Akurat Logo

Bitcoin Gagal Bertahan di US$80.000, September Jadi Ujian Besar Pasar Kripto

Idham Nur Indrajaya | 2 September 2026, 20:23 WIB
Bitcoin Gagal Bertahan di US$80.000, September Jadi Ujian Besar Pasar Kripto
Bitcoin gagal bertahan di US$80.000. Simak peran ETF, The Fed, inflasi, dan data ekonomi AS yang akan menentukan arah Bitcoin September 2026. - Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Bitcoin memasuki penghujung Agustus 2026 dengan pergerakan yang semakin volatil. Sempat menembus US$81.000, harga Bitcoin kini kembali bergerak di sekitar US$78.000. Kondisi tersebut membuat level US$80.000 menjadi perhatian utama pasar karena Bitcoin belum mampu mengubah area tersebut menjadi pijakan baru.

Data CoinGecko menunjukkan Bitcoin berada di kisaran US$78.300, dengan rentang perdagangan 24 jam sekitar US$77.314 hingga US$78.310. Dalam beberapa pekan terakhir, aset kripto dengan kapitalisasi terbesar ini sebenarnya masih mencatat penguatan signifikan.

Bitcoin naik sekitar 26% dari US$62.700 pada 12 Agustus menjadi US$81.235 pada pekan berikutnya. Namun, setelah reli tersebut, Bitcoin justru gagal mempertahankan momentum di atas US$80.000.

Situasi ini membuat September menjadi bulan penting untuk menguji apakah penguatan Bitcoin sepanjang Agustus memiliki fondasi permintaan yang cukup kuat untuk berlanjut atau justru memasuki fase konsolidasi.

Ringkasan

Level US$80.000 bukan sekadar angka bulat dalam pergerakan Bitcoin. Area tersebut telah menjadi batas psikologis yang mempertemukan ekspektasi bullish investor dengan potensi aksi ambil untung.

Kenaikan sekitar 26% hanya dalam beberapa pekan membuat posisi long di pasar semakin ramai. Pada saat yang sama, volume perdagangan yang mulai melambat meningkatkan risiko koreksi apabila permintaan baru tidak cukup kuat untuk menyerap aksi jual.

Tekanan semakin terlihat setelah pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh dalam Jackson Hole pada 28 Agustus 2026. Bitcoin sempat turun di bawah US$77.000 sebelum kemudian kembali stabil di sekitar US$78.000.

Warsh menyampaikan bahwa inflasi Amerika Serikat masih berada di atas target 2%. Perkembangan inflasi juga dinilai belum menunjukkan perbaikan yang cukup sehingga The Fed masih memiliki pekerjaan rumah apabila inflasi tidak bergerak menuju target dengan cepat.

Pernyataan tersebut dibaca pasar sebagai sinyal hawkish. Bagi aset berisiko seperti Bitcoin, sikap moneter yang lebih ketat dapat menjadi tantangan karena ekspektasi penurunan suku bunga menjadi lebih terbatas.

CEO & Founder FLOQ Yudhono Rawis menilai koreksi setelah Bitcoin menyentuh area US$80.000 tidak otomatis menghilangkan prospek positif pasar kripto.

“Reli Bitcoin sepanjang Agustus menunjukkan bahwa minat investor terhadap aset kripto masih sangat kuat. Namun, setelah gagal bertahan di atas US$80.000, pasar sekarang masuk ke fase pembuktian. Investor perlu melihat apakah permintaan spot dan arus dana institusional tetap mampu menyerap volatilitas yang datang dari kebijakan The Fed,” ujar Yudho melalui hasil riset yang diterima AKURAT.CO, dikutip Rabu, 2 September 2026.

Pernyataan tersebut menunjukkan perubahan fokus pasar. Setelah Bitcoin mengalami reli kuat pada Agustus, perhatian investor kini tidak lagi hanya tertuju pada seberapa tinggi harga dapat bergerak.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah terdapat cukup permintaan untuk mempertahankan harga ketika sentimen makro mulai berubah.

Mengapa US$80.000 Menjadi Level Kunci Bitcoin?

Dalam analisis teknikal sederhana, US$80.000 dapat dipandang sebagai resistance atau area yang membutuhkan tekanan beli kuat untuk ditembus secara berkelanjutan.

Bitcoin memang telah bergerak di atas US$80.000 dan sempat mencapai US$81.235. Masalahnya, harga belum mampu bertahan secara konsisten di atas level tersebut.

Kondisi ini menciptakan perbedaan penting antara menembus resistance dan mengubah resistance menjadi support.

Jika Bitcoin kembali menembus US$80.000 kemudian mampu bertahan di atasnya, area tersebut berpotensi berubah menjadi support baru. Situasi itu akan memberikan sinyal bahwa tekanan beli cukup kuat untuk menyerap aksi ambil untung.

