Akurat Logo

Harga Minyak Dunia Anjlok Hampir 5 Persen, Ini Penyebabnya

Nurma Nafisa Faradilla | 25 Mei 2026, 12:31 WIB
Harga Minyak Dunia Anjlok Hampir 5 Persen, Ini Penyebabnya
Minyak bumi. (Ilustrasi/ Pixabay)

AKURAT.CO Harga minyak dunia kembali bergerak melemah pada perdagangan awal pekan ini. Penurunan terjadi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberi sinyal bahwa pembicaraan dengan Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz menunjukkan perkembangan positif.

Pasar merespons optimisme tersebut dengan aksi jual besar-besaran pada kontrak minyak mentah global. Investor menilai potensi meredanya konflik di Timur Tengah dapat membantu memulihkan pasokan energi dunia yang sempat terganggu dalam beberapa bulan terakhir.

Baca Juga: Anti Lemot! 45 Link Mirror Pengumuman UTBK SNBT 2026, Cek Hari Ini Jam 15.00 WIB

Dikutip dari Yahoo Finance, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun sekitar 5 persen ke level USD 91,65 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent juga terkoreksi sekitar 5 persen dan berada di kisaran USD 98,30 per barel.

Pelemahan ini memperpanjang tren penurunan harga minyak sepanjang pekan lalu. Secara mingguan, minyak mentah AS tercatat turun lebih dari 8 persen, sedangkan Brent melemah lebih dari 5 persen.

Meski sempat menguat pada perdagangan sebelumnya, sentimen pasar berubah setelah muncul harapan baru terkait negosiasi antara AS dan Iran.

Dalam pernyataan terbarunya di media sosial, Trump mengatakan proses negosiasi berlangsung secara konstruktif dan pihak AS tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan.

Menurutnya, waktu masih memberi keuntungan bagi Amerika Serikat sehingga pembicaraan akan dilakukan secara hati-hati hingga tercapai kesepakatan resmi.

Sebelumnya, Trump juga mengungkapkan bahwa kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz dan sejumlah isu lain sebenarnya sudah mendekati tahap finalisasi.

Pernyataan tersebut langsung memengaruhi pasar minyak global karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi energi terpenting di dunia.

Baca Juga: Diskon Tiket Dufan Spesial Libur Idul Adha 2026, Ini Cara Beli 1 Gratis 1

Selama ini, selat hormuz menjadi jalur utama pengiriman minyak dari Timur Tengah ke berbagai negara. Sebelum konflik memanas, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati kawasan tersebut.

Namun sejak awal Maret 2026, Iran memberlakukan blokade de facto terhadap kapal-kapal yang melintas di jalur tersebut. Kapal yang ingin melewati Selat Hormuz harus memperoleh izin atau menghadapi risiko serangan.

Situasi itu membuat distribusi minyak dunia terganggu dan memicu lonjakan harga energi global dalam beberapa bulan terakhir.

Harga minyak bahkan sempat melonjak lebih dari 30 persen sejak konflik antara AS, Israel, dan Iran memanas pada akhir Februari 2026.

Walau pasar mulai optimistis terhadap peluang perdamaian, investor tetap berhati-hati. Pasalnya, negosiasi antara AS dan Iran sebelumnya beberapa kali menunjukkan kemajuan tetapi berakhir tanpa kesepakatan final.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, juga menegaskan bahwa kesepakatan damai akan sulit tercapai jika Iran tetap ingin menguasai lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz secara permanen.

Analis pasar dari ING menilai ketidakpastian masih menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan harga minyak dunia saat ini. Pelaku pasar masih menunggu kepastian apakah kedua negara benar-benar dapat mencapai kesepakatan permanen atau justru kembali mengalami kebuntuan negosiasi.

Dampak Penurunan Harga Minyak

Turunnya harga minyak dunia berpotensi memberi dampak positif terhadap harga energi dan bahan bakar di berbagai negara, termasuk Indonesia. Jika tren pelemahan berlanjut, tekanan terhadap harga BBM global dapat mulai mereda.

Baca Juga: Daftar Tanggal Merah Juni 2026, Cek Tanggal Merah dan Cuti Bersama

Namun demikian, pasar energi masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Sedikit perubahan situasi dapat kembali memicu lonjakan harga minyak dalam waktu singkat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.