Registrasi Berulang Jadi Hambatan Bisnis Digital, Privy Tawarkan Solusi Digital Identity untuk Permudah Onboarding dan Atasi Fraud

AKURAT.CO Pernah merasa kesal karena harus mengunggah KTP, melakukan swafoto, mengisi data pribadi, lalu menunggu proses verifikasi setiap kali mendaftar layanan digital baru? Pengalaman seperti ini semakin sering ditemui di era ekonomi digital. Ironisnya, di saat perusahaan berlomba menarik pengguna baru melalui promosi dan iklan, banyak calon pelanggan justru berhenti di tengah jalan karena proses registrasi yang panjang dan berulang.
Fenomena tersebut bukan sekadar masalah kenyamanan pengguna. Bagi perusahaan digital, proses onboarding yang rumit dapat menjadi penghambat pertumbuhan bisnis. Di tengah persaingan yang semakin ketat, keberhasilan platform digital kini tidak hanya ditentukan oleh jumlah orang yang mengunjungi aplikasi atau situs web, tetapi juga oleh berapa banyak pengguna yang berhasil menyelesaikan proses registrasi dan mulai menggunakan layanan.
Di sinilah konsep Digital Identity atau identitas digital mulai mendapat perhatian. Privy, perusahaan yang selama ini dikenal sebagai penyedia layanan tanda tangan elektronik, memperkenalkan solusi Privy Digital ID yang diklaim mampu memangkas hambatan registrasi sekaligus menjaga keamanan proses verifikasi pengguna.
Ringkasan
Registrasi berulang adalah kondisi ketika pengguna harus mengisi data pribadi dan melakukan verifikasi identitas yang sama setiap kali mendaftar di platform berbeda. Masalah ini dapat menurunkan tingkat konversi pengguna, meningkatkan biaya akuisisi pelanggan, dan memperlambat pertumbuhan bisnis digital. Untuk menjawab tantangan tersebut, Privy menghadirkan solusi Digital Identity yang memungkinkan pengguna menggunakan identitas terverifikasi untuk mengakses berbagai layanan digital secara lebih cepat dan aman.
Mengapa Registrasi Berulang Menjadi Masalah Baru di Ekonomi Digital?
Dalam beberapa tahun terakhir, layanan digital berkembang sangat pesat. Mulai dari investasi, pendidikan, media digital, layanan perjalanan, hingga pengajuan visa kini dapat dilakukan secara online.
Namun, pertumbuhan layanan digital ternyata memunculkan masalah baru. Semakin banyak platform berarti semakin banyak pula proses registrasi yang harus dilalui pengguna.
Bayangkan seorang pekerja muda yang dalam satu minggu ingin:
Membuka akun investasi digital
Mengajukan visa perjalanan
Berlangganan media digital
Mengikuti kursus online
Meski identitas yang digunakan sama, ia tetap harus mengunggah KTP berkali-kali, melakukan verifikasi wajah berulang, serta mengisi data pribadi yang sama di setiap platform.
Dari sudut pandang pengguna, proses ini terasa melelahkan. Dari sisi bisnis, hambatan tersebut dapat menurunkan peluang konversi calon pelanggan menjadi pengguna aktif.
Persaingan bisnis digital saat ini tidak lagi hanya soal mendapatkan trafik atau mengundang pengguna mengunjungi platform. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan pengguna benar-benar menyelesaikan proses onboarding hingga selesai.
Bagaimana Registrasi yang Terlalu Rumit Membuat Bisnis Kehilangan Pelanggan?
Dalam materi peluncuran Privy Digital ID disebutkan bahwa lebih dari 60% pengguna meninggalkan proses pendaftaran karena registrasi yang terlalu panjang.
Angka ini memiliki implikasi yang jauh lebih besar daripada sekadar pengalaman pengguna yang kurang nyaman.
Misalnya, sebuah perusahaan menghabiskan miliaran rupiah untuk iklan digital guna mendatangkan 100 ribu calon pelanggan. Jika lebih dari separuh pengguna gagal menyelesaikan registrasi, maka sebagian besar biaya pemasaran yang telah dikeluarkan menjadi kurang optimal.
