Akurat Logo

Rincian Klaim dan Premi Asuransi Umum dari Setiap Lini pada Semester I 2026, Apa yang Rasionya Paling Tinggi?

Idham Nur Indrajaya | 7 September 2026, 13:46 WIB
Rincian Klaim dan Premi Asuransi Umum dari Setiap Lini pada Semester I 2026, Apa yang Rasionya Paling Tinggi?
Klaim asuransi umum naik 29,2% pada semester I 2026. Simak rincian premi, klaim, dan rasio klaim dari 15 lini usaha. - Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Industri asuransi umum menghadapi tekanan yang berbeda-beda pada setiap lini bisnis sepanjang semester I 2026. Total premi memang hanya turun tipis, tetapi klaim meningkat jauh lebih cepat sehingga menekan kinerja underwriting industri.

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat total premi seluruh lini asuransi umum mencapai Rp58,20 triliun pada semester I 2026, turun 0,5% secara yoy dari Rp58,50 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada saat yang sama, klaim mencapai Rp27,36 triliun, meningkat 29,2% secara yoy dari Rp21,17 triliun. Pergerakan tersebut menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup lebar antara pertumbuhan premi dan klaim.

Kondisi industri pun tidak terjadi secara merata. Sejumlah lini mencatat pertumbuhan premi ketika klaim menurun, sementara lini lainnya justru menghadapi kombinasi penurunan premi dan lonjakan klaim.

Berikut rincian kinerja premi, klaim, dan rasio klaim dari 15 lini usaha asuransi umum pada semester I 2026.

Rincian Premi dan Klaim Asuransi Umum Semester I 2026

Lini Usaha

Premi 2026

Pertumbuhan Premi

Klaim 2026

Pertumbuhan Klaim

Rasio Klaim 2026

Properti

Rp15,51 triliun

-13,6%

Rp5,78 triliun

75,8%

37,3%

Kendaraan Bermotor

Rp9,86 triliun

4,9%

Rp3,67 triliun

3,3%

37,2%

Pengangkutan Laut

Rp2,90 triliun

4,4%

Rp845 miliar

25,3%

29,2%

Rangka Kapal

Rp2,04 triliun

10,9%

Rp766 miliar

7,4%

37,5%

Penerbangan

Rp685 miliar

0,9%

Rp497 miliar

1.187,0%

72,5%

Satelit

Rp146 miliar

-22,0%

-

-

0%

Energi Darat

Rp91 miliar

-40,4%

Rp30 miliar

60,8%

33,2%

Energi Lepas Pantai

Rp932 miliar

2,9%

Rp265 miliar

48,6%

28,5%

Rekayasa

Rp2,37 triliun

-14,1%

Rp1,59 triliun

78,5%

67,0%

Tanggung Gugat

Rp2,82 triliun

15,3%

Rp176 miliar

1,8%

6,3%

Kecelakaan Diri

Rp1,63 triliun

23,0%

Rp268 miliar

62,4%

16,5%

Asuransi Kesehatan

Rp6,26 triliun

2,9%

Rp3,47 triliun

-10,8%

55,3%

Asuransi Kredit

Rp9,32 triliun

9,3%

Rp9,28 triliun

32,7%

99,6%

Penjaminan

Rp716 miliar

-10,2%

Rp239 miliar

48,0%

33,4%

Lain-lain

Rp2,92 triliun

9,3%

Rp482 miliar

9,7%

16,5%

Properti: Premi Terbesar, Klaim Melonjak 75,8%

Properti menjadi lini usaha dengan premi terbesar pada semester I 2026. Premi lini ini mencapai Rp15,51 triliun, dengan kontribusi 26,6% terhadap total premi asuransi umum.

Namun, premi properti mengalami kontraksi 13,6% dibandingkan Rp17,95 triliun pada semester I 2025.

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan klaim. Klaim properti melonjak 75,8%, dari Rp3,29 triliun menjadi Rp5,78 triliun.

