Jumlah Warga Israel yang Kembali Alami Penurunan Tajam, Hampir 1 Juta Tinggal di Luar Negeri

AKURAT.CO Jumlah warga Israel yang kembali ke negaranya setelah tinggal di luar negeri mengalami penurunan tajam. Data yang dipaparkan dalam rapat Komite Knesset untuk Imigrasi, Penyerapan dan Urusan Diaspora pada Senin menunjukkan, hanya 4.483 warga Israel yang kembali pada 2025, turun 58 persen dibandingkan 10.903 orang pada 2009.
Pusat Riset dan Informasi Knesset menyebut sekitar 141.000 warga Israel kembali ke negaranya sepanjang 2005-2024, atau rata-rata sekitar 7.000 orang per tahun. Pada saat yang sama, perkiraan yang disampaikan dalam rapat menunjukkan hampir 1 juta warga Israel kini tinggal di luar negeri.
Amerika Serikat menjadi negara asal terbesar bagi warga Israel yang kembali, dengan porsi mencapai 45 persen. Berikutnya adalah Inggris sebesar 6 persen, Kanada 5 persen dan Prancis 4 persen. Jerman, Rusia, Rumania dan Ukraina masing-masing menyumbang sekitar 3 persen, sementara Australia, Italia dan Moldova masing-masing 2 persen.
Ketua Komite Gilad Kariv menilai pemerintah Israel belum serius menangani meningkatnya emigrasi. Ia mengatakan pemerintah seharusnya membuat program lima tahun untuk mendorong warga Israel di luar negeri kembali. Menurut Kariv, program serupa pernah dibuat pada 2010 tetapi tidak diperbarui. Ia juga mengkritik tidak adanya lembaga khusus yang bertanggung jawab menangani persoalan emigrasi.
Eksodus juga terjadi di sektor kesehatan. Profesor Itai Ater dari Universitas Tel Aviv mengatakan semakin banyak dokter meninggalkan Israel, sementara jumlah dokter yang kembali justru menurun. Studi Universitas Tel Aviv yang diberitakan Haaretz mencatat sedikitnya 1.370 dokter meninggalkan Israel pada 2023-2025, termasuk banyak dokter berpengalaman. Kondisi ini dinilai mengkhawatirkan karena rumah sakit Israel juga menghadapi persoalan kekurangan tenaga medis.
Data lain menunjukkan fenomena tersebut semakin meluas. Studi Universitas Tel Aviv mencatat 268.509 warga Israel meninggalkan negara itu selama setidaknya tiga bulan pada periode 2023-2025, yang disebut sebagai angka rekor oleh lembaga penyiaran publik KAN. Sejumlah laporan mengaitkan meningkatnya emigrasi dengan dampak perang Gaza, tingginya biaya hidup serta krisis politik terkait upaya pemerintah melakukan perubahan terhadap sistem peradilan.
Survei Kantar untuk KAN yang dirilis 9 Agustus juga menunjukkan hampir satu dari lima warga Israel mempertimbangkan untuk pindah ke luar negeri dalam dua tahun terakhir. Di kalangan warga kaya, laju emigrasi bahkan disebut meningkat dua kali lipat antara 2019 dan 2024. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi Israel karena bukan hanya jumlah penduduk yang keluar meningkat, tetapi tenaga profesional seperti dokter dan kelompok berpenghasilan tinggi juga ikut meninggalkan negara tersebut.
Sumber: AA
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