Dengan kata lain, masalah onboarding bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga persoalan efisiensi bisnis.
Banyak perusahaan fokus meningkatkan jumlah pengunjung, padahal titik kebocoran terbesar justru sering terjadi setelah calon pelanggan mengklik tombol "Daftar".
Fenomena ini menunjukkan perubahan penting dalam ekonomi digital. Di masa lalu, tantangan utama adalah menarik perhatian pengguna. Kini, tantangan berikutnya adalah menghilangkan hambatan yang membuat mereka batal menjadi pelanggan.
Mengapa Registrasi yang Terlalu Mudah Juga Berisiko?
Di sisi lain, menyederhanakan proses registrasi secara berlebihan juga bukan solusi ideal.
Sebagian platform memilih hanya menggunakan email atau nomor telepon sebagai syarat pendaftaran. Langkah ini memang dapat mempercepat onboarding, tetapi berpotensi meningkatkan risiko keamanan.
Menurut laporan Equifax yang dikutip dalam peluncuran Privy Digital ID, sebanyak 95% identitas sintetis atau palsu (Synthetic Identity Fraud) dapat lolos dari proses onboarding standar.
Artinya, semakin sederhana proses verifikasi tanpa validasi identitas yang memadai, semakin besar pula peluang munculnya akun palsu, penyalahgunaan promosi, hingga aktivitas fraud.
Inilah paradoks yang dihadapi industri digital saat ini.
Di satu sisi, perusahaan ingin membuat proses registrasi sesingkat mungkin agar pengguna tidak pergi. Di sisi lain, mereka harus memastikan bahwa setiap pengguna yang mendaftar benar-benar merupakan individu yang sah dan terverifikasi.
Baca Juga: Cara Cek Keaslian Dokumen Digital dengan Privy: Panduan Lengkap Hindari Penipuan
Bagaimana Privy Digital ID Mencoba Menjawab Masalah Ini?
Menjawab tantangan tersebut, Privy meluncurkan Privy Digital ID yang terdiri dari dua layanan utama, yakni PrivyHub dan Continue with Privy.
PrivyHub berfungsi sebagai portal layanan terverifikasi di dalam aplikasi Privy. Pengguna dapat menemukan berbagai merchant dan mengakses layanan mereka tanpa harus mengulang proses registrasi.
Sementara itu, Continue with Privy memungkinkan pengguna login atau mendaftar pada aplikasi maupun situs web mitra menggunakan Privy ID yang telah diverifikasi sebelumnya.
CEO dan Founder Privy, Marshall Pribadi, mengatakan banyak perusahaan kehilangan calon pelanggan saat proses registrasi karena terlalu panjang dan rumit.
"Banyak perusahaan menginvestasikan sumber daya besar untuk mendapatkan pengguna baru, tetapi kehilangan calon pengguna saat proses registrasi karena terlalu panjang dan rumit. Di sisi lain, pengguna juga semakin menginginkan pengalaman digital yang cepat dan aman," ujar Marshall melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, Rabu, 17 Juni 2026.
Ia menjelaskan bahwa sebagai Penyelenggara Sertifikasi Elektronik (PSrE), Privy memiliki kewenangan menerbitkan sertifikat elektronik setelah pengguna melalui verifikasi identitas berbasis NIK dan biometrik.
Menurut Marshall, pengguna yang telah memiliki Privy ID dapat mendaftar ke platform mitra tanpa perlu mengulang seluruh proses verifikasi dari awal.
"Sementara bagi perusahaan, setiap pengguna dengan Privy ID sudah dijamin sebagai individu unik dan terverifikasi," katanya.
Marshall juga menegaskan bahwa solusi ini menandai transformasi peran Privy.
"Solusi Digital Identity juga memperluas peran Privy dari penyedia tanda tangan elektronik menjadi infrastruktur digital trust atau kepercayaan digital."