Rasio klaim pun meningkat dari 18,3% menjadi 37,3%.

Wakil Ketua Bidang Statistik AAUI Heri Supriyadi mengatakan penurunan premi properti antara lain berkaitan dengan siklus bisnis dan pembaruan polis yang belum seluruhnya tercatat.

“Ada objek pertanggungan, di lini bisnis properti yang sudah jatuh tempo, namun belum ada renewal sampai saat ini. Kita berharap nanti kalau sudah renewal, di akhir tahun akan membaik angkanya,” ujar Heri dalam konferensi pers paparan kinerja asuransi umum semester I-2026 di Jakarta beberapa waktu lalu.

Kinerja tersebut membuat properti menjadi salah satu lini yang paling perlu diperhatikan karena menghadapi tekanan dari dua sisi, yakni premi turun ketika klaim meningkat tajam.

Asuransi Kredit: Klaim Rp9,28 Triliun Hampir Setara Premi

Asuransi kredit menjadi lini dengan nilai klaim terbesar pada semester I 2026.

Premi asuransi kredit mencapai Rp9,32 triliun, tumbuh 9,3% dari Rp8,53 triliun. Klaim justru meningkat jauh lebih cepat, yakni 32,7%, dari Rp7 triliun menjadi Rp9,28 triliun.

Akibatnya, rasio klaim melonjak dari 82,1% menjadi 99,6%.

Jika dibandingkan secara nominal, klaim Rp9,28 triliun hampir menyamai premi Rp9,32 triliun. Selisihnya hanya sekitar Rp41 miliar.

Heri sebelumnya menyebut asuransi kredit bersama properti sebagai lini dengan klaim tertinggi.

“Yang paling tinggi klaimnya... selain property juga credit,” kata Heri.

Tekanan tersebut membuat asuransi kredit menjadi salah satu perhatian utama dalam kinerja underwriting industri asuransi umum.

Heri juga menjelaskan bahwa perusahaan asuransi harus semakin selektif dalam menerima risiko kredit.

“Memang harus benar-benar sangat selektif dan harus benar memilih kualitas dari kreditnya,” ujar Heri.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan premi pada suatu lini tidak otomatis menghasilkan perbaikan rasio klaim. Dalam kasus asuransi kredit, pertumbuhan premi 9,3% masih jauh di bawah pertumbuhan klaim yang mencapai 32,7%.

Kendaraan Bermotor: Premi dan Klaim Sama-Sama Tumbuh

Kendaraan bermotor menjadi lini dengan premi terbesar kedua setelah properti.

Premi kendaraan bermotor mencapai Rp9,86 triliun, naik 4,9% dari Rp9,40 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Klaim juga meningkat, tetapi dengan laju lebih rendah. Klaim naik 3,3% dari Rp3,55 triliun menjadi Rp3,67 triliun.

Perbedaan pertumbuhan tersebut membuat rasio klaim sedikit membaik dari 37,8% menjadi 37,2%.

Heri sebelumnya menjelaskan bahwa pertumbuhan penjualan kendaraan tidak selalu berbanding lurus dengan pertumbuhan premi asuransi kendaraan.

Perubahan komposisi kendaraan yang terjual, termasuk meningkatnya kendaraan listrik sementara penjualan kendaraan konvensional cenderung stagnan, menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam membaca prospek lini ini.

Asuransi Kesehatan: Klaim Turun 10,8%

Asuransi kesehatan menunjukkan pergerakan yang berbeda dari mayoritas lini dengan tekanan klaim.

Premi naik 2,9%, dari Rp6,09 triliun menjadi Rp6,26 triliun.

Pada saat yang sama, klaim justru turun 10,8%, dari Rp3,88 triliun menjadi Rp3,47 triliun.

Kondisi tersebut membuat rasio klaim turun dari 63,8% menjadi 55,3%.

Asuransi kesehatan menjadi salah satu contoh bahwa peningkatan premi tidak selalu diikuti peningkatan klaim. Dalam periode yang sama, pertumbuhan premi justru berlangsung ketika nilai klaim menurun.

