Imbauan China Picu Gelombang Pembatalan Wisata, Jepang Terancam Alami Kerugian Besar

AKURAT.CO Jepang berpotensi kehilangan pendapatan pariwisata hingga US$1,2 miliar setelah wisatawan asal China membatalkan rencana perjalanan akibat memburuknya ketegangan diplomatik antara kedua negara. Laporan Bloomberg menyebutkan sekitar 30% dari 1,44 juta perjalanan China–Jepang yang dijadwalkan hingga Desember telah dibatalkan menyusul imbauan pemerintah China agar warganya menghindari bepergian ke Jepang.
Data dari firma pemantau perjalanan China Trading Desk menunjukkan sebagian besar pembatalan terjadi pada keberangkatan dalam waktu dekat. CEO perusahaan tersebut, Subramania Bhatt, menyebut sekitar 70% penurunan berasal dari perjalanan yang dibatalkan atau ditunda secara mendadak, sementara pemesanan baru praktis berhenti.
Bhatt memperkirakan gelombang pembatalan itu telah menghapus sedikitnya US$500 juta dari potensi belanja turis China di Jepang. Jika tren ini berlanjut, kerugian diperkirakan dapat lebih dari dua kali lipat pada akhir 2025. Turis China diketahui menghabiskan lebih dari US$900 juta per bulan saat berkunjung ke Jepang.
Menurut Bhatt, anjloknya minat pelancong China terjadi setelah Beijing mengeluarkan peringatan perjalanan yang secara eksplisit menganjurkan warganya tidak melakukan perjalanan ke Jepang. “Ini adalah penurunan paling tajam yang kami lihat dalam beberapa tahun terakhir,” ujarnya kepada Bloomberg.
Ketegangan diplomatik meningkat setelah pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang mengaitkan potensi konflik di Taiwan dengan kemungkinan pengerahan militer Jepang. Pernyataan itu memicu respons keras dari China, termasuk penangguhan impor produk perikanan dari Jepang.
Industri pariwisata, yang menjadi penopang pemulihan ekonomi Jepang pascapandemi, kini merasakan tekanan besar. Agen perjalanan di China melaporkan imbauan pemerintah itu direspons serius oleh masyarakat. Paket tur kelompok—yang selama ini menjadi andalan perjalanan outbound China—menyumbang sekitar setengah dari pembatalan, sementara perjalanan individu menyumbang sekitar 22%.
Maskapai besar China dan Cathay Pacific juga ikut mempercepat penurunan permintaan dengan membebaskan biaya pembatalan untuk rute Jepang. Bloomberg menyebut setidaknya dua biro perjalanan milik negara telah membatalkan pemesanan grup yang dibuat berbulan-bulan sebelumnya untuk menghindari risiko kebijakan.
Padahal sebelum peringatan tersebut, pemesanan perjalanan China ke Jepang hingga 2025 tercatat 25% lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. Kini angkanya berada di bawah level 2024. Tokyo dan Osaka menjadi wilayah yang paling terdampak, terutama untuk penerbangan dari Shanghai, Beijing, dan Guangzhou.
Dampak penurunan tidak hanya dirasakan hotel dan agen perjalanan. Turis China menyumbang sekitar seperempat dari total kedatangan ke Jepang dan 27% dari belanja wisatawan mancanegara pada Juli–September. Dengan nilai yen yang lemah, wisatawan China berperan besar dalam melonjaknya pembelian barang mewah di Jepang.
Namun, China Trading Desk memperkirakan belanja barang mewah bisa merosot hingga US$600 juta tahun depan jika penurunan kunjungan berlanjut. Dalam jangka panjang, kerugian kumulatif dapat mencapai US$9 miliar apabila wisatawan China terus absen hingga 2026.
Meski demikian, Bhatt menyebut ada sedikit sinyal positif. Meskipun rencana liburan akhir tahun banyak dibatalkan, pemesanan untuk Januari 2026 sejauh ini masih stabil. “Ini menunjukkan bahwa banyak wisatawan berharap situasinya membaik pada awal tahun,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






