Akurat Logo

Di Balik Penolakan Keras Singapura ke Ekspor Satu Pintu DSI: Risiko Kehilangan Ratusan Miliar Dolar Arus Ekspor dan Devisa

Yosi Winosa | 15 Juni 2026, 09:17 WIB
Di Balik Penolakan Keras Singapura ke Ekspor Satu Pintu DSI: Risiko Kehilangan Ratusan Miliar Dolar Arus Ekspor dan Devisa
Kebijakan ekspor satu pintu DSI dinarasikan sebagai tindakan diktator

AKURAT.CO Ada narasi struktural dari Singapura tentang penolakan keras terhadap kebijakan ekspor satu pintu lewat PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI).

Bukan tanpa alasan, media seperti CNA, The Straits Times, dan Bloomberg menarasikan kebijakan ekspor satu pintu DSI sebagai tindakan kontrol, monopoli dan diktator. Padahal langkah berani Presiden Prabowo tersebut murni tindakan rasional.

Tak hanya media, S&P dan Moody's bahkan mengatakan ekspor satu pintu DSI berpotensi menurunkan rating RI. Hal ini wajar mengingat Singapura dan para pengusaha yang memarkir dana di sana adalah klien-kliennya.

Baca Juga: Danantara Pastikan DSI Bukan Calo Ekspor SDA

Asal tahu, "kekayaan" Indonesia yang mengalir ke Singapura diperkirakan mencapai USD300 miliar (sekitar hampir Rp5,3 triliun) dalam bentuk DHE dan wealth (simpanan kekayaan).

Singapura secara historis menjadi safe haven atau tempat parkir favorit bagi modal asal Indonesia karena stabilitas keamanan, kemudahan sistem perbankan, dan regulasi pajak. Kebijakan DHE SDA sudah berupaya menarik kembali dana tersebut, namun belum efektif.

"Mereka para mafia dan oligarki internasional ini dari kemarin sibuk mengeluarkan uang triliunan rupiah buat menyerang pemerintah Indonesia. Untuk mengadu domba rakyat Indonesia dengan pemerintahnya sendiri," ujar Tiktoker @bennix.real.

Jika kebijakan ekspor satu pintu DSI berhasil berjalan, Singapura bisa bertambah miskin dan sebaliknya Indonesia bertambah kaya. Ribuan triliun yang selama ini "lari" ke Singapura akan kembali ke Tanah Air.

Maka tak aneh ketika RI sebagai eksportir SDA yang sedianya punya banyak dolar AS, ternyata justru mengalami pelemahan rupiah. Jawabannya karena sebagian besar devisa tersebut masuknya ke Singapura.

“Jadi jangan kaget ketika pemerintah untuk pertama kalinya sepanjang sejarah berani melawan praktik under invoicing, melawan oligarki Singapura, yang terjadi saham-saham SDA di Singapura anjlok,” ujar Tiktoker @bennix.real lagi.

First Resources Ltd. Misalnya, yang sahamnya langsung anjlok 1,06 poin (27,18%) ke SGD2,84 dalam sebulan terakhir. Begitupun Golden Agri-Resources Ltd. yang turun 0,07 poin (19,70%) ke SGD0,26 dan M P Evans Group PLC yang turun 356 poin (19,08%) ke GBP1.510 serta AEP Plantation PLC yang turun 556 poin (25,27%) ke GBP1.644.

“Ini adalah fakta bahwa kebijakan RI bisa membuat saham di bursa negara lain jatuh atau anjlok. Kenapa? Kalau dilihat laporan keuangan First Resources Ltd. Misalnya, itu pendapatan dia dari Singapura cuma USD447 juta sementara dari Indonesia USD1,1 miliar. Artinya 66 persen penghasilannya dari Indonesia, hilang 66 persen penghasilannya dari bumi dan tanah Indonesia yang menikmati Singapura,” ujar Tiktoker itu.

M P Evans Group PLC pun sama kondisinya. 99% kebun mereka ada di Indonesia. Golden Agri-Resources Ltd pun yang berbisnis palm oil dan oleochemical pendapatannya 20% dari Indonesia. Juga AEP Plantation PLC yang 99% penghasilannya dari Indonesia.

“Kita on the right track sebenarnya. Mereka gonjang ganjing, kebakaran, saham-saham ini anjolk karena untuk pertama kalinya Singapura kaget. Biasanya presiden Indonesia bisa dikangkangin, ini enggak bisa. Presiden Prabowo punya nyali untuk bertarung dengan oligarki internasional, bertarung sama negara Singapura,” tutur sang Tiktoker.

Sudah puluhan tahun Indonesia dikadali. Saat ada perlawanan, upaya pencegahan oleh asing yang kompak menarasikan buruk ekspor satu pintu DSI pun kian santer dan terkoordinasi.

“Kalau enggak tegas gini nanti orang komen lagi kok Indonesia kaya sumber daya alam tapi rakyatnya miskin, enggak sejahtera? Ya wajar karena duitnya enggak masuk ke Indonesia, duitnya masuk ke Singapura,” tukas si Tiktoker.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.