Kenapa Banyak Orang Membeli Wearable, Tapi Akhirnya Jarang Dipakai?

AKURAT.CO Smartwatch dan fitness tracker kini menawarkan banyak fungsi, seperti menghitung langkah, memantau detak jantung, merekam olahraga, hingga memantau tidur. Namun, banyaknya fitur tidak selalu membuat perangkat terus digunakan setiap hari.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru dalam penggunaan wearable. Dikutip dari WIRED, Kamis (3/9/2026), sekitar sepertiga pembeli fitness tracker berhenti menggunakannya dalam enam bulan.
Masalahnya, pengguna bisa menerima lebih banyak data daripada yang benar-benar dibutuhkan. Setelah rasa penasaran di awal hilang, informasi seperti langkah, kalori, detak jantung dan skor tidur bisa terasa monoton.
Tantangan dalam mengubah data kesehatan juga menjadi informasi yang mudah dipahami dan berguna. Data yang banyak belum tentu membantu jika pengguna tidak tahu tindakan apa yang perlu dilakukan berdasarkan informasi tersebut.
Pada akhirnya, memakai wearable juga membutuhkan kebiasaan baru. Jika manfaatnya terasa tidak sebanding dengan usaha yang diperlukan, smartwatch atau fitness tracker lebih mudah ditinggalkan.
Baterai menjadi salah satu faktor yang dapat membuat penggunaan wearable terhenti. Jika perangkat terlalu sering dilepas untuk diisi daya, pengguna bisa kehilangan kesinambungan data dan mulai malas memakainya.
Kenyamanan juga berpengaruh terhadap kebiasaan tersebut. Perangkat yang terasa tebal, berat, atau mengganggu aktivitas dapat membuat pengguna berhenti memakai fitness tracker.
Spesifikasi tinggi tidak selalu menjamin wearable akan digunakan dalam jangka panjang. Perangkat yang ringan dengan baterai tahan lama justru bisa lebih mudah menjadi bagian dari rutinitas harian.
Masalah lainnya adalah terlalu banyak data yang dapat membuat pengguna merasa lelah. Target langkah, kalori, skor tidur, hingga data pemulihan bisa membuat aktivitas sehari-hari terasa seperti sesuatu yang harus terus dipantau.
Dikutip dari TechRadar, metrik tidur pada fitness tracker justru dapat membuat sebagian pengguna cemas. Data yang seharusnya membantu tidak selalu berdampak positif.
Hal ini menunjukkan wearable tidak selalu ditinggalkan karena teknologinya kurang canggih. Terlalu banyak informasi justru bisa membuat pengguna merasa harus terus memperhatikan perangkat.
Menariknya, perkembangan wearable mulai mengarah pada pengalaman yang lebih sederhana. Hadirnya perangkat tanpa layar yang bekerja di latar belakang untuk mengumpulkan data tanpa terus memberikan notifikasi.
Konsep tersebut menunjukkan bahwa wearable tidak harus selalu dilihat atau disentuh agar berguna. Yang lebih penting, perangkat dapat bekerja tanpa mengganggu rutinitas pengguna dan memberikan informasi saat dibutuhkan.
Pada akhirnya, wearable yang berguna bukan selalu perangkat dengan fitur paling banyak. Perangkat yang nyaman, mudah digunakan dan sesuai kebutuhan justru lebih mungkin bertahan dalam rutinitas pengguna.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






