Karhutla Kembali Mengganas, Hotspot di Kalbar Tembus 859 Titik

AKURAT.CO Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghadapi tantangan. Setelah sempat menunjukkan tren penurunan di sejumlah wilayah prioritas, jumlah titik panas (hotspot) justru melonjak di Kalimantan Barat (Kalbar) dan Kalimantan Tengah (Kalteng).
Kondisi tersebut membuat kedua provinsi kembali menjadi fokus utama pemerintah dalam pengendalian karhutla secara nasional.
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengatakan kenaikan hotspot menjadi perhatian serius karena sebelumnya enam provinsi yang masuk dalam daftar prioritas sempat mencatat tren penurunan.
"Setelah kemarin semua 6 provinsi yang prioritas trennya turun, namun hari ini Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah menunjukkan kembali hotspot yang meningkat. Artinya, prioritas utama sekarang ini secara nasional tetap Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah," kata Raja Juli dalam keterangannya, Rabu (2/9/2026).
Data Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) Kementerian Kehutanan per 1 September menunjukkan peningkatan cukup tajam di Kalbar. Jumlah hotspot yang sebelumnya tercatat 273 titik kini mencapai 859 titik.
Kenaikan juga terjadi di sejumlah wilayah lainnya. Di Kalteng, hotspot bertambah dari 253 menjadi 623 titik. Sementara Sumatera Selatan (Sumsel) naik dari 20 menjadi 89 titik dan Kalimantan Selatan (Kalsel) dari 22 menjadi 73 titik.
Adapun Riau masih mencatat nol hotspot. Sedangkan Jambi yang sebelumnya juga berada di angka nol kini terdeteksi empat titik.
Mengantisipasi kembali meningkatnya aktivitas karhutla, Raja Juli mengatakan dirinya bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto akan bertolak ke Pontianak.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah serta aparat dan pemangku kepentingan lainnya.
"Oleh karena itu besok, kami ke Pontianak untuk bertemu kembali dengan seluruh stakeholder yang ada, dengan Pak Gubernur, Kapolda, Pangdam ya, merapatkan barisan kembali, melakukan evaluasi sekaligus membuat rencana apa yang bisa kita lakukan untuk mitigasi," ujarnya.
Menurut Raja Juli, pemerintah juga akan mengevaluasi kondisi hotspot dan fire spot yang telah melalui proses verifikasi. Langkah tersebut diharapkan dapat kembali menekan angka kebakaran di lapangan.
"Dan memastikan kembali, mendorong kembali agar angka baik itu apa namanya hotspot maupun fire spot yang sudah diverifikasi dapat turun. Jadi dua itu ya yang masih jadi masalah," katanya.
Raja Juli juga mengingatkan bahwa September merupakan periode krusial dalam pengendalian karhutla. Menurutnya, kondisi El Nino yang mencapai puncaknya pada bulan ini membuat upaya pencegahan dan penanganan harus semakin diperkuat.
"Namun sekali lagi harus dijaga secara baik. Karena sekali lagi puncak karhutla ini adalah bulan September. Ini medan perjuangan, ladang perjuangannya justru di September ini," tuturnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 7Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 8Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









