Menurut Lebih dari 100 Organisasi, Gencatan Senjata Gaza hanya Ada di Atas Kertas

AKURAT.CO Setahun setelah kesepakatan gencatan senjata diumumkan, krisis kemanusiaan di Jalur Gaza masih berlangsung. Lebih dari 100 organisasi kemanusiaan, hak asasi manusia, dan masyarakat sipil menyatakan gencatan senjata belum menghentikan serangan Israel. Lebih dari 1.400 warga Palestina, termasuk sedikitnya 327 anak-anak, dilaporkan tewas akibat serangan, penembakan, dan operasi militer Israel selama periode tersebut.
Selain korban jiwa, blokade bantuan kemanusiaan ke Gaza dan pembatasan masuknya alat berat serta bahan bangunan menghambat upaya pemulihan. Ribuan keluarga masih kehilangan tempat tinggal, sementara banyak korban yang tertimbun reruntuhan belum dapat dievakuasi karena keterbatasan peralatan penyelamatan.
Koalisi organisasi tersebut memperingatkan bahwa penderitaan warga Gaza tidak boleh dianggap sebagai keadaan normal hanya karena kesepakatan gencatan senjata telah dicapai. Mereka mendesak pemerintah internasional menggunakan pengaruhnya untuk menghentikan serangan, memperlancar bantuan, dan memastikan proses rekonstruksi dapat dimulai.
Serangan Berlanjut, Warga Gaza Terdesak
Mohsen Abu Ramadan, anggota dewan Palestinian NGO Network, mengatakan organisasi lokal Palestina terus menangani kebutuhan warga meski kantor mereka hancur, staf mengungsi, dan anggaran semakin terbatas.
Menurutnya, organisasi lokal dan nasional tetap menjadi garda terdepan dalam penanganan krisis. Namun, mereka membutuhkan perlindungan dari serangan dan pembatasan serta dukungan pendanaan langsung yang fleksibel dari para donor.
Organisasi-organisasi tersebut juga menyoroti pergeseran Yellow Line, garis yang menjadi batas penarikan pasukan dalam kesepakatan. Menurut pernyataan mereka, militer Israel telah menggeser garis itu lebih jauh ke dalam wilayah Gaza sehingga ruang hidup warga Palestina semakin menyempit dan padat.
CEO Save the Children Inger Ashing mengatakan gencatan senjata tidak berarti jika anak-anak masih terbunuh dan keluarga tidak dapat membangun kembali kehidupan mereka.
Ia menyebut hampir setiap hari terdapat satu anak yang terbunuh sejak gencatan senjata diumumkan. Pemerintah yang mendukung kesepakatan tersebut diminta memastikan anak-anak memperoleh makanan, layanan kesehatan, tempat tinggal, dan pendidikan.
Lebih dari 80 Persen Bangunan Gaza Rusak
Citra satelit terbaru menunjukkan luasnya kerusakan akibat operasi militer Israel. Sejumlah permukiman rata dengan tanah, rumah-rumah hancur, dan lahan pertanian rusak. Lebih dari 80 persen bangunan di Gaza dilaporkan mengalami kerusakan, termasuk sekitar dua pertiga yang hancur.
Menjelang musim dingin, ratusan ribu keluarga masih bertahan di tenda, tempat penampungan darurat, atau rumah yang rusak. Mereka menghadapi ancaman suhu dingin, angin kencang, dan banjir untuk musim dingin keempat sejak perang berlangsung.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







