Patung Hewan Berusia 11.500 Tahun di Turki Ungkap Cara Manusia Prasejarah Bercerita

AKURAT.CO Seperangkat patung batu berbentuk rubah, burung nasar, dan babi hutan yang ditemukan di Turki tenggara memberi gambaran baru tentang bagaimana manusia prasejarah mulai bercerita.
Patung berusia sekitar 11.500 tahun itu ditemukan di situs arkeologi Karahantepe, salah satu permukiman Neolitikum tertua di dunia. Para arkeolog menyebut penemuan ini sebagai contoh pertama dari objek yang disusun sedemikian rupa untuk menyampaikan sebuah narasi.
“Menceritakan sebuah kisah mengingatkan kita pada peran pendongeng, dan ketika kisah itu diukir di batu, hal tersebut menegaskan adanya seniman pada masa itu. Penemuan ini juga membuktikan bahwa komunitas kala itu memiliki ingatan bersama,” ujar Necmi Karul, kepala penggalian Karahantepe.
Artefak yang ditemukan akhir tahun lalu itu kini untuk pertama kalinya dipamerkan di Kompleks Kepresidenan di Ankara. Patung-patung kecil setinggi 3,5 cm itu ditemukan dalam wadah batu berlapis, dengan kepala masing-masing hewan ditempatkan dalam cincin batu kapur. Kerumitan susunan ini diyakini sebagai bentuk komposisi naratif tiga dimensi—berbeda dengan artefak prasejarah lain yang umumnya berupa gambar dua dimensi.
Menurut Karul, penemuan ini menunjukkan perubahan besar dalam cara manusia bercerita pada masa Neolitikum, ketika masyarakat mulai menetap dan meninggalkan budaya berburu-meramu. “Narasi-narasi inilah yang menjadi ikatan sosial bagi tatanan baru tersebut,” jelasnya, menyebut patung-patung itu sebagai salah satu temuan terpenting dari perspektif prasejarah.
Situs Neolitikum Karahantepe
Karahantepe terletak di provinsi Sanliurfa dan termasuk dalam proyek penelitian arkeologi besar bernama Tas Tepeler atau “Bukit Batu”, yang juga mencakup Göbeklitepe—situs Warisan Dunia UNESCO yang dianggap sebagai kuil tertua di dunia.
Sejak penggalian dimulai pada 2019, baru sebagian kecil dari lahan seluas 14 hektare di Karahantepe yang diteliti. Di sana, arkeolog juga menemukan pilar berukir relief, kompleks bangunan melingkar, serta pahatan kepala manusia di dinding batu.
Karul berharap situs ini nantinya bisa mendapat pengakuan UNESCO agar lebih dikenal luas. “Selama ini manusia modern selalu merasa lebih unggul dari masa lalu. Namun Karahantepe menunjukkan bahwa 11.000 hingga 12.000 tahun lalu, manusia sudah sangat maju dalam seni dan penceritaan,” katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