Meski demikian, rasio klaim 55,3% masih termasuk tinggi dibandingkan sejumlah lini lain seperti tanggung gugat dan kecelakaan diri.

Rekayasa: Premi Turun, Klaim Naik 78,5%

Lini rekayasa menghadapi tekanan cukup besar sepanjang semester I 2026.

Premi turun 14,1%, dari Rp2,77 triliun menjadi Rp2,37 triliun.

Pada saat yang sama, klaim melonjak 78,5%, dari Rp891 miliar menjadi Rp1,59 triliun.

Rasio klaim kemudian meningkat dari 32,2% menjadi 67%.

Pergerakan tersebut menunjukkan kombinasi yang kurang menguntungkan dari sisi underwriting, yakni pendapatan premi menyusut sementara klaim meningkat tajam.

Rekayasa menjadi lini dengan rasio klaim tertinggi ketiga setelah asuransi kredit dan penerbangan.

Penerbangan: Pertumbuhan Klaim Mencapai 1.187%

Lini penerbangan mencatat pertumbuhan klaim paling tinggi secara persentase.

Premi hanya meningkat 0,9%, dari Rp679 miliar menjadi Rp685 miliar.

Sebaliknya, klaim melonjak dari Rp39 miliar menjadi Rp497 miliar. Secara persentase, pertumbuhannya mencapai 1.187%.

Rasio klaim pun meningkat drastis dari 5,7% menjadi 72,5%.

Meski pertumbuhan klaim mencapai empat digit, nilai klaim penerbangan secara nominal masih lebih kecil dibandingkan asuransi kredit, properti, kendaraan bermotor, maupun asuransi kesehatan.

Pertumbuhan yang sangat tinggi juga perlu dilihat berdasarkan basis tahun sebelumnya. Klaim pada semester I 2025 hanya Rp39 miliar sehingga peningkatan menjadi Rp497 miliar menghasilkan pertumbuhan persentase yang sangat besar.

Pengangkutan Laut: Klaim Tumbuh Lebih Cepat dari Premi

Premi pengangkutan laut mencapai Rp2,90 triliun, naik 4,4% dari Rp2,77 triliun.

Klaim meningkat lebih cepat, yakni 25,3%, dari Rp674 miliar menjadi Rp845 miliar.

Rasio klaim pun naik dari 24,3% menjadi 29,2%.

Perbedaan pertumbuhan tersebut memperlihatkan bahwa kenaikan premi belum mampu mengimbangi peningkatan klaim pada lini pengangkutan laut.

Rangka Kapal: Pertumbuhan Premi Lebih Cepat dari Klaim

Lini rangka kapal mencatat pertumbuhan premi sebesar 10,9%, dari Rp1,84 triliun menjadi Rp2,04 triliun.

Klaim meningkat 7,4%, dari Rp713 miliar menjadi Rp766 miliar.

Karena pertumbuhan premi lebih tinggi daripada klaim, rasio klaim turun dari 38,7% menjadi 37,5%.

Pergerakan ini menjadi salah satu contoh lini dengan perkembangan rasio klaim yang relatif positif.

Baca Juga: Tak Hanya Kelas Menengah Atas, AAJI Dorong Produk Asuransi Jiwa untuk Pengemudi Ojek hingga UMKM Melalui Pengembangan Teknologi

Baca Juga: Unit Link Asuransi Jiwa Bangkit, Premi Bisnis Baru Melonjak 34,5 Persen

Energi Lepas Pantai: Klaim Naik 48,6%

Premi energi lepas pantai meningkat 2,9%, dari Rp905 miliar menjadi Rp932 miliar.

Klaim justru naik 48,6%, dari Rp179 miliar menjadi Rp265 miliar.

Akibatnya, rasio klaim meningkat dari 19,7% menjadi 28,5%.

Perbedaan laju pertumbuhan premi dan klaim tersebut menunjukkan adanya peningkatan tekanan klaim pada lini energi lepas pantai.

