Warga Swiss di Perbatasan Prancis Dilarang Sekolah di Geneva, 2.000 Anak Terdampak

AKURAT.CO Keputusan otoritas Geneva untuk melarang anak-anak yang tinggal di wilayah perbatasan Prancis bersekolah di kota Swiss tersebut memicu kemarahan banyak keluarga. Lebih dari 2.000 anak kini harus bersekolah di Prancis, menambah beban sekolah-sekolah di wilayah perbatasan.
Kebijakan yang akan berlaku pada tahun ajaran September 2026 itu diumumkan sejak Juni lalu. Pemerintah daerah Geneva menyebut keputusan ini diambil karena tekanan demografis dan keterbatasan kapasitas sekolah di wilayahnya. Kebijakan tersebut juga diperkirakan akan menghemat lebih dari 27 juta franc Swiss (sekitar Rp490 miliar) dalam empat tahun ke depan.
Namun, keputusan itu menuai kritik tajam, terutama dari warga Swiss yang tinggal di wilayah Prancis karena harga rumah di Geneva tidak terjangkau. Banyak dari mereka terpaksa pindah ke desa-desa di seberang perbatasan namun tetap bekerja di kota tersebut.
“Kami menjadi warga Swiss kelas dua,” kata Joana (35 tahun), seorang tenaga kesehatan dan ibu dua anak yang kini tinggal di Prancis. Ia mengaku pindah dari pusat kota Geneva karena biaya hidup yang tinggi, namun tetap berharap anak-anaknya bisa bersekolah di Swiss.
Geneva merupakan salah satu kota termahal di dunia dan secara geografis hampir seluruhnya dikelilingi wilayah Prancis. Tak ada satu pun titik di Kanton Geneva yang berjarak lebih dari 5,5 kilometer dari perbatasan Prancis. Sekitar 115.000 orang bekerja di Geneva tetapi tinggal di Prancis, di mana biaya hidup jauh lebih rendah.
Wali Kota Bossey, Jean-Luc Pecorini, mengatakan kebijakan itu “abrupt” atau mendadak, dan membuat banyak pemerintah desa di Prancis harus menanggung beban baru. “Kami tidak senang,” ujarnya. Ia menambahkan, membuka satu ruang kelas baru akan menelan biaya sekitar €80.000 (Rp1,4 miliar).
Menurut sumber yang mengetahui kebijakan tersebut, sekitar 2.500 siswa akan terdampak pada tahap awal, sebagian besar merupakan warga negara Swiss. Total beban finansial bagi Prancis diperkirakan mencapai €60 juta untuk infrastruktur pendidikan, serta tambahan €15 juta per tahun untuk biaya operasional.
Beberapa orang tua telah mengajukan gugatan hukum dan petisi daring menentang kebijakan ini. Seorang ayah empat anak bernama Emmanuel menyebut keputusan pemerintah Geneva “diskriminatif” karena pekerja lintas batas tetap membayar pajak di Swiss, sementara sebagian kecil dialihkan ke Prancis.
Sementara itu, otoritas regional Auvergne-Rhône-Alpes di Prancis menyatakan tidak dapat lagi menerima kebijakan sepihak dari Geneva. “Geneva mengekspor beban pendidikan ke Prancis, padahal sekolah kami sudah menghadapi tekanan kapasitas yang berat,” demikian pernyataan resmi mereka.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 4Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 520 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 8Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026






