Piala Eropa Putri: Semakin Populer, Sepakbola Putri semakin Sering Alami Pelecehan Rasial

AKURAT.CO, Rasisme terhadap sepakbola putri diketahui meningkat seiring dengan kian populernya olahraga kategori tersebut. Hal ini disampaikan oleh bek Tim Nasional Inggris Putri, Lucy Bronze, di sela perhelatan Piala Eropa Putri 2025.
“Semakin besar pertandingan (sepakbola putri), semakin besar kebisingan yang datang, semakin banyak penggemar, semakin banyak kritik,” kata Lucy Bronze sebagaimana dipetik dari Channel News Asia.
“Kami jelas terbuka dengan kritik, itu sebabnya kami mencintai olahraga ini, tetapi kami tidak terbuka dengan pelecehan. Terutama di sepakbola putri, pelecehan daring (online) tampaknya semakin dan semakin parah.”
Baca Juga: Media Brasil Kecam Ballon D'Or tak Adil, Bias karena Vinicius Junior Lantang Lawan Rasisme
Pernyataan ini disampaikan oleh Lucy Bronze sehubungan dengan pengakuan salah satu rekan setimnya, Jess Carter, yang mengaku mendapatkan serangan pelecehan rasial sejak Piala Eropa Putri dimulai pada awal Juli ini.
Jess Carter sendiri adalah pemain bertahan Timnas Inggris berusia 27 tahun berkulit hitam. Carter menyebut bahwa ia menjauhi media sosial selama Piala Eropa Putri berlangsung untuk menghindari pelecehan rasial.
“Kita sudah melihatnya (pelecehan rasial) semakin banyak di stadion dan online di sepakbola putra, tetapi saya kira dengan sepakbola putri tampaknya benar-benar ditargetkan secara online,” kata Bronze.
Baca Juga: Piala Eropa Putri: Inggris Kalahkan Swedia Lewat Drama Adu Penalti, Lawan Italia di Semifinal
Jess Carter juga merupakan salah satu pemain utama The Lionesses di Piala Eropa 2025. Ia bermain sebagai starter di seluruh pertandingan yang dijalani Inggris di turnamen yang digelar di Swiss itu.
Terakhir ia membantu Inggris mengalahkan Swedia dalam adu penalti untuk mendapatkan tiket semifinal. Inggris akan menghadapi Italia di semifinal di Jenewa, Selasa (22/7).
Adapun Presiden FIFA, Gianni Infantino, menegaskan bahwa ia dan organisasinya akan mendukung Jess Carter. FIFA, kata Infantino, bahkan mengajukan bantuan untuk melindungi Carter dari serangan rasial.
“Kami berdiri bersama Jess. Kami berdiri dengan setiap pemain dan setiap orang yang mengalami pelecehan rasial,” kata Infantino.
“Tak seorang pemain pun yang harus mengalami diskriminasi dalam cara apapun, mereka seharusnya bebas untuk menjadi yang terbaik (dari diri mereka) di lapangan,” kata Infantino.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








