Soal Pelemahan, Pengamat: Rupiah Rentan Karena Validasi Investor Asing

AKURAT.CO Tekanan global yang belum mereda, nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Sehingga kondisi tersebut memunculkan pertanyaan besar mengenai daya tahan pasar keuangan domestik, terutama di tengah dominasi modal asing yang masih sangat kuat di pasar saham maupun surat utang negara.
Merespon hal tersebut, Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah yang terus terjadi belakangan ini memperlihatkan pasar keuangan Indonesia masih sangat bergantung pada sentimen dan validasi investor asing.
Baca Juga: Cermin Mengapa dan Bagaimana Habibie Bisa Balikkan Rupiah dari Rp16.800 ke Rp6.500 per Dolar AS
Menurutnya, kekuatan domestik belum cukup besar untuk menopang stabilitas pasar modal maupun nilai tukar secara mandiri.
Ibrahim mengatakan intervensi yang dilakukan otoritas moneter maupun pelaku domestik belum mampu menandingi kekuatan modal global yang mencapai ratusan triliun rupiah.
“Sebagus-bagusnya di Indonesia, di luar masih lebih bagus lagi. Anggaran di Indonesia hampir Rp10 triliun, di luar negeri bisa ratusan triliun,” kata Ibrahim saat dihubungi Akurat.co, Selasa (19/5/2026).
Berdasarkan data Bank Indonesia, rupiah sempat bergerak di kisaran Rp16.000 per USD pada perdagangan pasar spot. Tekanan juga datang dari penguatan indeks dolar AS akibat ketidakpastian geopolitik global dan arah suku bunga Amerika Serikat.
Di sisi lain, data kepemilikan asing di pasar surat berharga negara (SBN) masih cukup besar.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan Republik Indonesia dan Bank Indonesia, kepemilikan investor asing di SBN pada 2026 masih berada di kisaran 14%-15% dari total outstanding, sementara transaksi investor asing di pasar saham domestik masih menjadi salah satu penggerak utama IHSG.
Ibrahim menilai struktur pasar modal Indonesia membuat pergerakan saham domestik sangat sensitif terhadap keputusan lembaga global seperti MSCI dan JPMorgan.
Baca Juga: Cadangan Devisa April 2026 Turun ke USD146,2 Miliar Karena Stabilisasi Rupiah
“Semua tergantung validasi asing. MSCI, JPMorgan, semuanya ada di luar negeri. Mereka punya dana besar dan bisa memengaruhi pasar,” ujarnya.
Dirinya mencontohkan keluarnya saham PT Aneka Tambang Tbk dari indeks MSCI yang menurutnya berdampak langsung terhadap persepsi investor internasional.
Meski demikian, keputusan indeks global tersebut merupakan mekanisme umum dalam evaluasi likuiditas, kapitalisasi pasar, hingga standar investasi berkelanjutan.
Free Float Rendah Jadi Masalah Struktural
Selain dominasi asing, Ibrahim juga menyoroti rendahnya porsi free float sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia. Menurutnya, masih banyak saham dengan porsi kepemilikan publik minim sehingga rentan mengalami volatilitas tinggi.
“Harusnya free float itu 15 persen, bukan 3 persen atau 7,5 persen,” katanya.
Sebagai informasi, Bursa Efek Indonesia memang memiliki ketentuan minimum saham beredar di publik bagi perusahaan tercatat. Namun, dalam praktiknya, sejumlah saham dengan free float kecil masih aktif diperdagangkan dan rentan mengalami pergerakan harga ekstrem.
Data BEI menunjukkan investor domestik memang mendominasi jumlah transaksi harian pasar saham. Namun secara nilai aset, investor institusi asing masih memiliki pengaruh besar terutama pada saham berkapitalisasi jumbo atau blue chip.
Kondisi ini berbeda dengan negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan China yang memiliki kekuatan dana pensiun dan institusi domestik besar sebagai penyangga pasar ketika terjadi aksi jual asing.
Harga Pangan Apa Kabar?
Ibrahim juga menilai pelemahan rupiah mulai berdampak pada harga kebutuhan pokok masyarakat, meski pemerintah tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).
Dirinya mencontohkan fenomena penyusutan ukuran barang konsumsi atau shrinkflation yang mulai dirasakan masyarakat.
“Sekarang BBM nggak naik, tapi harga-harga naik. Itu karena rupiah melemah,” ujarnya.
Fenomena tersebut sejalan dengan data inflasi pangan dari Badan Pusat Statistik yang menunjukkan sejumlah komoditas makanan mengalami kenaikan harga dalam beberapa bulan terakhir, terutama bahan pangan impor dan produk berbasis kedelai.
Kedelai sendiri masih didominasi impor. Data Badan Pangan Nasional menunjukkan lebih dari 80% kebutuhan kedelai nasional berasal dari luar negeri sehingga sensitif terhadap pergerakan kurs dolar AS.
Kesalahan Logika Membandingkan Era Habibie
Ibrahim juga menanggapi pernyataan sejumlah pihak yang berharap rupiah bisa kembali menguat seperti era Presiden BJ Habibie pasca krisis 1998.
Menurutnya, kondisi ekonomi saat ini berbeda jauh dibanding masa tersebut.
“Zaman Habibie belum ada Android, belum ada transaksi digital seperti sekarang,” katanya.
Ia menilai arus transaksi valuta asing kini jauh lebih cepat karena perkembangan teknologi dan akses masyarakat terhadap instrumen keuangan global.
Rupiah memang sempat menguat drastis setelah krisis Asia 1998, dari kisaran Rp16.000 per USD menjadi sekitar Rp6.500 per dolar AS pada awal era reformasi.
Saat itu pemerintah melakukan restrukturisasi perbankan besar-besaran melalui merger bank dan program pemulihan ekonomi nasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal










