Iran dan AS Sepakat Damai, Rakyat Teheran Mengamuk dan Mengutuk Menlu Araqchi

AKURAT.CO Situasi politik di Iran mendadak mencekam menyusul aksi unjuk rasa besar-besaran dari massa garis keras Syiah yang melanda negara tersebut pada akhir pekan lalu.
Gelombang kemarahan publik ini dipicu oleh ketidakpuasan mendalam terhadap Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, terkait poin-poin kesepakatan damai yang dicapai dengan Amerika Serikat.
Merespons gejolak hebat yang terjadi di tengah momentum penghentian konfrontasi militer dengan Washington, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, akhirnya turun tangan untuk meredam riak-riak perpecahan di dalam negeri.
Melalui akun media sosial Telegram, Mojtaba Khamenei menyerukan pesan tegas agar seluruh elemen bangsa kembali merapatkan barisan. Ia menyatakan, "persatuan nasional adalah salah satu elemen terpenting untuk meraih kemenangan dalam menghadapi Setan Besar."
Baca Juga: Warga Israel Murka atas Kesepakatan Damai AS-Iran, Sebut Trump Beri "Napas Baru" untuk Teheran
Dalam seruan tersebut, ia juga menginstruksikan kepada masyarakat, khususnya para politisi, agar menahan diri dari segala tindakan atau perselisihan politik yang dapat merusak ikatan sosial bangsa.
Ketegangan nasional ini meledak setelah draf nota kesepahaman (MoU) antara Iran dan AS bocor dan tersebar luas di media massa. Kritik tajam salah satunya dilontarkan oleh anggota parlemen konservatif Iran, Mahmoud Nabavian.
Melalui platform X pada hari Sabtu, Nabavian mempertanyakan kegunaan draf tersebut bagi kedaulatan negara dengan menulis, "Apakah teks ini melayani kepentingan nasional kita?"
Ia secara spesifik menyoroti klausul yang mewajibkan pembukaan segera Selat Hormuz secara bebas tanpa batasan serta pengurangan pengayaan uranium, sementara poin krusial mengenai pencabutan sanksi, pelepasan aset, dan akses dana sebesar US$300 miliar dinilai masih sangat kabur.
Sentimen negatif ini langsung direspons massa dengan menggeruduk dan menggelar demonstrasi di depan Kantor Kementerian Luar Negeri Iran pada Sabtu, 13 Juni.
Berdasarkan rekaman video resmi dari kantor berita Fars, sejumlah demonstran perempuan berkerudung hitam mengepung gedung Kemlu di Mashhad sambil mengibarkan bendera merah dan hitam.
Di tengah ketegangan tersebut, massa secara terbuka meluapkan amarah mereka dengan meneriakkan, "matilah Araghchi yang tidak terhormat, si penyusup".
Berdasarkan laporan AFP, gelombang penolakan masif dari faksi garis keras Iran ini menguat karena kesepakatan damai yang sebelumnya digembar-gemborkan oleh Presiden AS Donald Trump dan mediator Pakistan dianggap merugikan sepihak.
Kelompok penentang menilai para negosiator Iran telah memberikan terlalu banyak konsesi yang kelak bisa melenyapkan kendali strategis Teheran atas jalur vital Selat Hormuz.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Di Balik Penolakan Keras Singapura ke Ekspor Satu Pintu DSI: Risiko Kehilangan Ratusan Miliar Dolar Arus Ekspor dan Devisa
- 2Cara Nonton Piala Dunia 2026 Gratis di HP dan Laptop Lewat Link Resmi
- 3Link Nonton Piala Dunia 2026 Resmi dan Legal, Kualitas HD Bukan di Score808
- 4Prediksi Skor Meksiko vs Afrika Selatan: Analisis Lengkap, Head to Head, dan Susunan Pemain
- 5Prediksi Skor Belgia vs Mesir Lengkap dengan Statistik Head to Head dan Susunan Pemain
- 6Menkeu Purbaya Tidak Diganti, Rupiah dan IHSG Kompak Meroket
- 7Prediksi Skor Senegal vs Arab Saudi 10 Juni 2026, lengkap dengan Statistik Head to Head dan Susunan Pemain
- 8Prediksi Skor Korea Selatan vs Ceko di Piala Dunia 2026, Lengkap dengan Riwayat Head to Head dan Susunan Pemain
- 9Lewat Kebijakan Strategis, Pemerintah Terus Perkuat Kepercayaan Pasar
- 10Kelelahan Usai Pergi Haji, Bos Maktour Minta Pemeriksaan KPK Dijadwal Ulang




