Akurat Logo

Amirul Hajj Soroti Problematik Haji 2026, Dari Klinik Kesehatan Haji hingga Sampah Plastik

Lufaefi | 8 Juni 2026, 07:10 WIB
Amirul Hajj Soroti Problematik Haji 2026, Dari Klinik Kesehatan Haji hingga Sampah Plastik
Evaluasi penyelenggaraan haji 2026 (ANTARA)

AKURAT.CO Amirul Hajj Indonesia menyoroti sejumlah persoalan penting dalam penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M yang perlu menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan layanan pada musim haji mendatang.

Catatan tersebut mencakup layanan kesehatan melalui Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), kapasitas tenda jamaah di Mina, transportasi Armuzna, hingga persoalan sampah plastik yang masih menjadi tantangan selama pelaksanaan ibadah haji.

Evaluasi tersebut disampaikan dalam exit meeting yang digelar bersama Badan Penyelenggara Ibadah Haji (BPIH), petugas haji, dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah di Kantor Urusan Haji (KUH) Jeddah, Arab Saudi, Sabtu (6/6/2026).

Amirul Hajj Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf, mengatakan bahwa berbagai catatan tersebut akan disampaikan kepada Kementerian Haji dan Umrah RI sebagai bahan evaluasi penyelenggaraan haji tahun depan.

Baca Juga: Menhaj Pulang ke Indonesia, Evaluasi Haji 2026 Jangan Sekadar Formalitas!

"Kami melakukan evaluasi pelaksanaan haji tahun ini dan menyampaikan sejumlah catatan dari Amirul Hajj kepada Kementerian Haji sebagai bahan evaluasi dan kebijakan untuk penyelenggaraan haji tahun depan," ujar Irfan Yusuf usai exit meeting di Jeddah.

Menurut Irfan, secara umum penyelenggaraan haji tahun 2026 berjalan lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Namun demikian, masih terdapat sejumlah aspek yang membutuhkan perhatian serius agar pelayanan kepada jamaah semakin optimal.

Salah satu isu yang menjadi perhatian utama adalah layanan kesehatan bagi jamaah haji Indonesia. Sekretaris Amirul Hajj, Prof. Ilfi Nur Diana, menilai sistem pelayanan kesehatan melalui Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) masih memerlukan pembenahan.

Ia menjelaskan bahwa alur pelayanan kesehatan bagi jamaah yang sakit dinilai cukup panjang. Jamaah harus terlebih dahulu mendapatkan layanan di klinik satelit sebelum dirujuk ke KKHI.

Setelah itu, apabila memerlukan perawatan lanjutan, pasien kembali harus dirujuk ke rumah sakit mitra Pemerintah Arab Saudi karena KKHI hanya melayani rawat jalan.

"Ini menjadi salah satu catatan penting agar pelayanan kesehatan jamaah ke depan dapat lebih efektif dan memberikan kemudahan bagi jamaah yang membutuhkan penanganan medis," kata Ilfi.

Selain layanan kesehatan, Amirul Hajj juga menyoroti pelaksanaan layanan di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Salah satu persoalan yang mendapat perhatian adalah semakin terbatasnya kapasitas tenda jamaah di Mina seiring bertambahnya jumlah jamaah haji Indonesia setiap tahun.

Menurut Ilfi, kondisi tersebut membutuhkan strategi baru agar kualitas pelayanan tetap terjaga meskipun jumlah jamaah terus meningkat sementara luas kawasan Mina tidak mengalami penambahan.

"Karena luas Mina tidak bertambah sementara jumlah jamaah terus meningkat, maka diperlukan strategi yang lebih baik agar jamaah dapat terlayani dengan baik mulai dari Arafah, Muzdalifah hingga Mina," tegasnya.

Persoalan transportasi selama fase Armuzna juga masuk dalam daftar evaluasi. Amirul Hajj mencatat masih terjadi keterlambatan pergerakan bus di beberapa sektor yang berdampak pada mobilitas jamaah saat menjalani puncak ibadah haji.

Selain aspek layanan dasar, Amirul Hajj turut menyoroti persoalan lingkungan yang muncul selama musim haji. Produksi sampah plastik yang tinggi, terutama dari penggunaan botol air minum sekali pakai dan kemasan makanan, dinilai perlu mendapat perhatian lebih serius pada penyelenggaraan haji mendatang.

Baca Juga: Jumlah Kuota Dijadikan Alasan Indonesia Tak Juara Penyelenggaraan Haji, Padahal Pakistan Juara Berturut-turut

Menurut Amirul Hajj, upaya membangun budaya haji yang lebih ramah lingkungan perlu menjadi bagian dari pembenahan layanan. Edukasi kepada jamaah terkait pengurangan penggunaan plastik sekali pakai serta pengelolaan sampah yang lebih baik menjadi langkah yang perlu diperkuat.

Evaluasi tersebut menjadi bagian dari persiapan awal penyelenggaraan ibadah haji 2027. Berbagai catatan yang dihimpun selama operasional haji tahun ini diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan dan peningkatan kualitas layanan bagi jamaah Indonesia di masa mendatang.

Hingga memasuki fase pemulangan jamaah ke Tanah Air, pemerintah masih terus melakukan pemantauan terhadap seluruh aspek layanan guna memastikan rangkaian penyelenggaraan haji 2026 berakhir dengan aman, tertib, dan memberikan kenyamanan bagi jamaah Indonesia.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi