Didukung Konsorsium AS, Irak dan Suriah Hidupkan Kembali Jalur Pipa Minyak yang Mati 25 Tahun

AKURAT.CO Irak dan Suriah menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk merehabilitasi dan membangun kembali jaringan pipa minyak mentah strategis yang menghubungkan ladang minyak Irak dengan pesisir Laut Mediterania di Suriah. Kesepakatan tersebut diteken di Washington dalam pertemuan Dewan Bisnis AS-Irak dan disaksikan langsung oleh Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright.
Menurut kantor berita Irak, proyek ini didukung oleh konsorsium yang dipimpin Amerika Serikat dan menjadi salah satu langkah penting untuk mengaktifkan kembali jalur ekspor minyak yang telah berhenti beroperasi sejak invasi Irak pada 2003.
Pipa Haditha-Baniyas Berkapasitas 2 Juta Barel per Hari
Pipa minyak tersebut membentang dari wilayah Haditha di Irak menuju Pelabuhan Baniyas di pesisir Suriah. Pada tahap awal, jalur ini ditargetkan mampu mengalirkan hingga 2 juta barel minyak mentah per hari, menjadikannya salah satu koridor ekspor energi terbesar di kawasan.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyambut baik kesepakatan tersebut dan menyebut proyek itu sebagai infrastruktur prioritas yang memiliki nilai strategis bagi hubungan bilateral maupun stabilitas kawasan.
Perusahaan energi asal Amerika Serikat, Chevron, dijadwalkan menjadi pelaksana utama proyek rehabilitasi pipa tersebut.
Alternatif Jalur Ekspor di Tengah Ketegangan Selat Hormuz
Kesepakatan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, menyusul memanasnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Gangguan terhadap lalu lintas kapal tanker di jalur tersebut mendorong negara-negara produsen minyak mencari rute ekspor alternatif yang lebih aman.
Aktivasi kembali pipa Haditha-Baniyas dipandang dapat mengurangi ketergantungan Irak terhadap pengiriman minyak melalui Teluk Persia sekaligus membuka akses langsung menuju Laut Mediterania.
Pererat Hubungan Irak-Suriah
Selain berdampak pada sektor energi, penandatanganan MoU ini juga dinilai menjadi sinyal membaiknya hubungan diplomatik antara Irak dan Suriah setelah bertahun-tahun diwarnai konflik dan ketidakstabilan kawasan.
Kesepakatan tersebut juga mencerminkan strategi Washington untuk memperkuat infrastruktur energi regional serta memperluas kerja sama ekonomi dengan Baghdad.
Dalam kunjungan yang sama, Irak juga diperkirakan akan menandatangani sekitar 50 perjanjian kerja sama dengan Amerika Serikat dengan nilai investasi mencapai US$60 miliar, mencakup sektor energi, infrastruktur, dan pembangunan ekonomi.
Sumber: Yenisafak
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






