Mandoa Sambareh, Tradisi Bulan Rajab yang Ada di Padang Pariaman

AKURAT.CO Bulan Rajab memang dikenal sebagai bulan yang istimewa. Di dalamnya penuh dengan keberkahan.
Umat Islam di penjuru dunia banyak melakukan amalan sunah untuk menghormati bukan Rajab.
Pada kalender Hijriyah, bulan Rajab sering dikatakan bulan penuh kebaikan, “Bulan Allah” dan sebagainya.
Masyarakat di Indonesia memiliki tradisi yang bermacam-macam jika menyambut momen-momen tertentu, termasuk menyambut bulan Rajab.
Bulan Rajab berada pada bulan ketujuh dari 12 bulan dalam kalender Hijriah. Bulan ini sering dikatakan bulan penuh kebaikan dan kemuliaan.
Di daerah Pariaman, Padang bahwa bulan Rajab dinamakan juga sebagai bulan “sambareh”. Sedangkan, arti lain kata sambareh merupakan makanan tradisional yang biasanya dikenal Masyarakat Pariaman sebagai “serabi”.
Sejatinya sambareh adalah makanan yang terbuat dari tepung beras. Sambareh biasanya ditemani dengan campuran kuah yang terbuat dari gula aren (saka) yang dihancurkan lalu diberi air.
Bagi masyarakat Pariaman, sambareh bukan sebagai camilan biasa. Namun, makanan satu ini termasuk dalam bagian dari pelaksanaan tradisi “mandoa sambareh” yang dilaksanakan pada Bulan Rajab.
Selain bulan Sambareh, bulan Rajab juga diberi nama lain sebagai “Bulan Kanak-kanak”.
Tujuan dari penamaan ini untuk menyertakan doa kepada arwah yang telah pergi. Biasanya acara mandoa sambareh ini dipimpin oleh Tuanku. Tuanku adalah sebutan bagi ulama yang telah tamat mengaji di Pondok Pesantren yang ada di Padang Pariaman.
Bagi masyarakat yang ingin melaksanakan acara mandoa sambareh terlebih dahulu menyediakan sambareh di rumahnya.
Selain sambareh, tuan rumah juga menyediakan makanan sebagaimana makanan pada umumnya seperti nasi dan lauk pauk untuk disantap setelah acara mandoa.
Baca Juga: 9 Kata Hikmah Gus Baha, Bikin Hidup Lebih Sadar Diri
Acara mandoa ialah kegiatan pembacaan doa, yang bacaan doanya terdapat di buku doa khusus, yang dapat dibacakan ketika acara mandoa berlangsung.
Setelah menyantap makan tersebut dan berdoa, lalu tuan rumah menyuguhkan sambareh yang telah diisi kuah ke hadapan Tuanku untuk dicicipi.
Sebelum Tuanku pulang, tuan rumah juga memberi sedekah serta membungkuskan sambareh untuk dibawa pulang. Sedekah di sini dipercayai untuk tabungan akhirat dan agar doa kita sampai kepada Allah.
Menurut sejarah, ajaran ini dikembangkan oleh Syekh Buhanuddin yang dibawa dari Aceh. Keberadaannya dimulai sejak adanya islamisasi di Minangkabau.
Inilah rentetan pelaksanaan tradisi mandoa sambareh yang masih berkembang di masyarakat Padang Pariaman hingga sekarang.
Dikarenaka, bulan Rajab ini termasuk bulan yang dimuliakan. Oleh sebab itu, bulan Rajab masyarakat Padang Pariaman memiliki tradisi tersendiri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








