi, efektivitasnya di level elite masih menyisakan tanda tanya besar.
BWF berargumen bahwa dengan poin yang lebih sedikit, intensitas pertandingan akan meningkat dan durasi menjadi lebih ringkas.
Namun, pengamat bulutangkis nasional, Broto Happy, menilai bahwa uji coba yang dilakukan selama ini belum menyentuh level pemain top dunia.
"Sejauh ini uji coba baru melibatkan kelompok junior dan turnamen level kecil. Karakteristiknya berbeda. Pemain junior sering melakukan kesalahan sendiri, sedangkan pemain elite punya akurasi dan kualitas pukulan yang jauh lebih matang," kata Broto Happy saat dihubungi Akurat.co, Rabu (29/4).
Broto Happy membandingkan situasi ini dengan peralihan dari sistem poin klasik ke sistem 21 poin rally point. Saat itu, alasan yang digunakan serupa, yakni untuk memperpendek durasi laga.
Namun kenyataannya, ketika dua pemain papan atas yang memiliki ketahanan luar biasa bertemu, durasi pertandingan tetap saja bisa menembus satu jam lebih.
"Kita lihat pemain seperti An Se-young, meski sistemnya 21 poin, durasinya tetap panjang karena kualitas permainannya ulet. Jadi, apakah sistem 15x3 benar-benar membuat waktu lebih pendek? Saya kira kita harus tunggu pembuktian tahun depan," tambahnya.
Lebih lanjut, Broto mengkritik alasan BWF yang kerap mengaku berkiblat pada dunia tenis namun hanya fokus pada urusan skor.
Menurutnya, BWF seharusnya lebih fokus pada cara menjaring sponsor kelas kakap dan meningkatkan nilai hadiah turnamen agar bulutangkis benar-benar mengglobal, bukan sekadar utak-atik durasi lewat skor.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal




