Akurat Logo

Adopsi AI di Indonesia Tinggi, tapi Pemanfaatannya Masih Belum Merata

Winna Wandayani | 6 September 2026, 23:58 WIB
Adopsi AI di Indonesia Tinggi, tapi Pemanfaatannya Masih Belum Merata
Adopsi AI di Indonesia Tinggi, tapi Pemanfaatannya Masih Belum Merata. (AKURAT.CO/Winna Wandayani)

AKURAT.CO Penggunaan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia terus berkembang. Namun, pemanfaatannya untuk pekerjaan kompleks masih terbatas pada kelompok tertentu.

Hal ini menjadi sorotan dalam white paper Closing the AI Capability Gap in Indonesia yang dirilis Southeast Asia Public Policy Institute (SEAPPI). Riset tersebut dilakukan dengan dukungan OpenAI dan bekerja sama dengan Vriens & Partners.

Data OpenAI menunjukkan Indonesia masuk lima besar negara dengan penggunaan ChatGPT untuk Codex dan analisis data. Temuan ini menunjukkan AI mulai digunakan untuk pemrograman dan pekerjaan analitis.

Meski begitu, penggunaan AI tingkat lanjut belum merata. Pengguna pada persentil ke-95 tercatat memakai token penalaran lebih dari 11 kali lipat dibandingkan pengguna median.

"Indonesia sudah memiliki fondasi yang kuat dalam adopsi AI. Tahap berikutnya adalah membantu lebih banyak orang dan organisasi memanfaatkan AI," ujar Ed Ratcliffe selaku Executive Director SEAPPI sekaligus penulis utama white paper, saat bincang media yang digelar di Jakarta, Kamis (3/9/2026).

Menurutnya, pemanfaatan AI membutuhkan keterampilan praktis dan panduan yang jelas. Koordinasi antarlembaga pemerintah juga perlu diperkuat, terutama di sektor dengan regulasi ketat.

Kesenjangan penggunaan AI juga terjadi di tingkat perusahaan. Riset Amazon Web Services (AWS) menyebut hanya 10 persen perusahaan pengadopsi AI di Indonesia yang telah mengubah bisnisnya melalui teknologi tersebut.

Sementara itu, 57 persen perusahaan menilai keterbatasan keterampilan digital menjadi salah satu hambatan utama. SEAPPI menilai organisasi juga perlu memperkuat infrastruktur, talenta, inovasi dan kepastian regulasi.

"Data kami menunjukkan bahwa pengguna di Indonesia sudah memanfaatkan AI untuk pekerjaan tingkat lanjut, termasuk pemrograman dan analisis data," ungkap Sandy Kunvatanagarn selaku Head of Policy, Southeast Asia di OpenAI.

Ia menilai perusahaan dapat memperluas penggunaan AI dengan memberi akses ke perangkat yang sesuai. Karyawan juga perlu dibekali keterampilan praktis dan proses kerja yang mendukung.

White paper tersebut mengidentifikasi empat sektor yang berpeluang memperluas pemanfaatan AI. Sektor tersebut mencakup publik, pendidikan, kesehatan, serta jasa keuangan.

Di sektor publik, penggunaan AI perlu didukung aturan pengadaan dan pemakaian yang jelas. Sementara sektor pendidikan, kesehatan dan keuangan dapat memanfaatkannya dengan tetap memperhatikan tata kelola.

Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi, Edwin Hidayat Abdullah, menilai white paper ini dapat menjadi rujukan bagi Indonesia. Khususnya dalam mendorong pemanfaatan AI yang lebih mendalam, bukan sekadar adopsi.

"White paper Closing the AI Capability Gap in Indonesia dapat menjadi salah satu rujukan penting untuk melihat kesiapan Indonesia dalam melangkah dari adopsi AI menuju pemanfaatan yang lebih mendalam dan bermakna," kata Edwin.

Menurut Edwin, ekosistem AI nasional perlu didukung penguatan komputasi, teknologi, investasi dan akses pasar. Hal ini diharapkan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat aplikasi AI di ASEAN.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.