Akurat Logo

Toilet Pintar Pakai AI Bisa Analisis Feses, Benarkah Berguna?

Winna Wandayani | 8 September 2026, 09:46 WIB
Toilet Pintar Pakai AI Bisa Analisis Feses, Benarkah Berguna?
Ilustrasi Toilet AI (Freepik)

AKURAT.CO Teknologi kecerdasan buatan (AI) mulai merambah kamar mandi melalui toilet pintar yang bisa menganalisis feses. Perangkat ini menggunakan kamera dan sensor untuk membaca bentuk, warna, serta konsistensi feses pengguna.

Sejumlah perusahaan mulai mengembangkan toilet dan perangkat tambahan dengan teknologi computer vision. Sistem AI tersebut dilatih untuk mengenali pola yang dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan pencernaan.

Beberapa perangkat juga dapat terhubung dengan aplikasi pendamping di smartphone. Hasil analisis kemudian disimpan sehingga pengguna bisa memantau perubahan kondisi pencernaan dari waktu ke waktu.

Konsep toilet untuk memantau kesehatan sebenarnya bukan teknologi baru. Namun, perkembangan AI membuat proses pengamatan feses dapat dilakukan secara otomatis tanpa perlu pemeriksaan manual dari pengguna.

Teknologi ini disebut dapat mengenali berbagai karakteristik pada feses. Analisis tersebut mencakup bentuk dan konsistensi, serta beberapa perubahan warna yang berpotensi menjadi tanda masalah kesehatan.

Baca Juga: Robot Ini Bisa Lari Lebih Cepat dari Usain Bolt

Meski terdengar canggih, manfaat toilet pintar tersebut bagi orang sehat masih dipertanyakan. Ahli gastroenterologi menilai kondisi feses memang dapat memberikan informasi kesehatan, tetapi sebagian besar orang tidak membutuhkan teknologi khusus untuk memantaunya.

Toilet pintar justru dinilai lebih berpotensi bagi orang yang sudah memiliki masalah pencernaan. Pemantauan rutin dapat membantu melihat perubahan gejala dan kondisi tubuh di antara jadwal pemeriksaan dokter.

Dikutip dari Wired, Senin (7/9/2026), salah satu ahli menilai pemantauan ini bermanfaat bagi penderita gangguan pencernaan kronis. Namun, bagi orang sehat, teknologi tersebut lebih dianggap sebagai kebaruan daripada kebutuhan medis.

Bagi orang sehat, data yang dihasilkan toilet pintar bisa saja tidak memberikan informasi baru yang berarti. Pengguna bahkan berpotensi mendapatkan terlalu banyak data yang belum tentu membutuhkan tindakan medis.

Kondisi tersebut sejalan dengan tantangan yang dihadapi berbagai perangkat kesehatan berbasis AI. Data dan skor kesehatan yang terlihat detail belum tentu memiliki manfaat klinis seperti pemeriksaan langsung oleh tenaga medis.

Meski masih dipertanyakan, pasar toilet pintar tetap memiliki peluang untuk berkembang. Fitur otomatis, sensor dan pengoperasian tanpa sentuhan telah membuat perangkat ini semakin banyak digunakan di segmen premium.

Penambahan AI menjadi upaya berikutnya bagi produsen untuk mengembangkan fungsi toilet pintar. Perangkat yang sebelumnya berfokus pada kenyamanan kini mulai diarahkan untuk menjadi bagian dari pemantauan kesehatan.

Namun, penggunaan AI juga menimbulkan persoalan ketika produsen mulai mengaitkannya dengan kemampuan mendeteksi penyakit. Produk dengan klaim medis dapat menghadapi aturan dan pengawasan regulator yang berbeda dari perangkat wellness biasa.

Karena itu, penting untuk membedakan antara pemantauan kondisi tubuh dan diagnosis penyakit. Toilet pintar yang hanya mencatat perubahan feses tidak sama dengan perangkat yang mengklaim mampu memastikan seseorang mengalami penyakit tertentu.

Bagi konsumen, teknologi ini lebih tepat dipandang sebagai alat pemantauan tambahan. Kecanggihan AI pada toilet belum membuatnya dapat menggantikan pemeriksaan, konsultasi, atau diagnosis dari dokter.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.