Sebaliknya, jika Bitcoin berulang kali gagal melewati US$80.000, pasar berpotensi memasuki fase konsolidasi. Investor kemudian kemungkinan akan menunggu katalis baru sebelum menentukan arah berikutnya.

Dengan demikian, pertanyaan terbesar pada September bukan hanya apakah Bitcoin mampu menyentuh US$80.000 lagi.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah Bitcoin mampu tinggal di atas US$80.000.

Arus ETF Bitcoin Mulai Menjadi Indikator Penting

Pergerakan harga Bitcoin perlu dibaca bersama arus dana institusional. Kehadiran ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat membuat aliran dana masuk dan keluar produk investasi tersebut menjadi salah satu indikator penting untuk melihat kekuatan permintaan.

Pada pekan yang berakhir 24 Agustus, ETF Bitcoin dan Ethereum di Amerika Serikat mencatat total net inflow sekitar US$2,71 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar US$1,92 miliar berasal dari ETF Bitcoin.

Angka tersebut menunjukkan bahwa minat institusional masih cukup besar ketika Bitcoin mengalami reli.

Namun, perkembangan setelahnya perlu diperhatikan. Berdasarkan data Farside, ETF Bitcoin spot Amerika Serikat mencatat net outflow sekitar US$201,9 juta pada 28 Agustus setelah sebelumnya mengalami beberapa hari dengan arus dana positif.

Perubahan tersebut tidak otomatis berarti tren bullish telah berakhir. Namun, bagi pasar yang baru saja mengalami kenaikan sekitar 26%, pelemahan arus ETF menjadi sinyal yang patut diperhatikan.

Yudhono menilai konsistensi permintaan institusional justru menjadi salah satu indikator yang lebih penting daripada pergerakan harga harian.

“Penting saat ini bukan hanya melihat Bitcoin naik atau turun dalam satu hari. Pasar perlu melihat apakah demand institusional tetap konsisten. Jika arus ETF kembali positif ketika Bitcoin berada di area US$77.000–US$80.000, itu bisa menjadi indikasi bahwa investor besar masih melihat koreksi sebagai kesempatan untuk membangun posisi,” tuturnya.

Pandangan tersebut memberikan cara berbeda dalam membaca koreksi Bitcoin. Penurunan harga tidak selalu identik dengan memburuknya prospek apabila penurunan tersebut justru diikuti akumulasi dari investor institusional.

Sebaliknya, harga yang bertahan tinggi tetapi disertai arus dana keluar secara konsisten juga perlu diwaspadai.

Baca Juga: Platform Kripto Tak Cukup Andalkan Transaksi Aman, Loyalitas Member Jadi Kunci

Baca Juga: Cara Menganalisis Fundamental Kripto: Panduan Lengkap untuk Pemula

The Fed Bisa Menjadi Penentu Arah Bitcoin pada September

Faktor berikutnya adalah kebijakan moneter Amerika Serikat. Bitcoin semakin sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga karena aset tersebut diperdagangkan dalam ekosistem keuangan global yang sangat dipengaruhi likuiditas.

Pernyataan Kevin Warsh di Jackson Hole memperlihatkan bahwa The Fed belum ingin memberikan sinyal kebijakan yang terlalu mudah dibaca pasar.

Warsh menegaskan bahwa The Fed tidak ingin terlalu bergantung pada forward guidance. Pasar justru diharapkan menarik kesimpulan berdasarkan perkembangan ekonomi aktual.

Bagi Bitcoin, pendekatan tersebut membuat data ekonomi menjadi semakin penting.

Pasar tidak bisa hanya mengandalkan ekspektasi mengenai apa yang akan dilakukan The Fed. Investor perlu melihat apakah data tenaga kerja dan inflasi benar-benar memberikan ruang bagi kebijakan moneter yang lebih longgar.

Yudhono memperkirakan September akan menjadi periode yang sangat bergantung pada data.

“September kemungkinan menjadi bulan yang jauh lebih data-driven. Pasar akan sangat sensitif terhadap angka tenaga kerja dan inflasi AS. Jika data menunjukkan ekonomi mulai mendingin tanpa inflasi kembali melonjak, ruang bagi aset berisiko untuk kembali menguat akan terbuka. Sebaliknya, inflasi yang tetap tinggi dapat memperpanjang tekanan terhadap Bitcoin dan aset kripto lainnya,” jelas Yudho.

Artinya, arah Bitcoin pada September tidak hanya ditentukan oleh grafik harga. Data ekonomi Amerika Serikat berpotensi menjadi katalis yang menentukan apakah investor kembali agresif atau memilih bertahan lebih defensif.

Data Apa yang Harus Dipantau Investor Bitcoin pada September?

