Dari Limbah Kulit Jeruk hingga Deterjen Refill, Anak Muda Lombok Ciptakan Bisnis Hijau dengan Dukungan Allianz
AKURAT.CO Apa jadinya jika kulit jeruk yang biasanya berakhir sebagai sampah justru diolah menjadi produk pembersih? Atau deterjen tidak lagi hanya dipikirkan sebagai produk rumah tangga, tetapi dikembangkan dengan bahan nabati, kemasan isi ulang, sekaligus memberdayakan perempuan?
Gagasan semacam itu muncul dari anak muda yang mengikuti program Ecopower di Lombok. Melalui program tersebut, bisnis hijau tidak berhenti sebagai konsep tentang lingkungan, tetapi diterjemahkan menjadi ide usaha yang berangkat dari persoalan dan potensi di sekitar masyarakat.
Secara sederhana, bisnis hijau adalah usaha yang berupaya menciptakan nilai ekonomi dengan mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosial. Dalam Ecopower, pendekatan tersebut terlihat dari ide pengolahan limbah kulit jeruk, pemanfaatan bahan baku lokal, hingga penggunaan deterjen berbahan nabati dengan sistem isi ulang.
Apa saja contoh bisnis hijau yang lahir dari Ecopower di Lombok?
Tiga ide usaha terpilih dalam Ecopower Ideation Showcase Lombok menggambarkan bentuk bisnis hijau yang berbeda. Eco Orange mengolah limbah kulit jeruk menjadi cairan pembersih dan perangkat DIY, Wayen Sehat Nusantara mengembangkan minuman jamu dengan formulasi apoteker dan bahan baku lokal, sedangkan Renjana Lombok menawarkan deterjen berbahan nabati dalam kemasan isi ulang sekaligus memberdayakan perempuan di Lombok Timur.
Ketiganya menunjukkan satu pola yang sama: ide usaha dapat berawal dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, kemudian diberi nilai tambah melalui inovasi produk dan model bisnis.
Mengapa bisnis hijau di Lombok bisa berawal dari masalah sehari-hari?
Salah satu kesalahpahaman tentang bisnis berkelanjutan adalah anggapan bahwa inovasinya harus selalu menggunakan teknologi canggih. Padahal, tiga ide yang muncul dari Ecopower justru memperlihatkan pendekatan yang lebih sederhana.
Kulit jeruk, misalnya, merupakan benda yang mudah ditemukan dalam aktivitas konsumsi sehari-hari. Ketika dianggap sebagai sampah, nilainya berhenti setelah buah dikonsumsi. Namun, ketika diposisikan sebagai bahan baku, muncul kemungkinan untuk menciptakan produk baru.
Logika serupa terlihat pada deterjen. Produk tersebut bukan barang baru di pasar. Inovasinya justru terletak pada pilihan bahan dan sistem distribusi, yakni penggunaan bahan nabati dan kemasan isi ulang. Artinya, inovasi tidak selalu harus menciptakan kategori produk baru; perubahan dapat dilakukan pada cara sebuah produk dibuat, digunakan, atau dikemas.
Di titik ini, ekonomi sirkular menjadi relevan. Pendekatan tersebut berupaya mempertahankan nilai material selama mungkin sehingga sesuatu yang sebelumnya dianggap akhir dari sebuah siklus dapat kembali masuk ke proses produksi.
Bagaimana Eco Orange mengubah limbah kulit jeruk menjadi peluang bisnis?
Eco Orange yang dikembangkan Nadia Utami menjadi salah satu contoh paling jelas mengenai bagaimana limbah dapat memperoleh nilai ekonomi baru.
Gagasannya adalah mengolah limbah kulit jeruk menjadi cairan pembersih dan perangkat DIY. Dengan demikian, bahan yang sebelumnya berpotensi dibuang diarahkan menjadi bagian dari produk yang memiliki fungsi.
Secara sederhana, modelnya dapat dibaca sebagai:
kulit jeruk → pengolahan → produk pembersih → nilai ekonomi baru.
Hal menarik dari model tersebut bukan semata-mata penggunaan limbah. Nilai bisnis muncul ketika pengolahan itu menghasilkan produk yang memiliki kegunaan bagi konsumen.
Inilah bagian yang sering luput dalam pembicaraan mengenai bisnis ramah lingkungan. Menggunakan bahan yang disebut “hijau” belum otomatis membuat sebuah usaha memiliki model bisnis yang kuat. Produk tetap harus menjawab kebutuhan, memiliki pengguna yang jelas, dan dapat diproduksi secara berkelanjutan.
Dalam konteks Eco Orange, tantangan berikutnya bagi pengembangan usaha adalah bagaimana memastikan ketersediaan bahan baku, konsistensi kualitas produk, biaya pengolahan, serta penerimaan konsumen. Data mengenai aspek-aspek tersebut tidak tersedia dalam narasi program, sehingga belum dapat disimpulkan seberapa besar skala komersial bisnisnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








