Akurat Logo

Rekomendasi Investasi DBS Q3 2026: Emas Tetap Menarik, Investor Diminta Waspadai Inflasi Baru akibat AI dan Geopolitik

Idham Nur Indrajaya | 1 Juli 2026, 07:14 WIB
Rekomendasi Investasi DBS Q3 2026: Emas Tetap Menarik, Investor Diminta Waspadai Inflasi Baru akibat AI dan Geopolitik
DBS merilis rekomendasi investasi Q3 2026. Simak alasan emas tetap diunggulkan di tengah inflasi, AI, dan gejolak geopolitik.

AKURAT.CO Selama bertahun-tahun, banyak investor mengandalkan satu asumsi sederhana: ketika pasar saham bergejolak, obligasi akan menjadi pelindung portofolio. Namun, memasuki 2026, asumsi tersebut mulai dipertanyakan. Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, inflasi yang sulit mereda, hingga ledakan investasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), peta investasi global mengalami perubahan yang tidak lagi bisa dijelaskan menggunakan pendekatan lama.

Perubahan inilah yang menjadi dasar rekomendasi investasi DBS Q3 2026. Melalui laporan terbaru DBS Group Research, Chief Investment Officer DBS Hou Wey Fook menilai investor perlu menyesuaikan strategi investasi dengan rezim ekonomi baru yang lebih rentan terhadap inflasi dan ketidakpastian pasar.

"Berbagai peristiwa terbaru telah mendorong investor untuk meninjau kembali asumsi-asumsi lama dalam penyusunan portofolio," ujar Hou Wey Fook dalam acara DBS CIO Insight yang diselenggarakan secara virtual, Selasa, 30 Juni 2026.

Menurutnya, dalam sekitar 18 bulan terakhir terjadi kesenjangan yang semakin lebar antara ekspektasi pasar dengan realisasi kebijakan ekonomi, khususnya terkait geopolitik, disiplin fiskal, dan inflasi. Kondisi tersebut membuat berbagai strategi investasi yang selama ini dianggap efektif mulai kehilangan relevansinya.

Alih-alih memasuki periode stabil pascapandemi, perekonomian global justru menghadapi kombinasi tantangan baru. Konflik geopolitik belum mereda, belanja pemerintah untuk sektor pertahanan meningkat, sementara investasi besar-besaran pada infrastruktur AI menciptakan sumber tekanan harga baru yang belum sepenuhnya diperhitungkan oleh pasar.


Mengapa DBS Mengubah Pandangan Investasi untuk Kuartal III 2026?

Perubahan rekomendasi DBS bukan muncul karena satu peristiwa tunggal, melainkan akibat bertemunya beberapa tren global yang saling memperkuat.

Berbeda dengan periode sebelumnya ketika inflasi terutama dipicu gangguan rantai pasok, tekanan harga kini datang dari berbagai arah secara bersamaan.

Beberapa faktor utama yang menjadi perhatian DBS meliputi:

  • konflik geopolitik yang berkepanjangan, terutama di Timur Tengah;

  • meningkatnya belanja fiskal untuk sektor pertahanan;

  • ekspansi investasi AI dalam skala besar;

  • potensi kenaikan suku bunga yang lebih lama dari perkiraan;

  • perubahan hubungan antara saham dan obligasi.

Hou Wey Fook menilai kombinasi faktor-faktor tersebut menciptakan rezim ekonomi baru yang lebih rentan terhadap inflasi dibandingkan ekspektasi pasar saat ini.

"Alih-alih meredakan ketegangan global dan memulihkan kebijakan fiskal yang penuh kehati-hatian, bauran kebijakan AS saat ini justru berkontribusi pada peningkatan risiko geopolitik, belanja pertahanan lebih tinggi, serta defisit yang lebih lebar secara struktural," katanya.

Bagi investor, kondisi ini memiliki implikasi penting. Ketika inflasi bertahan lebih lama, bank sentral cenderung mempertahankan suku bunga tinggi. Dampaknya tidak hanya dirasakan pasar obligasi, tetapi juga memengaruhi valuasi saham, biaya pendanaan perusahaan, hingga arah aliran modal global.

Dengan kata lain, tantangan investasi saat ini bukan sekadar memilih aset dengan potensi imbal hasil tertinggi, melainkan memahami bagaimana perubahan makroekonomi dapat mengubah karakter setiap kelas aset.


Mengapa AI Justru Dinilai Berpotensi Memicu Inflasi Baru?