Setidaknya terdapat tiga agenda ekonomi Amerika Serikat yang layak menjadi perhatian pasar kripto pada September 2026.

1. Data tenaga kerja AS

Data pekerjaan Amerika Serikat dijadwalkan menjadi salah satu katalis awal pada 4 September.

Pasar akan melihat apakah kondisi tenaga kerja mulai menunjukkan pelemahan. Jika ekonomi mulai mendingin secara terkendali, ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar dapat kembali menguat.

Situasi tersebut berpotensi mendukung aset berisiko, termasuk Bitcoin.

Sebaliknya, data tenaga kerja yang terlalu kuat dapat membuat pasar menilai bahwa perekonomian masih cukup panas. Ekspektasi pelonggaran moneter pun berpotensi berkurang.

2. Inflasi AS

Data inflasi Agustus dijadwalkan pada 11 September.

Inflasi menjadi sangat penting setelah Warsh menegaskan bahwa tekanan harga masih berada di atas target 2%.

Jika inflasi lebih tinggi dari ekspektasi, pasar dapat kembali memperhitungkan risiko kebijakan moneter yang lebih ketat. Bitcoin pun berpotensi menghadapi tekanan.

Jika inflasi menunjukkan penurunan tanpa tanda-tanda pelemahan ekonomi yang terlalu tajam, kondisi tersebut dapat menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi aset berisiko.

3. FOMC September

Pertemuan Federal Open Market Committee atau FOMC dijadwalkan berlangsung pada 15–16 September 2026.

Pertemuan tersebut menjadi titik penting karena pasar akan membandingkan keputusan kebijakan dengan data ekonomi terbaru.

Dengan pendekatan The Fed yang lebih menekankan data aktual, investor Bitcoin perlu memperhatikan bukan hanya keputusan suku bunga, tetapi juga bagaimana bank sentral membaca inflasi dan kondisi ekonomi.

Bitcoin Bisa Bullish Lagi Jika US$80.000 Berubah Menjadi Support

Ada satu indikator sederhana yang dapat digunakan untuk membaca struktur pasar Bitcoin dalam beberapa pekan ke depan: posisi US$80.000.

Skenario bullish akan semakin kuat apabila Bitcoin mampu kembali menembus US$80.000 dan bertahan di atas level tersebut. Penguatan akan semakin meyakinkan apabila pergerakan tersebut dibarengi arus masuk ETF yang kembali solid dan kondisi makro yang lebih mendukung.

Dalam skenario ini, US$80.000 tidak lagi berfungsi sebagai batas atas. Level tersebut berubah menjadi support yang memberikan dasar bagi Bitcoin untuk melanjutkan tren kenaikan.

Sebaliknya, skenario defensif muncul apabila Bitcoin terus gagal melewati US$80.000, arus ETF tetap menunjukkan outflow dan data inflasi AS kembali tinggi.

Investor juga perlu memperhatikan kemungkinan bahwa reli Agustus telah membawa harga terlalu cepat naik. Kenaikan sekitar 26% dari pertengahan Agustus memberikan ruang bagi aksi ambil untung, terutama jika katalis baru tidak cukup kuat.

Skenario Bitcoin September: Bullish atau Defensif?

Secara sederhana, pergerakan Bitcoin pada September dapat dibaca melalui tiga lapisan.

Pertama, harga. Apakah Bitcoin mampu menembus US$80.000 dan menjadikannya support?

Kedua, ETF. Apakah arus dana institusional kembali masuk ketika Bitcoin mengalami koreksi?

Ketiga, makro. Apakah data tenaga kerja dan inflasi Amerika Serikat memberikan ruang bagi aset berisiko untuk kembali menguat?

Ketiga indikator tersebut perlu dibaca bersamaan.

Misalnya, Bitcoin turun ke US$77.000 tetapi ETF kembali mencatat inflow besar. Situasi tersebut berbeda dengan Bitcoin turun ke US$77.000 bersamaan dengan ETF mencatat outflow berkepanjangan dan inflasi AS meningkat.

Perbedaan tersebut penting karena harga yang sama dapat memiliki makna berbeda tergantung kondisi fundamental di belakangnya.

Simulasi sederhana

Bayangkan Bitcoin kembali menyentuh US$80.000 pada pertengahan September.

Jika harga kemudian bertahan di atas level tersebut, ETF mencatat inflow dan data inflasi tidak menunjukkan kejutan negatif, momentum bullish berpotensi kembali mendapatkan dukungan.

Sebaliknya, apabila Bitcoin menyentuh US$80.000 tetapi kembali ditolak, sementara ETF terus mengalami outflow dan inflasi tetap tinggi, pasar dapat memilih berkonsolidasi lebih lama.

