Tips Menjaga Lisan di Media Sosial: Menebar Kebaikan Lewat Jempol Sesuai Adab Islami

AKURAT.CO Di zaman ketika satu komentar bisa dibaca ribuan orang dan satu unggahan dapat menyebar dalam hitungan menit, menjaga lisan ternyata tidak lagi cukup. Jempol yang digunakan untuk mengetik, membagikan, menyukai, atau mengomentari sebuah konten juga perlu dijaga. Sebab, meskipun tidak keluar dari mulut, tulisan di media sosial tetap dapat menjadi sumber pahala ataupun dosa.
Islam memberikan perhatian besar terhadap cara seseorang berbicara. Allah SWT berfirman:
وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.” (QS. Al-Isra: 53).
Pesan tersebut sangat relevan dengan kehidupan digital. Sebelum mengetik komentar atau mengunggah sesuatu, seorang Muslim perlu bertanya kepada dirinya sendiri: apakah tulisan ini benar, bermanfaat, dan pantas disampaikan?
Kebiasaan pertama yang perlu dibangun adalah berpikir sebelum mengunggah. Tidak semua hal yang kita ketahui harus dibagikan kepada publik. Informasi yang belum jelas sumbernya sebaiknya tidak langsung diteruskan, terlebih jika menyangkut kehormatan seseorang.
Baca Juga: Seni Islami Mengatur Prioritas Hubungan Tanpa Nabrak Restu Orang Tua
Allah SWT juga mengingatkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.” (QS. Al-Hujurat: 6).
Ayat ini menjadi dasar pentingnya tabayyun. Di media sosial, informasi yang terlihat meyakinkan belum tentu benar. Potongan video dapat kehilangan konteks, judul dapat dibuat provokatif, sementara sebuah tangkapan layar bisa saja telah diedit.
Kebiasaan kedua adalah menghindari komentar yang merendahkan orang lain. Perbedaan pilihan, pendapat, gaya hidup, maupun pemahaman keagamaan tidak otomatis memberikan alasan untuk menghina. Kritik boleh disampaikan, tetapi kritik tidak harus berubah menjadi serangan terhadap pribadi.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam konteks media sosial, hadis tersebut dapat menjadi semacam “rem digital”. Jika sebuah komentar tidak memberikan manfaat dan justru berpotensi menyakiti, mungkin pilihan terbaik adalah tidak mengirimkannya.
Kebiasaan ketiga adalah berhati-hati terhadap ghibah dan membuka aib. Membicarakan keburukan seseorang melalui unggahan, komentar, atau grup percakapan tetap dapat masuk dalam perilaku tercela apabila dilakukan tanpa alasan yang dibenarkan. Bahkan, jejak digital membuat sebuah ucapan dapat bertahan jauh lebih lama daripada percakapan biasa.
Keempat, biasakan menggunakan media sosial untuk menebarkan manfaat. Membagikan ilmu, memberikan dukungan kepada orang yang sedang kesulitan, mengingatkan dengan cara yang santun, atau sekadar menulis sesuatu yang membuat orang lain lebih optimistis merupakan bentuk penggunaan teknologi secara positif.
Baca Juga: 5 Kebiasaan Pagi Penuh Berkah ala Rasulullah yang Bikin Seharian Lebih Produktif
Terakhir, jangan merasa setiap perdebatan harus dimenangkan. Ada kalanya seseorang lebih bijaksana ketika memilih berhenti berkomentar daripada terus memperpanjang konflik. Menahan jempol bukan berarti kalah. Bisa jadi, justru itulah bentuk kemenangan atas ego sendiri.
Media sosial pada akhirnya hanyalah alat. Ia dapat menjadi ruang menyebarkan ilmu, tetapi juga bisa menjadi tempat menumpuk dosa. Karena itu, sebelum jempol menekan tombol “kirim”, luangkan beberapa detik untuk memastikan bahwa apa yang kita tulis benar, baik, dan bermanfaat.
Sebab, di dunia digital, lisan mungkin tidak terdengar, tetapi tulisan tetap akan dipertanggungjawabkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 3Polemik Ijazah Gibran Memanas, Hasan Nasbi Ungkap Sikap Pemerintah
- 4Prediksi Skor PSG vs Barcelona, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Prediksi Skor Bali United vs Garudayaksa 21 Oktober 2026: Serdadu Tridatu Diunggulkan?
- 6Prediksi Skor Como vs Man Utd 21 Oktober 2026: Setan Merah Terancam
- 7Prediksi Skor Lille vs Galatasaray: Duel Sengit Demi Poin Perdana Liga Champions
- 8Kalender Jawa 19 Oktober 2026: Watak Weton Senin Wage Dikenal Jujur dan Tenang
- 9Greenpeace Bentangkan Spanduk di Bundaran HI, Pemerintah Hormati Kebebasan Berpendapat
- 10Polemik Ijazah Gibran, Prabowo Disarankan Ambil Langkah Taktis Ini Demi Cegah Indonesia Rusuh Seperti Eropa