Energi Darat: Premi Anjlok 40,4%

Tekanan lebih besar terlihat pada lini energi darat.

Premi turun 40,4%, dari Rp152 miliar menjadi Rp91 miliar.

Klaim justru meningkat 60,8%, dari Rp19 miliar menjadi Rp30 miliar.

Rasio klaim naik dari 12,3% menjadi 33,2%.

Meski nominal bisnis energi darat relatif kecil dibandingkan lini utama, kombinasi premi turun dan klaim naik menunjukkan adanya tekanan yang perlu diperhatikan.

Tanggung Gugat: Rasio Klaim Hanya 6,3%

Tanggung gugat menjadi salah satu lini dengan perkembangan paling positif dari sisi rasio klaim.

Premi meningkat 15,3%, dari Rp2,44 triliun menjadi Rp2,82 triliun.

Klaim hanya naik 1,8%, dari Rp173 miliar menjadi Rp176 miliar.

Rasio klaim pun turun dari 7,1% menjadi 6,3%.

Pertumbuhan premi yang jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan klaim membuat lini ini berada dalam posisi yang relatif lebih baik dibandingkan sejumlah lini lainnya.

Kecelakaan Diri: Premi Tumbuh 23%, Klaim Naik 62,4%

Kecelakaan diri mencatat pertumbuhan premi sebesar 23%, dari Rp1,32 triliun menjadi Rp1,63 triliun.

Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu yang tertinggi di antara seluruh lini usaha.

Namun, klaim meningkat lebih cepat, yakni 62,4%, dari Rp165 miliar menjadi Rp268 miliar.

Rasio klaim naik dari 12,5% menjadi 16,5%.

Data tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan premi yang tinggi tidak otomatis berarti tekanan klaim semakin rendah.

Penjaminan: Premi Turun, Klaim Naik 48%

Premi penjaminan turun 10,2%, dari Rp798 miliar menjadi Rp716 miliar.

Klaim justru meningkat 48%, dari Rp161 miliar menjadi Rp239 miliar.

Rasio klaim naik dari 20,2% menjadi 33,4%.

Dengan demikian, penjaminan masuk dalam kelompok lini yang mengalami tekanan karena kontraksi premi terjadi bersamaan dengan peningkatan klaim.

Lain-lain: Premi dan Klaim Tumbuh Relatif Seimbang

Lini lain-lain mencatat premi Rp2,92 triliun, meningkat 9,3% dari Rp2,68 triliun.

Klaim naik 9,7%, dari Rp439 miliar menjadi Rp482 miliar.

Karena pertumbuhan premi dan klaim relatif berdekatan, rasio klaim hanya bergerak tipis dari 16,4% menjadi 16,5%.

Pergerakan tersebut menjadikan lini lain-lain sebagai salah satu lini dengan rasio klaim yang relatif stabil.

Satelit: Premi Turun 22%, Tidak Ada Klaim Tercatat

Lini satelit memiliki skala bisnis yang relatif kecil dibandingkan lini utama.

Premi turun 22%, dari Rp188 miliar menjadi Rp146 miliar.

Dalam data yang tersedia, tidak tercatat klaim pada lini satelit sehingga rasio klaim berada di 0%.

Nihilnya klaim pada periode tersebut tidak dapat langsung diartikan bahwa lini satelit tidak memiliki risiko. Angka tersebut hanya menunjukkan tidak adanya klaim yang tercatat dalam data periode yang disampaikan.

Tiga Lini Menjadi Penyumbang Premi Terbesar

Jika dilihat berdasarkan kontribusi premi, tiga lini terbesar adalah properti, kendaraan bermotor, dan asuransi kredit.

Properti menyumbang 26,6% dari total premi, kendaraan bermotor 16,9%, sedangkan asuransi kredit 16%.

Ketiga lini tersebut secara bersama-sama menyumbang hampir 60% dari total premi industri.

