Akurat Logo

80 Persen Emiten Untung, BEI Tepis Rumor Indonesia Turun ke Frontier Market

Esha Tri Wahyuni | 5 Juni 2026, 07:50 WIB
80 Persen Emiten Untung, BEI Tepis Rumor Indonesia Turun ke Frontier Market
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik

AKURAT.CO Bursa Efek Indonesia (BEI) optimistis Indonesia tetap mempertahankan status sebagai emerging market dalam peninjauan tahunan MSCI yang akan diumumkan pada Juni 2026.

Keyakinan tersebut didukung oleh penguatan fundamental perusahaan tercatat, di mana sebanyak 80% emiten berhasil membukukan laba bersih pada kuartal I-2026, menjadi tingkat profitabilitas tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik mengatakan, berbagai reformasi pasar yang telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir menjadi dasar kuat bagi Indonesia untuk tetap berada dalam kelompok negara berkembang dalam klasifikasi MSCI.

Baca Juga: Trump Klaim Netanyahu Ubah 'Arah' Pasukannya Setelah Diminta Tidak Membom Beirut

"Sekali lagi saya sampaikan, dari hal-hal konkret yang sudah kita lakukan, kami memiliki ekspektasi yang sangat tinggi Indonesia akan tetap di emerging market," ujar Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi respons atas beredarnya informasi di pasar yang menyebut Indonesia berpotensi turun kelas menjadi frontier market.

Jeffrey menegaskan informasi tersebut tidak benar dan meminta investor mengedepankan verifikasi sebelum mengambil keputusan investasi.

"Tentu kami sekali lagi mengimbau agar investor check dan cross check atas informasi yang beredar di pasar sebelum mengambil keputusannya," kata Jeffrey.

Data BEI menunjukkan kondisi fundamental emiten justru menguat sepanjang 2025 hingga awal 2026. Berdasarkan laporan keuangan seluruh perusahaan tercatat per akhir 2025, laba emiten secara agregat tumbuh lebih dari 21% dibandingkan tahun sebelumnya.

Momentum tersebut berlanjut pada kuartal I-2026. Khusus untuk kelompok saham LQ45 yang mewakili kapitalisasi pasar terbesar dan paling likuid di Bursa, pertumbuhan laba bersih mencapai 29,9% secara tahunan (year on year/yoy).

Tidak hanya dari sisi pertumbuhan laba, distribusi profitabilitas juga menunjukkan perbaikan signifikan. Sebanyak 80% emiten berhasil mencatatkan laba bersih pada kuartal pertama tahun ini.

Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir. Sebagai perbandingan, pada masa pandemi tahun 2020 hanya 63% perusahaan tercatat yang membukukan keuntungan. Sementara sepanjang 2021 hingga 2025, proporsi emiten yang mencetak laba berada di kisaran 73% hingga 76%.

"Hal ini menunjukkan bahwa fundamental perusahaan tercatat saat ini berada dalam kondisi yang baik dan dapat menjadi landasan bagi investor dalam mengambil keputusan," ujar Jeffrey.

Selain faktor fundamental emiten, BEI menilai berbagai reformasi yang dilakukan selama dua tahun terakhir menjadi poin penting dalam evaluasi MSCI.

Baca Juga: Pramono Anung Optimis Bank Jakarta Melantai di Bursa Efek Tahun Depan

Sejumlah langkah yang telah diterapkan antara lain peningkatan transparansi pasar, penyajian data yang lebih rinci kepada investor, serta pengungkapan informasi terkait konsentrasi kepemilikan saham atau high shareholding concentration.

Menurut Jeffrey, langkah tersebut bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan investor domestik maupun global setelah pasar sempat mengalami tekanan.

"Dengan kita meningkatkan transparansi, kita meningkatkan granularitas data, kita memberikan informasi terkait high shareholding concentration, itu seluruhnya adalah upaya kita untuk meningkatkan kembali kepercayaan investor kepada pasar kita," katanya.

MSCI selama ini tidak hanya menilai ukuran dan likuiditas pasar saham suatu negara, tetapi juga mempertimbangkan aspek aksesibilitas pasar, transparansi, efisiensi perdagangan, hingga kemudahan investor asing bertransaksi.

Karena itu, reformasi yang dilakukan otoritas pasar modal Indonesia dinilai menjadi faktor krusial dalam mempertahankan posisi Indonesia di kelompok emerging market.

Status emerging market memiliki dampak besar terhadap aliran investasi global ke Indonesia. Banyak dana investasi internasional, terutama passive fund dan exchange traded fund (ETF), menjadikan klasifikasi MSCI sebagai acuan dalam menentukan penempatan aset.

Jika suatu negara mengalami penurunan klasifikasi, maka berpotensi terjadi penyesuaian portofolio oleh investor global yang dapat memengaruhi arus modal masuk ke pasar saham domestik.

Karena itu, kepastian status Indonesia dalam indeks MSCI menjadi perhatian pelaku pasar dalam beberapa pekan terakhir.

Meski demikian, BEI menilai kondisi fundamental emiten saat ini memberikan gambaran yang lebih penting dibanding rumor yang beredar di pasar.

Data pertumbuhan laba yang mencapai hampir 30% pada kelompok LQ45 menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan besar Indonesia masih mampu mencatatkan kinerja yang solid di tengah ketidakpastian global, termasuk perlambatan ekonomi sejumlah negara dan dinamika suku bunga internasional.

Di tengah menunggu hasil Annual Market Classification Review, MSCI sebelumnya telah mengumumkan hasil peninjauan indeks atau MSCI May 2026 Index Review pada 13 Mei 2026.

Dalam evaluasi tersebut, MSCI mengeluarkan enam saham Indonesia dari MSCI Global Standard Index, yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Sementara itu, saham AMRT dimasukkan ke dalam MSCI Global Small Cap Index.

MSCI juga menghapus sejumlah saham dari MSCI Global Small Cap Index, di antaranya PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI).

PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), serta PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG).

Meski perubahan komposisi indeks tersebut sempat memicu perhatian investor, BEI menegaskan evaluasi indeks saham berbeda dengan penilaian klasifikasi negara.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.