Gelombang Panas Picu Ancaman Kebakaran Hutan, Melbourne Hadapi Suhu Terpanas Dalam 17 Tahun

AKURAT.CO Gelombang panas ekstrem melanda wilayah tenggara Australia dan meningkatkan risiko kebakaran hutan. Kota Melbourne diperkirakan mencatat suhu terpanas dalam hampir 17 tahun pada Selasa (27/1), sementara ratusan warga di daerah pedesaan diperintahkan segera mengungsi.
Biro Meteorologi Australia memperkirakan suhu di Melbourne dapat mencapai 45 derajat Celsius. Kondisi gelombang panas parah hingga ekstrem diprediksi memuncak pada Selasa dan Rabu, sebelum berangsur mereda pada akhir pekan.
Gelombang panas ini meningkatkan tingkat bahaya kebakaran di Negara Bagian Victoria, wilayah terpadat kedua di Australia. Kebakaran hutan yang bergerak cepat di kawasan Otways telah melahap sekitar 10.000 hektare lahan.
Otoritas setempat memperingatkan angin kencang yang diperkirakan bertiup pada sore hari dapat memperparah penyebaran api dan mengancam permukiman warga.
“Perubahan kondisi sekitar pukul 17.00 dengan hembusan angin yang sangat kuat kemungkinan akan menyebabkan kerusakan paling besar dan mendorong api semakin meluas,” kata Kepala Country Fire Authority, Jason Heffernan, kepada ABC News.
Layanan darurat telah mendatangi sekitar 1.100 rumah dan mengirimkan pesan peringatan ke hampir 10.000 nomor telepon untuk meminta warga segera meninggalkan wilayah terdampak.
Pemerintah Victoria juga memberlakukan larangan total aktivitas pemicu api di seluruh wilayah negara bagian tersebut guna menekan risiko munculnya kebakaran baru.
Sementara itu, penyelenggara turnamen tenis Australian Open di Melbourne menyatakan akan menerapkan protokol cuaca panas ekstrem. Pertandingan di lapangan luar dan penutupan atap stadion akan disesuaikan dengan kondisi suhu, sementara pertandingan tenis kursi roda ditunda hingga Rabu.
Di wilayah pedalaman, suhu diperkirakan menembus kisaran 48 hingga 49 derajat Celsius. Kota Ouyen, yang berjarak sekitar 440 kilometer barat laut Melbourne dan berpenduduk sekitar 1.000 jiwa, diperkirakan mengalami suhu hingga 49 derajat Celsius.
Seorang pedagang daging lokal, Nathan Grayling, mengatakan sebagian besar warga memilih tetap berada di dalam rumah untuk menghindari panas ekstrem. Ia berencana menjaga tokonya tetap gelap dan sejuk.
“Kalau semua pekerjaan selesai lebih cepat, mungkin kami tutup lebih awal dan pergi ke pub lokal untuk minum bir,” ujarnya kepada ABC Radio.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