Salah satu temuan paling menarik dalam laporan DBS adalah pandangan bahwa AI tidak hanya menjadi motor pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dapat memicu tekanan inflasi dalam jangka pendek.

Pandangan ini berbeda dengan anggapan umum yang menyebut AI identik dengan efisiensi dan penurunan biaya produksi.

Menurut Hou Wey Fook, manfaat AI terhadap produktivitas memang diyakini akan muncul dalam jangka panjang. Namun, fase yang sedang berlangsung saat ini justru ditandai oleh belanja modal yang sangat besar untuk membangun infrastruktur pendukung AI.

"Lonjakan investasi Artificial Intelligence (AI) juga mulai muncul sebagai faktor pendorong inflasi dalam jangka pendek. Meskipun AI menjanjikan peningkatan produktivitas, hal tersebut kemungkinan hanya berlaku untuk perspektif jangka panjang," ujarnya.

Fenomena tersebut terlihat dari meningkatnya pembangunan pusat data (data center), kebutuhan semikonduktor berteknologi tinggi, perangkat jaringan, hingga konsumsi listrik dalam jumlah besar.

Dalam praktiknya, pembangunan infrastruktur AI membutuhkan investasi miliaran dolar sebelum manfaat efisiensi benar-benar dirasakan oleh dunia usaha. Akibatnya, permintaan terhadap berbagai komponen penting meningkat secara bersamaan, sementara kapasitas pasokan belum mampu mengejar kenaikan tersebut.

Di sinilah muncul tekanan inflasi baru yang relatif berbeda dibanding beberapa tahun terakhir.

Menurut DBS, kondisi tersebut juga diperkuat oleh mulai pulihnya aktivitas ekonomi Tiongkok dari tekanan deflasi serta meningkatnya biaya komoditas akibat konflik Iran. Kombinasi berbagai faktor ini membuat risiko inflasi menjadi lebih kompleks dibanding hanya bergantung pada harga energi.

Bagi investor, perubahan ini menjadi sinyal bahwa perkembangan AI tidak bisa lagi dilihat semata sebagai peluang investasi di saham teknologi. Infrastruktur pendukung AI, sektor energi, hingga perusahaan penyedia peralatan industri juga berpotensi menjadi penerima manfaat dari siklus belanja modal baru yang sedang berlangsung.

Baca Juga: Cek Harga Perak Antam Hari Ini 30 Juni, Alternatif Investasi Saat Emas Turun!

Baca Juga: 8 Cara Membeli Saham Online untuk Pemula, Panduan Mudah dari Daftar hingga Mulai Investasi

Mengapa Emas Kembali Menjadi Pilihan Utama di Tengah Ketidakpastian?

Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, DBS Group Research tetap mempertahankan pandangan positif terhadap emas. Meski harga emas sempat mengalami tekanan akibat aksi ambil untung dan perubahan ekspektasi suku bunga, logam mulia tersebut dinilai masih menjadi salah satu instrumen terbaik untuk menjaga daya tahan portofolio.

Menurut Hou Wey Fook, emas sempat diperdagangkan layaknya aset berisiko karena tingginya aktivitas spekulatif di pasar. Namun kondisi tersebut diperkirakan hanya bersifat sementara.

"Meskipun ada tantangan inflasi jangka menengah, kami tetap mempertahankan sikap konstruktif terhadap emas mengingat adanya pendorong struktural seperti dedolarisasi dan penurunan nilai intrinsik mata uang," ujar Hou.

Pandangan ini menunjukkan bahwa DBS tidak hanya melihat emas sebagai aset pelindung ketika terjadi gejolak pasar. Lebih jauh, emas diproyeksikan memperoleh dukungan dari perubahan struktural ekonomi global, termasuk tren dedolarisasi yang semakin berkembang di berbagai negara.

Dalam kondisi normal, kenaikan suku bunga memang cenderung mengurangi daya tarik emas karena investor dapat memperoleh imbal hasil lebih tinggi dari instrumen berbasis bunga. Namun DBS menilai situasi saat ini jauh lebih kompleks.

Jika inflasi hanya meningkat secara moderat, emas memang berpotensi menghadapi tekanan. Sebaliknya, apabila inflasi berkembang menjadi lebih ekstrem akibat kombinasi konflik geopolitik, lonjakan harga energi, dan belanja modal AI, emas justru diperkirakan kembali menunjukkan performa yang kuat.

Bagi investor, kondisi ini memberikan pelajaran penting bahwa fungsi emas kini bukan sekadar instrumen lindung nilai terhadap pelemahan pasar saham, tetapi juga sebagai pelindung daya beli ketika tekanan inflasi sulit dikendalikan.

