Akurat Logo

PBB: Rata-rata 47 Perempuan dan Anak Perempuan Gaza Tewas Setiap Hari oleh Israel

Fitra Iskandar | 24 April 2026, 13:49 WIB
PBB: Rata-rata 47 Perempuan dan Anak Perempuan Gaza Tewas Setiap Hari oleh Israel
Ilustrasi situasi Gaza. Foto: Unsplash

AKURAT.CO Laporan terbaru UN Women mengungkap bahwa lebih dari 38.000 perempuan dan anak perempuan tewas di Gaza sepanjang Oktober 2023 hingga Desember 2025.

Angka ini mencakup lebih dari separuh total korban jiwa yang dilaporkan oleh Kementerian Kesehatan Gaza, yang mencatat sekitar 71.200 kematian sejak operasi militer Israel dimulai menyusul serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023.

Laporan tersebut menegaskan bahwa perempuan, anak-anak, dan lansia menyumbang lebih dari setengah korban tewas. Namun, jumlah sebenarnya diperkirakan lebih tinggi akibat keterbatasan evakuasi jenazah serta runtuhnya sistem kesehatan dan pelaporan.

Infrastruktur Hancur, Korban Meningkat

Puncak korban jiwa di kalangan perempuan dan anak-anak terjadi bersamaan dengan penghancuran besar-besaran infrastruktur sipil. Rumah, sekolah, dan tempat penampungan menjadi sasaran, terutama pada fase awal konflik.

Selain korban jiwa, hampir 11.000 perempuan dan anak perempuan dilaporkan mengalami disabilitas permanen. Meski gencatan senjata telah diberlakukan, kondisi di lapangan tetap memburuk. Sejak Oktober, lebih dari 750 warga Palestina tewas dan lebih dari 2.000 lainnya terluka, dengan Israel dan Hamas saling menyalahkan atas pelanggaran kesepakatan.

Perempuan Terdampak Paling Berat

Kepala Aksi Kemanusiaan UN Women, Sofia Calltorp, menyatakan bahwa perempuan dan anak perempuan terdampak secara tidak proporsional dalam konflik. Selain kekerasan langsung, mereka juga menghadapi runtuhnya sistem penopang kehidupan, termasuk layanan kesehatan dan bantuan sosial.

Distribusi bantuan kemanusiaan yang terbatas membuat banyak warga kekurangan makanan, obat-obatan, serta kebutuhan dasar seperti produk kebersihan menstruasi. Kerusakan fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit dan layanan maternitas, turut membatasi akses terhadap layanan kesehatan reproduksi.

Perubahan Struktur Rumah Tangga

Perang juga mengubah struktur sosial di Gaza. UN Women mencatat lebih dari 58.600 rumah tangga kini dipimpin perempuan, atau sekitar 14 persen dari total, meningkat dari 9 persen pada 2023. Banyak perempuan kini memikul tanggung jawab sebagai pencari nafkah sekaligus pengasuh keluarga.

Lebih dari 1,9 juta warga Palestina telah mengungsi, dan sekitar 60 persen kehilangan tempat tinggal, menurut penilaian bersama Bank Dunia, Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan Uni Eropa.

Hambatan Akses dan Ketimpangan Gender

Rumah tangga yang dipimpin perempuan menghadapi hambatan lebih besar dalam akses perumahan dan hak atas tanah. Ketimpangan hukum dalam kepemilikan properti membuat perempuan, terutama janda, kesulitan mendapatkan hak atas aset keluarga.

Lebih dari 50 persen rumah sakit tidak berfungsi dan hampir seluruh sekolah rusak atau hancur. Hilangnya akses pendidikan dinilai memperparah ketimpangan gender, terutama bagi anak perempuan yang berisiko kehilangan peluang ekonomi di masa depan.

Seruan untuk Aksi Kemanusiaan

UN Women menyerukan agar gencatan senjata dijalankan sesuai hukum internasional dan hak asasi manusia, disertai distribusi bantuan tanpa hambatan. Lembaga itu juga menekankan pentingnya upaya pemulihan yang responsif gender.

Perempuan dan organisasi yang dipimpin perempuan dinilai memiliki peran penting dalam respons kemanusiaan, pemulihan komunitas, serta pembangunan perdamaian jangka panjang di Gaza.

Sumber: Euronews

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.