Akurat Logo

Laba Permata Bank Naik 16,6%, Kredit Tumbuh Terbatas 2,8 Persen

Esha Tri Wahyuni | 28 April 2026, 11:10 WIB
Laba Permata Bank Naik 16,6%, Kredit Tumbuh Terbatas 2,8 Persen
Ilustrasi Gedung Permata Bank (DOK. PT Bank Permata Tbk)

AKURAT.CO PT Bank Permata Tbk mencatat laba bersih tumbuh 16,6% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada kuartal I 2026, di tengah pertumbuhan kredit yang relatif terbatas sebesar 2,8% YoY menjadi Rp161 triliun.

Direktur Utama Permata Bank, Meliza M. Rusli menyatakan, kenaikan laba tersebut ditopang oleh pertumbuhan pendapatan non-bunga sebesar 11,9% YoY, serta strategi penyaluran kredit yang lebih selektif dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.

“Kinerja Permata Bank pada kuartal pertama 2026 mencerminkan ketahanan dan disiplin kami dalam menjalankan strategi bisnis. Didukung oleh permodalan dan likuiditas yang kuat, serta pertumbuhan kredit yang selektif, kami terus menjaga kinerja bank dalam menghadapi dinamika pasar," dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Baca Juga: Kredit Tumbuh Tipis, Permata Bank Siap Perkuat Fondasi Keuangan

Permata Bank mencatat Loan-to-Deposit Ratio (LDR) sebesar 87,1% per Maret 2026, naik dari 83,2% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, rasio likuiditas utama jauh melampaui ambang batas regulator:

  • Liquidity Coverage Ratio (LCR): 267,4% (minimum regulasi: 100%)

  • Net Stable Funding Ratio (NSFR): 122,9%

  • Rasio dana murah (CASA) juga meningkat signifikan menjadi 65,5%, dari 58,6% pada kuartal I 2025.

Di sisi risiko, rasio kredit bermasalah (NPL gross) berada di level 2,2%, sedikit meningkat dari 2,0% YoY.

Namun, indikator risiko yang lebih luas justru membaik, diantaranya yakni Loan at Risk (LAR) turun ke 6,4% dari 7,6% kemudian NPL Coverage sebesar 355,7% lalu LAR Coverage 120,6%.

Pertumbuhan kredit ditopang segmen korporasi yang naik 6,5% YoY menjadi Rp98,2 triliun, sementara segmen komersial tumbuh 1,8% menjadi Rp19,7 triliun.

Baca Juga: Inklusi Syariah Baru 13,41 Persen, Permata Bank Perluas Akses

Secara historis, pertumbuhan kredit perbankan Indonesia dalam kondisi normal berada di kisaran 8–12% per tahun, mengacu pada data Otoritas Jasa Keuangan sebelum periode volatilitas global.

Namun, sejak 2023 hingga 2026, sejumlah bank besar mulai mengadopsi strategi “selective lending” akibat:

  • Ketidakpastian suku bunga global

  • Risiko geopolitik

  • Perlambatan permintaan kredit sektor riil

Kondisi ini mendorong bank memperkuat likuiditas dan dana murah sebagai bantalan risiko.

Pertumbuhan kredit Permata yang hanya 2,8% YoY menjadi indikasi adanya tekanan dari sisi permintaan maupun kehati-hatian penyaluran.

Di sisi lain, tingginya likuiditas (LCR 267,4%) menunjukkan dana yang tersedia belum sepenuhnya tersalurkan ke sektor produktif.

Fenomena ini sejalan dengan tren “excess liquidity” yang sebelumnya juga muncul di industri perbankan nasional, di mana dana pihak ketiga tumbuh lebih cepat dibanding penyaluran kredit.

Permata Bank mencatat rasio permodalan (CAR) sebesar 33,9% dan CET-1 sebesar 25,9%, meningkat dari tahun sebelumnya.

Angka ini jauh di atas ketentuan minimum regulator dan menempatkan bank dalam posisi ekspansi yang relatif aman.

Dukungan dari Bangkok Bank sebagai pemegang saham pengendali juga memperkuat akses jaringan regional dan potensi ekspansi lintas negara.

Permata Bank Syariah mencatat laba operasional sebelum provisi sebesar Rp198,4 miliar, tumbuh 5,3% YoY.

Bank juga memperkenalkan strategi “Syariah untuk Semua” untuk memperluas inklusi keuangan berbasis syariah.

Selain itu, kolaborasi dengan ekosistem budaya dan UMKM, seperti dalam perhelatan Adeging Mangkunegaran ke-269, menjadi bagian dari strategi memperluas basis nasabah.

Manajemen menyatakan tetap berhati-hati dalam ekspansi kredit sambil menunggu stabilitas ekonomi global.

“Kami akan terus mengembangkan talenta, optimalisasi kapabilitas digital, serta memperluas kemitraan strategis,” ujar Meliza.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.