Strategi Investasi Saham Berubah, Bukan Lagi Sekadar Memilih Negara

Selain emas, DBS juga menyoroti perubahan mendasar dalam strategi investasi saham.

Jika sebelumnya banyak investor menentukan alokasi berdasarkan negara atau kawasan, kini pendekatan tersebut dinilai semakin kurang efektif. Faktor penentu utama justru bergeser pada kemampuan masing-masing perusahaan dalam menghadapi perubahan ekonomi global.

DBS mencatat reli pasar saham sejak akhir Maret sebagian besar dipimpin oleh perusahaan-perusahaan yang berkaitan dengan AI. Namun, kenaikan tersebut tidak terjadi secara merata sehingga menciptakan kesenjangan kinerja yang cukup besar antarsektor.

"Kami memperkirakan antusiasme investor terhadap AI akan tetap didukung oleh pertumbuhan laba, namun kami menyarankan pendekatan barbell, dengan memadukan eksposur AI dengan sektor-sektor kurang terpapar teknologi tersebut," kata Hou.

Strategi barbell yang dimaksud adalah mengombinasikan investasi pada sektor berpotensi tumbuh tinggi, seperti AI, dengan sektor yang lebih defensif agar portofolio tetap seimbang ketika volatilitas meningkat.

DBS juga mengingatkan bahwa harga energi yang diperkirakan bertahan tinggi dalam waktu lebih lama dapat menggerus margin keuntungan berbagai perusahaan. Oleh karena itu, investor disarankan lebih selektif memilih emiten yang memiliki intensitas penggunaan energi lebih rendah atau mampu mengalihkan kenaikan biaya kepada konsumen.

Analisis ini memperlihatkan bahwa tema AI memang masih menjadi penggerak utama pasar, tetapi investor tidak lagi cukup hanya membeli saham perusahaan teknologi. Perusahaan penyedia infrastruktur AI, produsen semikonduktor, penyedia perangkat jaringan, hingga perusahaan pendukung sektor energi dinilai memiliki peluang pertumbuhan yang tidak kalah menarik.

Obligasi Masih Menarik, tetapi Selektivitas Menjadi Kunci

Di pasar obligasi, DBS mempertahankan sikap netral, tetapi memberikan penekanan kuat pada pentingnya kualitas penerbit.

Menurut Hou, tekanan inflasi yang masih tinggi membuat peluang penurunan suku bunga semakin kecil. Bahkan pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat dibandingkan perkiraan sebelumnya.

"Krisis Timur Tengah, bersama dengan ketahanan makro yang didorong oleh belanja modal terkait AI, akan menjaga tekanan inflasi tetap tinggi dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut di pasar negara maju," ujarnya.

Dalam situasi tersebut, DBS lebih memilih obligasi korporasi berkualitas tinggi dibandingkan mengejar imbal hasil besar dari instrumen dengan risiko kredit yang lebih tinggi.

Untuk pasar berkembang, DBS menilai investor perlu mempertimbangkan tiga faktor utama sebelum membeli obligasi, yakni:

  • negara memiliki tingkat kemandirian energi yang baik;

  • kebijakan ekonomi yang kredibel;

  • kompensasi risiko yang memadai.

Selain itu, disiplin dalam memilih penerbit juga menjadi faktor yang sangat menentukan. Perusahaan dengan fundamental kuat dan kemampuan membayar utang dinilai akan lebih mampu bertahan apabila suku bunga tinggi berlangsung lebih lama.

Portofolio 60/40 Mulai Kehilangan Efektivitas

Salah satu pesan paling penting dalam laporan DBS adalah berubahnya efektivitas strategi investasi klasik 60% saham dan 40% obligasi.

Selama puluhan tahun, kombinasi tersebut menjadi acuan utama karena kedua aset biasanya bergerak berlawanan. Ketika pasar saham melemah, obligasi cenderung menguat sehingga mampu meredam kerugian portofolio.

Namun, menurut DBS, pola tersebut kini tidak lagi selalu berlaku.

Dalam rezim inflasi yang tinggi, saham dan obligasi justru memiliki korelasi yang semakin besar. Artinya, keduanya berpotensi mengalami tekanan pada waktu yang bersamaan.

Perubahan inilah yang membuat investor perlu memperluas diversifikasi ke aset lain seperti emas, komoditas tertentu, maupun aset alternatif.

