AKURAT.CO Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta pelaku jasa keuangan meningkatkan kewaspadaan dan pemantauan secara intensif terhadap risiko pasar, likuiditas, dan kredit di tengah eskalasi tensi geopolitik global, khususnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Venezuela.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar menegaskan, meski dampak langsung konflik tersebut belum terlihat signifikan terhadap perekonomian Indonesia dalam jangka pendek, risiko lanjutan tetap perlu dicermati secara serius.
“Sekalipun demikian, kita tentu juga harus mencermati perkembangan dan risikonya kepada perekonomian dan sektor jasa keuangan dalam jangka menengah panjang,” ujar Mahendra dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Desember 2025 yang digelar secara daring, Jumat (9/1/2026).
Baca Juga: Trump Serang Balik Partai Demokrat yang Mengkritik Serangan AS ke Venezuela
Mahendra menyampaikan, pelaku jasa keuangan dan pasar keuangan global saat ini masih terus mengamati dinamika konflik AS–Venezuela serta potensi dampaknya terhadap stabilitas politik dan pasar keuangan internasional.
“Setelah Ukraina oleh Rusia, Palestina atau Gaza oleh Israel, kini Venezuela oleh AS. Preseden-preseden ini menimbulkan kekhawatiran ke depan, karena terlihat dapat terjadi tanpa konsekuensi yang memberatkan secara nyata bagi negara pelaku,” kata Mahendra.
Mahendra menambahkan, situasi global kian kompleks seiring proyeksi lembaga multilateral dan internasional yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 tidak mencapai 3%.
Meski demikian, OJK menilai stabilitas sektor jasa keuangan nasional hingga akhir Desember 2025 tetap terjaga. Penilaian tersebut berdasarkan hasil RDKB yang digelar pada 24 Desember 2025.
Dari sisi global, Mahendra menyebut perekonomian dunia menunjukkan perbaikan terbatas, meski kinerja ekonomi Tiongkok masih berada di bawah ekspektasi. Aktivitas manufaktur global tercatat tetap berada di zona ekspansi, meskipun dengan laju pertumbuhan yang lebih moderat.
Di Amerika Serikat, perekonomian relatif solid dengan produk domestik bruto (PDB) kuartal III 2025 tumbuh 4,3%, meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya dan melampaui konsensus pasar.
Perkembangan tersebut mendorong perbedaan arah kebijakan moneter global. The Federal Reserve memangkas suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR), diikuti Bank of England yang juga menurunkan suku bunga pada Desember 2025.
Perbedaan kebijakan moneter tersebut turut memengaruhi volatilitas dan dinamika pasar keuangan global.
Di dalam negeri, OJK mencatat sejumlah indikator ekonomi masih menunjukkan ketahanan. Inflasi inti pada Desember 2025 mengalami peningkatan, sektor manufaktur tetap berada pada fase ekspansi, serta kinerja eksternal terjaga dengan neraca perdagangan yang kembali mencatatkan surplus.
OJK menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan pelaku industri jasa keuangan dan otoritas terkait guna menjaga stabilitas sistem keuangan nasional di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









