Menelisik Demo Agustus 2025, Ungkap Keterlibatan Pihak Asing

AKURAT.CO Hampir setahun berlalu, rangkaian unjuk rasa dengan kerusuhan terjadi di sejumlah wilayah Indonesia terjadi pada 25 Agustus hingga 9 September 2025.
Unjuk rasa tersebut awalnya dipicu oleh pemberian tunjangan bagi anggota DPR RI yang dinilai mengabaikan kesulitan ekonomi yang dihadapi rakyat.
Selain itu terjadi kenaikan pajak bumi dan bangunan di beberapa daerah serta ketidakpuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintah dalam mengatasi kesenjangan ekonomi dan kenaikan biaya hidup.
Terjadi unjuk rasa yang kemudian diikuti kerusuhan. Rumah sejumlah anggota DPR RI dan pejabat didatangi massa.
Korban jiwa pun jatuh, baik korban tewas, korban luka, maupun orang-orang yang akhirnya ditahan. Hasilnya, sejumlah kebijakan diubah termasuk soal tunjangan anggota DPR RI.
Baca Juga: Demo BEM UI Bubar, Polisi Amankan Pisau dan Golok
Dalam berbagai ulasan media, disebut-sebut adanya peran aktor luar negeri sebagai penyandang dana yakni Open Society Foundations yang dibiayai miliarder dunia, George Soros.
Analis Swiss, Angelo Giuliano, yang diwawancara media Rusia, Sputnik, 1 September 2025, mengatakan, dana dari Open Society Foundations (OSF).
“OSF milik George Soros sudah beroperasi sejak 1990-an mengeluarkan biaya milyaran dolar AS secara global. OSF mendukung sejumlah kelompok termasuk TIFA yang berkontribusi dalam dinamika sosial politik di Indonesia,” ujar Giuliano merespons hal tersebut.
OSF, melalui lembaga lokal, Yayasan Kurawal juga meluncurkan Dana Cepat Tanggap Darurat (DCTD) untuk mendukung organisasi masyarakat sipil dalam menyuarakan keberatan terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai tidak demokratis.
Sementara Jeff J. Brown, penulis The China Trilogy menilai protes di Indonesia dilakukan dengan pola sama persis seperti di Serbia. Di sana, Barat secara kolektif menginginkan diktator lain yang didukung AS, seperti Suharto di masa lalu.
Baca Juga: Demo Memanas, Wakil Ketua BEM UI Fathimah Hardik Polisi karena Pakai Mobil Komando
Isu campur tangan asing dalam aksi demonstrasi di Indonesia juga diungkap oleh mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), AM. Hendropriyono. Dia menilai kerusuhan yang terjadi di Kompleks DPR RI pada 25-28 Agustus 2025 tidak sepenuhnya dipicu faktor internal.
Pada 26 September 2025, pemerhati sosial Aditya Setiawan menilai ada manipulasi asing dalam memanfaatkan momentum untuk mengguncang stabilitas nasional.
"Data yang beredar menunjukan keterlibatan jaringan internasional seperti Open Society Foundations dalam mendanai NGO lokal. Itu digunakan untuk mengerakan kelompok pemuda dan buruh menyebarkan narasi negatif terhadap pemerintahm," ujar Aditya, dalam keterangannya.
Dia menyebut aliran dana tersebut disalurkan melalui Yayasan Kurawal kepada organisasi lokasi seperti Komite Politik Social Movement Institute dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH).
Sementara itu, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ulta Levenia Nababan, dalam senarai @UltaUltimatum tanggal 26 April 2026 menyebutkan adanya aliran dana OSF ke Kurawal dari tahun 2019-2024 mencapai USD6.190.000 (Rp106 miliar) atau Rp2,2 miliar tiap bulan. Selain itu ada lembaga Celios hingga LBHM. Semua diumumkan di laman OSF secara terbuka.
Baca Juga: Ada Demo BEM UI, Transjakarta Alihkan Sejumlah Rute di Sudirman-Thamrin
Pengaruh yang ingin ditanamkan adalah kebebasan individu, HAM, perdagangan bebas, hingga pandangan hidup LGBT.
Nilai bebas sebebasnya sesuai keinginan OSF itu yang ingin ditanamkan di seluruh dunia termasuk di Indonesia.
Menurut Nababan, tidak ada pemerintah yang sempurna. Namun mengedepankan kepentingan agenda asing mengubah sistem nilai satu negara dan seluruh dunia sesuai kepentingan kebebasan versi mereka tentu berdampak besar.
Dia mengingatkan bahwa Soros adalah spekulan yang menjatuhkan Bank of England atau Bank Sentral Inggris dalam peristiwa Black Wednesday dengan membuat nilai Poundsterling jatuh. Merusak ekonomi Inggris.
Kroni Soros menuntut pemerintah, mengawasi penegakan hukum, mempreteli isu keamanan. Nasionalisme dilihat sebagai ancaman karena nasionalisme tidak sesuai gagasan OSF. Nilai universal jadi standar bersama. Berbeda dari nasionalisme yang mengakar dan tumbuh dari identitas suatu bangsa yang unik di tiap negara.
Baca Juga: Demo 18 Agustus 2026 di Bundaran HI, Cek Jalur Alternatif untuk Hindari Macet
Menanggapi tudingan tersebut, Kurawal Foundation dalam laman blog 29 September 2025 mendesak pemerintah membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) agar kebenaran bisa terungkap. Kurawal menulis, pembungkaman warga bukanlah penegakan hukum.
Kurawal mengingatkan Indonesia pernah punya sejumlah TGPF untuk kasus-kasus besar seperti kasus Mei 1998, pembunuhan Aktivis HAM, Munir Said, dan lain-lain. Pada 8 Desember 2025 muncul peringatan tentang intervensi yang dilakukan Soros telah memicu Revolusi Oranye di Ukraina, dan Revolusi Mawar di Georgia.
Intervensi tersebut jika dibiarkan bisa merusak proses hukum dan demokrasi di Indonesia. Ini perlu menjadi refleksi mendalam tentang pola revolusi warna (colour revolution) yang memicu kekacauan di mana-mana. Presiden Prabowo Subianto, sebelumnya, menegaskan akan melindungi kedaulatan negara dan stabilitas sosial.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