Simulasi tersebut bukan prediksi harga, melainkan cara membaca hubungan antara harga, arus dana dan kondisi makro.

Mengapa September Penting bagi Pasar Kripto Indonesia?

Pergerakan Bitcoin tidak berhenti di pasar global. Sentimen terhadap aset kripto utama biasanya ikut memengaruhi psikologi investor di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Bagi investor Indonesia, perubahan harga Bitcoin dalam denominasi dolar juga perlu dilihat bersama pergerakan nilai tukar rupiah. Pergerakan Bitcoin dalam rupiah dapat berbeda dari pergerakannya dalam dolar apabila kurs mengalami perubahan.

Kondisi tersebut membuat investor lokal perlu berhati-hati dalam membaca kenaikan atau penurunan aset kripto hanya dari satu indikator.

September juga penting karena menjadi jembatan menuju kuartal IV 2026. Jika Bitcoin berhasil membangun support baru di atas US$80.000, sentimen memasuki kuartal berikutnya berpotensi menjadi lebih positif.

Sebaliknya, kegagalan mempertahankan level tersebut dapat membuat pasar memasuki fase menunggu sebelum menentukan arah baru.

Bitcoin Bukan Sekadar Soal Menembus US$80.000

Reli Bitcoin sepanjang Agustus memperlihatkan bahwa minat terhadap aset kripto masih kuat. Namun, kenaikan harga yang cepat juga membawa tantangan baru.

Bitcoin sudah pernah berada di atas US$80.000. Tantangan berikutnya justru lebih sulit: mempertahankan level tersebut ketika kondisi makro mulai menguji optimisme investor.

Yudhono menilai perubahan fungsi US$80.000 akan menjadi salah satu indikator utama dalam beberapa pekan mendatang.

“Untuk beberapa minggu ke depan, pertanyaannya bukan sekadar apakah Bitcoin bisa kembali ke US$80.000. Yang lebih penting adalah apakah US$80.000 nantinya dapat berubah dari resistance menjadi support. Kalau itu terjadi bersamaan dengan arus institusional yang kuat dan kondisi makro yang lebih kondusif, struktur pasar untuk kuartal berikutnya akan menjadi jauh lebih menarik,” pungkas Yudho.

Dengan demikian, September 2026 berpotensi menjadi bulan pembuktian bagi Bitcoin.

Investor tidak cukup hanya melihat apakah harga Bitcoin naik atau turun. Pergerakan harga perlu dibaca bersama arus ETF, data tenaga kerja, inflasi Amerika Serikat dan keputusan FOMC.

Kombinasi ketiga lapisan tersebut akan memberikan gambaran lebih jelas apakah reli Bitcoin pada Agustus merupakan awal dari fase bullish berikutnya atau justru reli yang membutuhkan jeda sebelum menentukan arah baru.

Baca Juga: Transaksi Kripto di Indodax Naik 16 Persen ke Rp8,7 Triliun pada Agustus 2026

Baca Juga: CEO Galaxy Digital Soroti Risiko Strategy, Bitcoin Berpotensi Tertekan

FAQ

Mengapa Bitcoin gagal bertahan di atas US$80.000?

Bitcoin mengalami tekanan setelah reli sekitar 26% dari US$62.700 pada 12 Agustus menjadi lebih dari US$81.000. Pernyataan hawkish dari The Fed dan potensi aksi ambil untung turut menjadi faktor yang membuat Bitcoin kembali ke sekitar US$78.000.

Apakah US$80.000 merupakan resistance Bitcoin?

US$80.000 menjadi level psikologis penting setelah Bitcoin gagal mempertahankan harga di atas area tersebut. Level ini berpotensi menjadi support baru apabila Bitcoin mampu menembus dan bertahan secara konsisten di atasnya.

Mengapa arus ETF Bitcoin penting?

Arus ETF memberikan salah satu gambaran mengenai permintaan institusional terhadap Bitcoin. Inflow yang konsisten dapat menunjukkan adanya permintaan ketika harga mengalami koreksi, sedangkan outflow berkepanjangan perlu menjadi perhatian pasar.

Mengapa September 2026 penting bagi Bitcoin?

September memiliki sejumlah katalis besar, mulai dari data tenaga kerja AS pada 4 September, inflasi AS pada 11 September hingga pertemuan FOMC pada 15–16 September.

Bagaimana inflasi AS memengaruhi Bitcoin?

Inflasi yang tetap tinggi dapat mengurangi ruang bagi kebijakan moneter yang lebih longgar. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan kepada aset berisiko seperti Bitcoin.

Apa indikator utama yang perlu dipantau investor Bitcoin?

Investor dapat memperhatikan tiga lapisan utama, yakni pergerakan harga terutama US$80.000, arus dana ETF Bitcoin dan perkembangan makroekonomi Amerika Serikat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.