Utusan Korea Selatan Mengecam Serangan Houthi, Mendesak Sanksi PBB yang Lebih Tegas

AKURAT.CO Korea Selatan mengecam serangan mematikan yang baru-baru ini dilakukan oleh kelompok pemberontak Houthi dari Yaman, yang menargetkan infrastruktur sipil serta mengancam pelayaran komersial di Laut Merah. Korea juga mendesak Dewan Keamanan PBB untuk memperketat sanksi guna memutus pasokan senjata kepada kelompok tersebut.
Duta Besar Korea untuk PBB, Cha Ji-hoon, menyampaikan pernyataan ini dalam debat Dewan Keamanan mengenai Timur Tengah pada hari Kamis. Ia memperingatkan bahwa serangan-serangan tersebut menimbulkan ancaman serius terhadap perdamaian global, keamanan maritim, dan pasokan energi.
"Kami mengecam serangan-serangan semacam itu dan mendesak penghentian segera atas semua serangan terhadap warga sipil," ujar Cha dalam debat tersebut. "Kami meminta dewan ini untuk memperkuat sanksi guna memutus pasokan senjata ke kelompok Houthi secara efektif."
Cha menyatakan bahwa serangan Houthi baru-baru ini terhadap infrastruktur sipil dan ancaman terhadap pelayaran komersial di Laut Merah telah menciptakan "risiko besar bagi perdamaian global, serta keamanan maritim dan energi."
Serangan tersebut mencakup dua peristiwa berturut-turut yang menyasar Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pekan lalu, yang semakin meningkatkan ketegangan di Timur Tengah.
Menurut laporan media asing, serangan pertama yang terjadi pada hari Sabtu menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya, sementara serangan kedua pada hari berikutnya menewaskan satu orang dan melukai 11 orang.
Kementerian Luar Negeri Korea di Seoul juga mengecam serangan-serangan tersebut pada hari Rabu, dengan menegaskan bahwa "serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil sama sekali tidak dapat diterima."
Cha juga mengungkapkan kekhawatirannya terkait ancaman berkelanjutan terhadap kebebasan bernavigasi di Selat Hormuz, serta menyerukan upaya diplomatik baru untuk menjamin keamanan pelayaran melalui jalur air yang memiliki nilai strategis penting tersebut.
"Serangan terhadap kapal-kapal dagang, serta penerapan pungutan tidak resmi dan biaya diskriminatif sebagai syarat perdamaian, adalah tindakan yang tidak dapat diterima dan bertentangan dengan hukum internasional," tegas sang duta besar.
Menyinggung ketidakstabilan yang lebih luas di Timur Tengah, Cha mendesak semua pihak untuk memenuhi komitmen mereka berdasarkan rencana perdamaian Gaza, memastikan penyaluran bantuan kemanusiaan ke Gaza tanpa hambatan, serta menghentikan permusuhan di Lebanon.
Sumber: Korea Herald
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK





