Akurat Logo

Harga Pertamax Naik, Risiko Bengkak Subsidi Masih Dikaji

Andi Syafriadi | 12 Juni 2026, 00:10 WIB
Harga Pertamax Naik, Risiko Bengkak Subsidi Masih Dikaji
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa bersama Menteri Bappenas, Rachmat Pambudy dan Kepala OJK, Friderica Widyasari Dewi pada saat Raker bersama Komisi XI DPR RI

AKURAT.CO Pemerintah belum menghitung potensi tambahan anggaran subsidi energi akibat kemungkinan perpindahan konsumen dari BBM nonsubsidi Pertamax ke BBM bersubsidi Pertalite setelah kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pergeseran konsumsi dari Pertamax ke Pertalite memang berpotensi terjadi.

Namun, menurut dia, perpindahan tersebut diperkirakan tidak akan berlangsung secara masif karena sebagian pengguna Pertamax mempertimbangkan spesifikasi dan kebutuhan kendaraan mereka.

“Kami nggak hitung (potensi tambahan anggaran subsidi). Tapi begini, pasti ada beberapa persen yang pindah, cuma kan harusnya nggak semuanya pindah. Kenapa? Karena yang beli Pertamax tahu mobilnya cocok untuk Pertamax,” kata Purbaya saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Baca Juga: Fuad Bawazier: Isu Ganti Menkeu Purbaya Bukan Fakta Tapi Perlawanan terhadap Agenda Pemerintah

Pernyataan tersebut menunjukkan pemerintah masih mencermati respons pasar pascakenaikan harga BBM nonsubsidi, tanpa melakukan revisi proyeksi subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Secara teori, perpindahan konsumsi dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi dapat meningkatkan beban subsidi pemerintah apabila terjadi dalam jumlah besar. Sebab, Pertalite masih mendapatkan dukungan anggaran negara untuk menjaga harga jual di tingkat konsumen.

Meski demikian, Kementerian Keuangan belum menyiapkan perhitungan tambahan kebutuhan anggaran yang mungkin muncul akibat perubahan pola konsumsi tersebut.

Purbaya juga menyerahkan proyeksi besaran perpindahan konsumen kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang memiliki kewenangan dalam pengelolaan sektor energi dan distribusi BBM nasional.

Menurut dia, otoritas terkait lebih memahami potensi perubahan konsumsi masyarakat setelah penyesuaian harga Pertamax.

Baca Juga: Menkeu Purbaya: Konflik Global Reda, Rupiah Pasti Menguat

Diketahui, kenaikan harga BBM nonsubsidi umumnya menjadi perhatian pemerintah karena dapat memengaruhi perilaku konsumen, terutama dalam memilih jenis bahan bakar yang digunakan.

Di sisi lain, perubahan pola konsumsi juga berpotensi berdampak pada postur subsidi energi apabila terjadi pergeseran signifikan ke produk yang masih memperoleh dukungan APBN.

Hingga saat ini, pemerintah belum menyampaikan estimasi resmi mengenai tambahan kebutuhan subsidi maupun dampak fiskal yang mungkin timbul dari kenaikan harga Pertamax tersebut.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.