Sejumlah Platform Sudah Mulai Mengadopsi Solusi Digital Identity
Implementasi solusi ini telah dilakukan oleh sejumlah perusahaan dari berbagai sektor.
Salah satunya adalah platform investasi digital Treasury.
CEO Treasury, Andreas Santoso, mengungkapkan bahwa kemudahan onboarding menjadi faktor penting dalam memperluas akses investasi masyarakat.
"Dengan mengintegrasikan Continue with Privy di aplikasi Treasury, selain dapat membantu mempercepat proses verifikasi pengguna, juga meningkatkan peluang peningkatan pelanggan baru Treasury yang berasal dari pengguna Privy," ungkap Andreas.
Menurut Andreas, hampir 16.000 pengguna baru telah mendaftar melalui fitur Continue with Privy pada aplikasi Treasury.
Di sektor media digital, Kompas.id juga memanfaatkan fitur serupa.
GM Product & Data Kompas.id, Omar Abdillah, menilai integrasi tersebut dapat memperbesar peluang pertumbuhan pengguna.
"Proses akses dan registrasi dapat dibuat lebih praktis, sehingga membuka peluang lebih besar untuk meningkatkan pertumbuhan pengguna serta menghadirkan pengalaman media digital yang semakin accessible," ungkap Omar.
Sementara itu, di sektor pendidikan digital, Belajarlagi melihat proses onboarding sebagai faktor yang dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk mulai belajar.
Head of B2C Operation Belajarlagi, Christian H, mengatakan:
"Ketika seseorang sudah memiliki intensi untuk belajar atau meningkatkan skills, proses registrasi yang panjang bisa menjadi hambatan yang membuat momentum tersebut hilang atau tertunda."
Apakah Digital Identity Akan Menjadi Infrastruktur Baru Internet Indonesia?
Ada satu hal yang menarik dari perkembangan ini.
Selama bertahun-tahun, internet berkembang dengan model identitas yang terfragmentasi. Pengguna memiliki akun berbeda untuk setiap platform, sementara setiap perusahaan harus membangun sistem verifikasinya sendiri.
Akibatnya, biaya verifikasi berulang terus muncul di banyak titik.
Konsep Digital Identity menawarkan pendekatan berbeda. Alih-alih memverifikasi identitas yang sama berkali-kali, verifikasi dilakukan sekali dan dapat digunakan lintas layanan dengan persetujuan pengguna.
Jika model ini berkembang luas, dampaknya bisa cukup besar.
Bagi pengguna, pengalaman digital menjadi lebih cepat dan praktis.
Bagi perusahaan, biaya onboarding berpotensi menurun sekaligus meningkatkan kualitas data pengguna.
Bagi industri digital secara keseluruhan, risiko fraud dapat ditekan tanpa harus mengorbankan kenyamanan pengguna.
Tentu saja, keberhasilan konsep ini tetap bergantung pada faktor kepercayaan, keamanan data, kepatuhan regulasi, serta tingkat adopsi oleh berbagai platform digital.
Namun, arah perkembangannya menunjukkan bahwa identitas digital semakin berperan sebagai fondasi penting dalam ekonomi digital modern.
Penutup
Persaingan layanan digital saat ini tidak lagi sekadar soal siapa yang memiliki fitur paling lengkap atau promosi paling menarik. Semakin banyak perusahaan mulai menyadari bahwa hambatan terbesar sering kali muncul sebelum pengguna sempat menikmati layanan yang ditawarkan.
Registrasi berulang, verifikasi berlapis, dan proses onboarding yang panjang telah menjadi tantangan nyata bagi pertumbuhan bisnis digital. Di sisi lain, penyederhanaan proses tanpa verifikasi yang memadai juga membawa risiko keamanan yang tidak kecil.
Melalui Privy Digital ID, Privy mencoba menjawab dua tantangan tersebut sekaligus: mempercepat akses pengguna sekaligus menjaga kepercayaan digital. Jika adopsinya terus meluas, identitas digital berpotensi menjadi salah satu infrastruktur penting yang membentuk masa depan ekonomi digital Indonesia.
