Akurat Logo

Petinggi OJK Akui Rebalancing Indeks MSCI Terus Tekan IHSG

Esha Tri Wahyuni | 21 Mei 2026, 19:34 WIB
Petinggi OJK Akui Rebalancing Indeks MSCI Terus Tekan IHSG
ADK OJK, Hasan Fawzi mengatakan ETF maupun reksa dana pasif yang mengacu pada indeks MSCI terus tertekan

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi indeks saham dengan tekanan terdalam di kawasan Asia Pasifik pada perdagangan Kamis (21/5/2026).

Pelemahan pasar dipicu kombinasi sentimen global dan domestik, terutama efek rebalancing indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang memaksa investor institusi melakukan penyesuaian portofolio terhadap saham-saham Indonesia.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi mengonfirmasi, tekanan IHSG berkorelasi langsung dengan pengumuman MSCI yang mengeluarkan sejumlah saham Indonesia dari konstituen indeks globalnya.

Baca Juga: IHSG Merosot 3,5 Persen ke 6.094 Usai Pemerintah Umumkan Pembentukan DSI Pengekspor Tunggal Komoditas Sawit hingga Ferro Alloy

Hazan mengatakan pihaknya memang mengonfirmasi ada korelasi pelemahan indeks dengan dampak dari rebalancing atau pengumuman MSCI, dimana saham-saham yang terdampak, yang sebelumnya masuk dalam konstituen indeks standard maupun small cap MSCI, mulai mengalami tekanan akibat kewajiban rebalancing portofolio.

"Terutama dari ETF maupun reksa dana pasif yang mengacu pada indeks tersebut,” kata Hasan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Berdasarkan data yang disampaikan OJK, terdapat sedikitnya 18 saham Indonesia yang terdampak perubahan komposisi indeks MSCI. Kondisi itu memicu aksi jual terutama pada saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi tujuan utama investor asing dan dana pasif global.

Tekanan tersebut dinilai belum akan mereda dalam waktu dekat. Hasan menyebut pasar masih menunggu implementasi efektif perubahan indeks MSCI yang dijadwalkan berlaku setelah penutupan perdagangan pada 29 Mei 2026.

Momentum itu berpotensi memicu arus keluar dana asing atau net outflow lanjutan dari pasar saham domestik.

“Nanti kita lihat apakah net-nya akan terjadi net outflow atau net inflow. Tapi memang pasar sudah mempersepsikan besar kemungkinan akan ada sebagian net outflow,” ujarnya.

Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan investor asing masih memegang peranan dominan di sejumlah saham big caps perbankan, komoditas, dan telekomunikasi.

Ketika saham keluar dari indeks MSCI, manajer investasi global berbasis ETF dan reksa dana indeks umumnya wajib mengurangi kepemilikan agar sesuai dengan komposisi terbaru indeks acuan mereka.

Selain faktor MSCI, IHSG juga mendapat tekanan dari sentimen domestik terkait arah kebijakan ekspor sumber daya alam strategis melalui skema satu pintu BUMN.

Kebijakan tersebut memunculkan kekhawatiran investor terhadap potensi perubahan mekanisme bisnis dan distribusi ekspor sejumlah emiten berbasis komoditas.

Hasan mengakui perubahan kebijakan pemerintah turut memengaruhi persepsi pelaku pasar, meski menurutnya dampak tersebut masih bersifat jangka pendek.

“Saya kira pasti direspons secara jangka pendek. Kami berharap nantinya ada penjelasan yang lebih rinci terkait pentahapan dan implementasi kebijakan tersebut sehingga memberikan kepastian arah pengembangan ke depan,” jelas Hasan.

Tekanan pasar juga terlihat dari pergerakan sejumlah saham yang sempat menyentuh Auto Reject Bawah (ARB) dalam perdagangan beberapa hari terakhir.

Namun OJK menilai koreksi yang terjadi masih berada dalam batas wajar karena mayoritas hanya terjadi pada saham yang terkena dampak langsung perubahan indeks MSCI.

“ARB yang terjadi memang merespons perkembangan itu. Sementara saham lain mengalami penurunan tetapi tidak sampai menyentuh batas bawah,” kata Hasan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.