Bukan Sekadar Hukuman, Napi Dinilai Layak Diberi Remisi Berkat Aktivitas Menulis dan Membaca

AKURAT.CO Sistem pemasyarakatan semestinya tidak semata-mata berorientasi pada hukuman, tetapi memberikan ruang bagi warga binaan untuk memperbaiki diri dan mengembangkan kemampuannya.
Karena itu, Pakar Hukum Pidana Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar, mendukung usulan Ketua Komisi XIII DPR, Willy Aditya, agar aktivitas literasi warga binaan menjadi salah satu indikator keberhasilan pembinaan di lembaga pemasyarakatan (lapas). Termasuk sebagai pertimbangan pemberian remisi.
Selain ceramah agama setiap Jumat dan Minggu, warga binaan juga diberi kesempatan untuk mengembangkan minatnya, termasuk menulis.
"Karena itu, saya setuju salah satu indikator suksesnya pembinaan itu literasi," katanya, kepada wartawan di Jakarta, Senin (5/10/2026).
Abdul Fickar menilai gagasan tersebut sejalan dengan filosofi pemasyarakatan yang menempatkan narapidana sebagai warga binaan. Menurutnya, aktivitas di dalam lapas seharusnya diarahkan pada proses pembinaan, agar warga binaan memiliki bekal ketika kembali ke masyarakat.
Baca Juga: Temuan Ombudsman: Napi di Lapas Pondok Bambu Bayar Rp250 Juta untuk Pakai HP
"Pemasyarakatan itu namanya saja pemasyarakatan. Jadi, aktivitas dan semangatnya bukan menghukum, tetapi lebih pada pembinaan. Karena itu disebut warga binaan," ujarnya.
Abdul Fickar menekankan keberhasilan sistem pemasyarakatan secara lebih luas semestinya dapat dilihat dari berkurangnya tindak pidana yang dilakukan kembali oleh mantan napi.
"Idealnya fungsi LP itu memanusiakan manusia kembali. Karena itu, ukuran keberhasilannya secara makro adalah berkurangnya kriminalitas yang dilakukan oleh residivis. Artinya, ada proses pembinaan yang berjalan dan terbawa ketika keluar dari LP," ujarnya.
Produktivitas warga binaan dalam kegiatan literasi, termasuk menghasilkan tulisan, layak dipertimbangkan dalam pemberian remisi. Kendati demikian, penerapan indikator tersebut membutuhkan mekanisme penilaian yang jelas dan objektif.
Salah satu caranya dengan menilai karya literasi yang benar-benar dihasilkan warga binaan selama menjalani masa pembinaan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