Jika diibaratkan seperti sebuah bangunan, strategi 60/40 selama ini hanya bertumpu pada dua pilar utama. Ketika kedua pilar tersebut sama-sama mengalami tekanan akibat inflasi dan suku bunga tinggi, bangunan portofolio menjadi jauh lebih rentan. Penambahan aset alternatif berfungsi sebagai pilar tambahan agar keseimbangan portofolio tetap terjaga.

Pandangan DBS tersebut mencerminkan perubahan paradigma investasi global. Fokus investor tidak lagi sekadar mengejar imbal hasil tertinggi, melainkan membangun portofolio yang mampu bertahan menghadapi berbagai skenario ekonomi yang semakin sulit diprediksi.

Rekomendasi Investasi DBS untuk Kuartal III 2026: Aset Mana yang Lebih Menarik?

Berdasarkan proyeksi makroekonomi dan kondisi pasar saat ini, DBS Group Research mempertahankan sikap netral terhadap saham dan obligasi secara keseluruhan, tetapi memberikan rekomendasi yang lebih spesifik untuk masing-masing kelas aset.

Untuk saham, DBS menilai peluang masih terbuka, terutama pada sektor-sektor yang menikmati manfaat dari siklus investasi AI dan energi. Namun, investor diingatkan untuk tidak hanya mengejar saham-saham yang sedang naik daun, melainkan memperhatikan kualitas fundamental perusahaan dan dampak kenaikan biaya energi terhadap profitabilitas.

Di sisi obligasi, DBS lebih menyukai obligasi korporasi berkualitas tinggi dengan durasi menengah dibandingkan obligasi pemerintah. Pendekatan ini dinilai lebih mampu memberikan keseimbangan antara potensi imbal hasil dan risiko di tengah kemungkinan suku bunga bertahan tinggi lebih lama.

Sementara itu, emas dan aset alternatif justru menjadi kelompok aset yang memperoleh rekomendasi tambah bobot (overweight).

Secara ringkas, alokasi aset taktis DBS untuk kuartal III 2026 meliputi:

  • Saham: Netral

  • Obligasi: Netral

  • Saham Asia di luar Jepang: Tambah bobot

  • Obligasi korporasi pasar maju: Tambah bobot

  • Emas: Tambah bobot

  • Aset swasta dan hedge funds: Tambah bobot

  • Kas: Kurangi bobot

Rekomendasi tersebut mencerminkan keyakinan DBS bahwa peluang investasi masih tersedia, tetapi investor perlu lebih aktif melakukan seleksi dibanding hanya mengikuti pergerakan pasar secara umum.

Apa Implikasinya bagi Investor Indonesia?

Meski laporan DBS berfokus pada kondisi global, sejumlah rekomendasinya memiliki relevansi yang kuat bagi investor Indonesia.

Selama beberapa tahun terakhir, banyak investor ritel cenderung membangun portofolio dengan pendekatan sederhana, misalnya hanya mengombinasikan saham dan obligasi atau berfokus pada sektor teknologi yang sedang populer. Namun, lanskap ekonomi yang berubah membuat pendekatan tersebut perlu dievaluasi kembali.

Ada setidaknya tiga pelajaran penting yang dapat dipetik.

Pertama, diversifikasi menjadi semakin penting.

Diversifikasi kini bukan hanya berarti memiliki beberapa jenis aset, melainkan memastikan setiap aset memiliki karakteristik risiko yang berbeda. Ketika saham dan obligasi sama-sama berpotensi tertekan akibat inflasi, keberadaan emas atau aset alternatif dapat membantu menjaga stabilitas portofolio.

Kedua, investor perlu memahami faktor makroekonomi global.

Perubahan harga minyak akibat konflik Timur Tengah, kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, hingga investasi besar-besaran di sektor AI kini memiliki pengaruh yang semakin besar terhadap pasar keuangan, termasuk di Indonesia.

Artinya, keputusan investasi tidak lagi cukup didasarkan pada kinerja perusahaan semata, tetapi juga perlu mempertimbangkan arah ekonomi global.

Ketiga, kualitas aset menjadi lebih penting dibanding mengejar keuntungan tinggi dalam waktu singkat.

DBS berulang kali menekankan pentingnya memilih perusahaan maupun instrumen investasi yang memiliki fundamental kuat. Pendekatan tersebut dinilai lebih relevan dibanding sekadar mengejar aset dengan potensi imbal hasil tinggi tetapi disertai risiko yang jauh lebih besar.

Bagi investor pemula, pesan ini menjadi pengingat bahwa membangun portofolio bukan hanya soal memilih aset yang sedang populer, melainkan memahami alasan di balik setiap keputusan investasi.