Dominasi tersebut membuat perubahan pada ketiga lini menjadi sangat penting bagi pergerakan keseluruhan premi asuransi umum.

Persoalannya, dua dari tiga lini terbesar menghadapi tekanan berbeda.

Properti mengalami penurunan premi 13,6%, sedangkan asuransi kredit memang tumbuh 9,3% tetapi dibayangi pertumbuhan klaim 32,7%.

Kendaraan bermotor menjadi salah satu lini utama yang relatif lebih stabil karena pertumbuhan premi 4,9% masih sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan klaim 3,3%.

Asuransi Kredit Jadi Penyumbang Klaim Terbesar

Dari sisi klaim, asuransi kredit berada di posisi pertama dengan nilai Rp9,28 triliun atau 33,9% dari total klaim.

Properti berada di posisi kedua dengan Rp5,78 triliun atau 21,1%.

Kendaraan bermotor berada di posisi ketiga dengan Rp3,67 triliun atau 13,4%.

Asuransi kesehatan menyusul dengan klaim Rp3,47 triliun dan kontribusi 12,7%.

Keempat lini tersebut menjadi sumber utama klaim industri asuransi umum.

Kondisi ini juga memperlihatkan perbedaan antara kontribusi premi dan kontribusi klaim. Asuransi kredit hanya menyumbang 16% premi, tetapi kontribusi klaimnya mencapai 33,9%.

Artinya, porsi klaim lini tersebut jauh lebih besar dibandingkan kontribusinya terhadap premi.

Rasio Klaim Tertinggi Mencapai 99,6%

Jika menggunakan rasio klaim sebagai indikator, asuransi kredit kembali berada di posisi teratas dengan 99,6%.

Penerbangan berada di posisi kedua dengan 72,5%, diikuti rekayasa 67% dan asuransi kesehatan 55,3%.

Rasio klaim menunjukkan perbandingan antara klaim dengan premi dalam suatu lini. Angka yang semakin tinggi menunjukkan porsi premi yang terserap oleh klaim semakin besar.

Namun, rasio klaim tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya indikator untuk menentukan laba atau kerugian perusahaan. Masih terdapat komponen lain seperti cadangan, beban usaha, biaya akuisisi, hasil investasi, serta faktor lainnya.

Karena itu, rasio klaim 99,6% pada asuransi kredit menunjukkan tekanan yang sangat besar, tetapi tidak otomatis berarti seluruh perusahaan pada lini tersebut mengalami kerugian.

Pertumbuhan Klaim Tertinggi Ada di Penerbangan

Dari sisi pertumbuhan klaim, lini penerbangan mencatat kenaikan tertinggi sebesar 1.187%.

Rekayasa berada di posisi berikutnya dengan 78,5%, properti 75,8%, kecelakaan diri 62,4%, dan energi darat 60,8%.

Namun, ranking berdasarkan pertumbuhan persentase harus dibedakan dengan nilai nominal.

Penerbangan memang mencatat pertumbuhan klaim tertinggi, tetapi klaimnya hanya Rp497 miliar. Sementara itu, asuransi kredit memiliki klaim Rp9,28 triliun meskipun pertumbuhan klaimnya 32,7%.

Perbedaan tersebut penting agar pembaca tidak keliru mengartikan angka pertumbuhan persentase sebagai besarnya klaim secara nominal.

Tidak Semua Lini Mengalami Tekanan yang Sama

Data semester I 2026 memperlihatkan setidaknya tiga kelompok besar.

Pertama, lini dengan tekanan tinggi. Asuransi kredit, properti, rekayasa, dan penerbangan menunjukkan sejumlah indikator yang perlu menjadi perhatian. Asuransi kredit memiliki rasio klaim hampir 100%, properti menghadapi penurunan premi sekaligus lonjakan klaim, rekayasa mengalami kombinasi premi turun dan klaim naik, sedangkan penerbangan memiliki lonjakan klaim paling tinggi secara persentase.

