Akurat Logo

TNI Temukan 316 Titik Sumber Air untuk Jinakkan Karhutla

Ayu Rachmaningtyas | 8 September 2026, 22:24 WIB
TNI Temukan 316 Titik Sumber Air untuk Jinakkan Karhutla
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayjen TNI Muhammad Nas.

AKURAT.CO TNI menemukan sebanyak 316 titik sumber air dari sumur bor untuk mendukung operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia.

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayjen TNI Muhammad Nas, mengatakan, keterbatasan sumber air menjadi salah satu kendala dalam penanganan karhutla di lapangan.

Karena itu, jajaran TNI di sejumlah wilayah melakukan pencarian titik-titik sumber air yang dapat digunakan untuk mendukung operasi pemadaman.

"Hingga saat ini kami sampaikan sudah ditemukan atau sudah didapatkan 316 titik sumber air yang didapatkan dari sumur bor yang tersebar mulai dari wilayah Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Selatan, Provinsi Lampung maupun daerah Provinsi Riau," kata Nas dalam konferensi pers secara daring, Selasa (8/9/2026).

Menurut Nas, keberadaan ratusan titik sumber air tersebut diharapkan dapat mempermudah personel dalam melakukan pemadaman, khususnya di lokasi yang menghadapi keterbatasan akses terhadap sumber air.

Selain mengandalkan sumber air dari sumur bor, TNI juga mengerahkan kekuatan udara untuk mendukung operasi penanggulangan karhutla.

TNI Angkatan Udara saat ini mengoperasikan 13 pesawat, baik jenis fixed wing maupun rotary wing.

Selain itu, delapan helikopter disiapkan untuk mendukung operasi water bombing, operasi modifikasi cuaca (OMC), hingga patroli udara.

"Pesawat TNI AU yang saat ini beroperasi untuk mendukung kegiatan ini adalah ada 13 unit pesawat udara, baik itu fixed wing maupun rotary wing, dan 8 heli disiapkan untuk melaksanakan water bombing, operasi modifikasi cuaca maupun patroli udara," jelasnya.

TNI juga menyiapkan Tim Alfa untuk menjangkau titik-titik rawan yang sulit diakses menggunakan kendaraan darat.

"Kegiatan Tim Alfa yang disiapkan oleh Mabes TNI standby untuk menuju ke titik-titik yang rawan dan dianggap perlu dan tidak dapat dicapai oleh transportasi darat, sehingga mereka melaksanakan penerjunan ataupun fast rope ke tempat yang rawan tersebut," ujar Nas.

Baca Juga: Abu Anak Krakatau Mengarah ke Laut Hindia, Cemaran Udara Lampung-Jakarta Mulai Berkurang

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.