Pantau terus perkembangan transformasi identitas digital dan berbagai inovasi yang mengubah cara masyarakat mengakses layanan digital di masa mendatang.
Baca Juga: Bekerja di Korsel, PMI Diminta Jauhi Judi Online dan Penipuan Digital
Baca Juga: Scam Global Mengintai Fintek RI, Vida Dorong Sistem Identitas Digital Berlapis
FAQ
Apa itu Digital Identity?
Digital Identity atau identitas digital adalah identitas elektronik yang telah diverifikasi dan dapat digunakan untuk mengakses berbagai layanan digital secara aman. Identitas ini biasanya terhubung dengan data resmi pengguna dan dilengkapi mekanisme verifikasi seperti biometrik atau sertifikat elektronik.
Mengapa registrasi berulang menjadi masalah bagi bisnis digital?
Registrasi berulang dapat membuat calon pelanggan meninggalkan proses onboarding sebelum selesai. Kondisi ini menurunkan conversion rate, meningkatkan biaya akuisisi pelanggan, dan menghambat pertumbuhan bisnis digital.
Apa fungsi Continue with Privy?
Continue with Privy memungkinkan pengguna login atau mendaftar di platform mitra menggunakan Privy ID yang telah terverifikasi. Dengan cara ini, pengguna tidak perlu mengulang proses verifikasi identitas dari awal di setiap platform.
Apa itu PrivyHub?
PrivyHub adalah portal layanan terverifikasi yang tersedia di dalam aplikasi Privy. Pengguna dapat menemukan dan mengakses berbagai merchant tanpa harus berpindah aplikasi maupun mengulang proses registrasi.
Apa risiko jika proses registrasi terlalu sederhana?
Registrasi yang terlalu sederhana berpotensi meningkatkan risiko akun palsu, penyalahgunaan identitas, serta fraud digital. Karena itu, perusahaan perlu menyeimbangkan kemudahan akses dengan keamanan verifikasi pengguna.
Siapa yang diuntungkan dari penggunaan identitas digital?
Pengguna mendapatkan pengalaman onboarding yang lebih cepat dan praktis. Sementara itu, perusahaan memperoleh data pengguna yang lebih akurat, efisiensi biaya verifikasi, serta peluang peningkatan konversi pelanggan.
Apakah identitas digital akan menjadi tren di Indonesia?
Melihat pertumbuhan ekonomi digital dan kebutuhan akan verifikasi yang aman namun cepat, identitas digital diperkirakan akan semakin penting di Indonesia. Adopsinya berpotensi meluas ke sektor fintech, media digital, pendidikan, perjalanan, ritel, hingga layanan publik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Link Nonton Piala Dunia 2026 Resmi dan Legal, Kualitas HD Bukan di Score808
- 2Di Balik Penolakan Keras Singapura ke Ekspor Satu Pintu DSI: Risiko Kehilangan Ratusan Miliar Dolar Arus Ekspor dan Devisa
- 3Prediksi Skor Meksiko vs Afrika Selatan: Analisis Lengkap, Head to Head, dan Susunan Pemain
- 4Prediksi Skor Belgia vs Mesir Lengkap dengan Statistik Head to Head dan Susunan Pemain
- 5Prediksi Skor Austria vs Yordania di Piala Dunia 2026: Das Team Diunggulkan, Mampukah Debutan Asia Membuat Kejutan?
- 6Prediksi Skor Prancis vs Senegal: Les Bleus Lebih Diunggulkan, Mampukah Singa Teranga Ulangi Kejutan Bersejarah?
- 7Cara Nonton Piala Dunia 2026 Gratis di TVRI dan HP via Aplikasi Streaming
- 8Prediksi Skor Korea Selatan vs Ceko di Piala Dunia 2026, Lengkap dengan Riwayat Head to Head dan Susunan Pemain
- 9Mahasiswa Bubarkan Diskusi di UGM, Qodari: Wajib Ada Dialog dalam Berdemokrasi
- 10Qodari: MBG Kontrak Politik Presiden Prabowo, Tidak Bisa Diminta Langsung Berhenti