Kedua, lini yang relatif stabil. Kendaraan bermotor, rangka kapal, dan lain-lain memiliki pergerakan premi serta klaim yang lebih terkendali.

Ketiga, lini dengan perbaikan rasio klaim. Asuransi kesehatan dan tanggung gugat menunjukkan pergerakan yang relatif positif. Asuransi kesehatan mencatat pertumbuhan premi ketika klaim turun, sedangkan tanggung gugat mencatat pertumbuhan premi jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan klaim.

Premi Stagnan, Klaim Naik Jadi Tantangan Industri

Secara keseluruhan, industri asuransi umum menghadapi situasi ketika premi cenderung stagnan sementara klaim meningkat signifikan.

Kondisi tersebut tercermin dari premi seluruh lini yang turun 0,5%, sedangkan klaim meningkat 29,2%.

Ketua Umum AAUI Budi Herawan sebelumnya menyoroti kenaikan klaim tersebut sebagai salah satu perhatian utama industri.

“Gross klaim up sekitar 23%, yang tentunya ini bukan berita baik. Ini menjadi concern kita,” ujar Budi.

Kondisi tersebut kemudian memberikan tekanan terhadap hasil underwriting. Dalam data indikator keuangan industri, hasil underwriting asuransi umum turun 18,1% menjadi Rp11,54 triliun pada semester I 2026.

Laba setelah pajak juga turun 32,3% menjadi Rp5,41 triliun.

Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan klaim tidak berdiri sendiri. Ketika pertumbuhan premi tidak mampu mengimbangi peningkatan klaim, tekanan dapat berlanjut ke kinerja underwriting dan pada akhirnya memengaruhi profitabilitas.

Namun, perbedaan antar lini tetap menjadi faktor penting.

Asuransi kredit membutuhkan perhatian karena klaim hampir menyamai premi. Properti menghadapi penurunan premi dan kenaikan klaim. Penerbangan mencatat lonjakan klaim secara persentase, sedangkan rekayasa mengalami tekanan serupa dari sisi premi dan klaim.

Di sisi lain, asuransi kesehatan dan tanggung gugat menunjukkan bahwa terdapat lini yang masih mampu mencatat perkembangan lebih baik.

Karena itu, membaca kesehatan industri asuransi umum tidak cukup hanya dengan melihat total premi atau total klaim.

Perbandingan premi, pertumbuhan premi, klaim, pertumbuhan klaim, serta rasio klaim di setiap lini memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai lini mana yang menjadi sumber tekanan, lini mana yang relatif stabil, dan lini mana yang masih menunjukkan peluang pertumbuhan.

Baca Juga: Klaim Melonjak 23,3 Persen dan Laba Anjlok 32,3 Persen: Industri Asuransi Umum Tertekan

Baca Juga: Sebelum Beli Asuransi Jiwa, Wajib Tahu 5 Hal Ini agar Tak Salah Pilih

FAQ

1. Berapa total klaim asuransi umum semester I 2026?
Total klaim seluruh lini asuransi umum mencapai sekitar Rp27,36 triliun pada semester I 2026, naik 29,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

2. Lini asuransi apa yang memiliki klaim terbesar?
Asuransi kredit menjadi lini dengan klaim terbesar, yakni Rp9,28 triliun. Berikutnya adalah properti sebesar Rp5,78 triliun dan kendaraan bermotor Rp3,67 triliun.

3. Berapa rasio klaim asuransi kredit pada semester I 2026?
Rasio klaim asuransi kredit mencapai 99,6%, naik dari 82,1% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

4. Lini mana yang mengalami pertumbuhan klaim paling tinggi?
Penerbangan mencatat pertumbuhan klaim tertinggi secara persentase, yakni 1.187%, dari Rp39 miliar menjadi Rp497 miliar.

5. Lini mana yang memiliki rasio klaim tertinggi?
Asuransi kredit memiliki rasio klaim tertinggi sebesar 99,6%, diikuti penerbangan 72,5%, rekayasa 67%, dan asuransi kesehatan 55,3%.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.