5 Sentimen Negatif Pemicu IHSG Ambruk hingga Trading Halt
Hefriday | 18 Maret 2025, 15:34 WIB

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat dalam beberapa waktu terakhir.
Menurut Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, ada 5isu utama yang menyebabkan investor ragu dan pasar saham Indonesia melemah.
Pertama, hasil APBN Februari yang buruk serta outlook fiskal yang berat di 2025 menjadi perhatian utama investor. Kondisi keuangan negara yang kurang sehat membuat pelaku pasar khawatir terhadap stabilitas ekonomi dalam jangka panjang.
"Jika defisit anggaran terus melebar, pemerintah akan kesulitan dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi," terang Samirin dalam keterangannya, Selasa (18/3/2025).
Kedua, kebijakan pemerintah yang dinilai tidak realistis dan minim pendekatan teknokratis juga menjadi faktor yang memperburuk sentimen pasar. Investor cenderung mencari kepastian dalam kebijakan ekonomi.
Namun, jika kebijakan dianggap tidak memiliki dasar teknis yang kuat, pasar akan semakin ragu untuk berinvestasi.
Selain itu, ketiga, isu mega korupsi yang terus mencuat merusak kepercayaan investor terhadap sistem ekonomi dan pemerintahan. Korupsi dalam skala besar tidak hanya menghambat pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperburuk citra Indonesia di mata investor global.
"Ketika trust hilang, investor akan berpikir dua kali sebelum menanamkan modalnya di Indonesia," ujar Wijayanto.
Isu keempat yang semakin mengkhawatirkan adalah kembalinya wacana Dwi Fungsi ABRI, yang dikhawatirkan dapat memicu protes besar.
Situasi politik yang tidak stabil akan berdampak negatif terhadap perekonomian dan membuat investor enggan menempatkan dana mereka di Indonesia. Pasar saham sangat sensitif terhadap ketidakpastian politik, dan setiap potensi konflik dapat memicu aksi jual besar-besaran.
Terakhir, investor juga mulai cemas terhadap kemungkinan penurunan peringkat kredit Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional.
"Fitch dan Moody's akan mengumumkan penilaian mereka pada Maret-April, sementara S&P akan menyusul pada Juni-Juli. Jika peringkat kredit Indonesia turun, dampaknya bisa sangat serius terhadap arus modal asing," jelas Wijayanto.
Tiga isu pertama defisit APBN, kebijakan ekonomi yang tidak realistis, dan skandal korupsi merupakan masalah lama yang sudah membuat investor berhati-hati sejak beberapa waktu lalu.
"Namun, dua isu terakhir, yaitu Dwi Fungsi ABRI dan ancaman penurunan peringkat kredit, adalah faktor baru yang semakin memperburuk situasi," tukas Samirin.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 4Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 520 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 8Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026