Lanskap Investasi Sedang Berubah, Investor Perlu Lebih Adaptif

Pandangan DBS Group Research menunjukkan bahwa dunia sedang memasuki fase baru dalam siklus ekonomi global. Inflasi tidak lagi hanya dipengaruhi oleh harga energi atau gangguan rantai pasok, tetapi juga oleh investasi besar-besaran pada infrastruktur AI, meningkatnya belanja pertahanan, hingga perubahan kebijakan fiskal di berbagai negara.

Kondisi tersebut membuat strategi investasi yang selama ini dianggap "aman" tidak selalu memberikan hasil yang sama.

Di sisi lain, peluang baru juga bermunculan. Infrastruktur AI, sektor energi, emas, hingga obligasi korporasi berkualitas tinggi diperkirakan menjadi beberapa aset yang mampu bertahan lebih baik dalam lingkungan ekonomi yang penuh ketidakpastian.

Seperti disampaikan Hou Wey Fook, investor perlu meninjau kembali asumsi-asumsi lama dalam menyusun portofolio. Pesan tersebut bukan sekadar ajakan untuk mengubah komposisi investasi, tetapi juga mengingatkan bahwa keberhasilan berinvestasi semakin ditentukan oleh kemampuan memahami perubahan rezim ekonomi global.

Pada akhirnya, rekomendasi investasi DBS untuk kuartal III 2026 memperlihatkan satu benang merah yang jelas: era mengejar imbal hasil tanpa memperhatikan risiko tampaknya mulai bergeser menuju era investasi yang lebih selektif, adaptif, dan berbasis kualitas.

Bagi investor Indonesia, memahami perubahan ini sejak dini dapat menjadi modal penting untuk membangun portofolio yang lebih tangguh dalam menghadapi dinamika pasar ke depan.

Pantau terus perkembangan ekonomi global dan kebijakan pasar keuangan agar setiap keputusan investasi didasarkan pada analisis yang matang, bukan sekadar mengikuti tren sesaat.


Baca Juga: Rosan: Investasi Harus Lahirkan Inovasi, Bukan Hanya Tambah Modal

Baca Juga: Pegadaian Gandeng Pupuk Kaltim Perluas Akses Investasi Emas Karyawan

FAQ

1. Apa rekomendasi investasi DBS untuk kuartal III 2026?

DBS Group Research merekomendasikan posisi netral terhadap saham dan obligasi secara umum, tetapi menambah bobot pada emas, obligasi korporasi berkualitas tinggi, aset alternatif, serta saham Asia di luar Jepang yang dinilai memiliki prospek lebih baik.

2. Mengapa DBS tetap merekomendasikan emas?

Menurut DBS, emas masih didukung oleh faktor struktural seperti tren dedolarisasi, penurunan nilai intrinsik mata uang, serta meningkatnya risiko inflasi global. Dalam kondisi ketidakpastian ekonomi, emas dinilai tetap berperan sebagai aset lindung nilai (safe haven).

3. Mengapa AI dianggap dapat memicu inflasi?

DBS menjelaskan bahwa pada fase saat ini, pengembangan AI membutuhkan investasi besar untuk membangun pusat data, membeli semikonduktor, memperluas jaringan, dan memenuhi kebutuhan energi. Lonjakan permintaan tersebut berpotensi meningkatkan tekanan harga sebelum manfaat produktivitas AI benar-benar dirasakan.

4. Mengapa strategi investasi 60/40 mulai dipertanyakan?

Strategi klasik 60% saham dan 40% obligasi mulai kehilangan efektivitas karena kedua aset tersebut kini memiliki korelasi yang lebih tinggi ketika inflasi meningkat. Akibatnya, obligasi tidak selalu mampu mengimbangi penurunan pasar saham seperti pada periode sebelumnya.

5. Sektor apa yang dinilai memiliki prospek menarik menurut DBS?

DBS melihat peluang pada perusahaan yang memperoleh manfaat dari siklus belanja modal AI dan energi, termasuk sektor semikonduktor, infrastruktur jaringan, perangkat keras khusus, serta penyedia layanan dan peralatan di industri energi.

6. Apa pelajaran penting bagi investor Indonesia?

Investor Indonesia disarankan untuk lebih memperhatikan diversifikasi portofolio, memahami pengaruh faktor makroekonomi global terhadap pasar domestik, serta memprioritaskan aset dan perusahaan dengan fundamental yang kuat dibanding hanya mengejar potensi keuntungan jangka pendek.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.