Akurat Logo

Kredit Perbankan Tumbuh 13,58 Persen di Juli 2026, Kredit Investasi Paling Melesat

Esha Tri Wahyuni | 8 September 2026, 10:31 WIB
Kredit Perbankan Tumbuh 13,58 Persen di Juli 2026, Kredit Investasi Paling Melesat
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae

AKURAT.CO Penyaluran kredit perbankan nasional terus menunjukkan pertumbuhan hingga Juli 2026.

Namun, ekspansi kredit tidak terjadi secara merata. Kredit investasi dan pembiayaan kepada korporasi menjadi penopang utama pertumbuhan, sementara kredit konsumsi masih tumbuh lebih terbatas.

Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, OJK mencatat total kredit industri perbankan mencapai Rp9.135 triliun per Juli 2026. Angka tersebut tumbuh 13,58% secara tahunan (year on year/yoy).

Baca Juga: Kredit Perbankan Juni 2026 Tumbuh 12 Persen, Destry Damayanti: Masih Ada Ruang, Dana Perbankan Belum Tersalurkan Secara Optimal

"Kinerja intermediasi perbankan terus meningkat dengan laju pertumbuhan yang semakin solid," kata Dian dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Agustus 2026 dikutip dari YouTube OJK, Selasa (8/9/2026).

Jika dilihat berdasarkan jenis penggunaannya, kredit investasi menjadi segmen dengan pertumbuhan paling tinggi. Kredit investasi tumbuh 25,13% yoy.

Pertumbuhan tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kredit modal kerja yang tumbuh 11,04% yoy. Sementara itu, kredit konsumsi hanya tumbuh 5,38% yoy.

Data tersebut menunjukkan ekspansi kredit perbankan hingga Juli lebih banyak didorong oleh kebutuhan pembiayaan investasi dan aktivitas dunia usaha dibandingkan pembiayaan konsumsi rumah tangga.

Dari sisi kategori debitur, korporasi menjadi kelompok yang mencatat pertumbuhan kredit paling tinggi.

OJK mencatat kredit korporasi tumbuh 22,10% yoy hingga Juli 2026. Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu faktor yang menopang laju kredit perbankan secara keseluruhan.

Sementara itu, kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga mulai menunjukkan perbaikan.

Pertumbuhan kredit UMKM tercatat 1,62% yoy pada Juli 2026, meningkat dibandingkan pertumbuhan pada Juni 2026 yang sebesar 1,05% yoy. Meski demikian, pertumbuhan kredit UMKM masih jauh berada di bawah pertumbuhan kredit korporasi maupun investasi.

Berdasarkan kepemilikan bank, kredit yang disalurkan bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencatat pertumbuhan tertinggi dengan laju 16,95% yoy.

Di tengah pertumbuhan kredit konsumsi yang relatif terbatas, pembiayaan melalui layanan buy now pay later (BNPL) justru mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi.

Per Juli 2026, baki debet kredit BNPL yang dilaporkan dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) tercatat Rp31,56 triliun. Nilainya tumbuh 31,22% yoy.

Jumlah rekening BNPL juga telah mencapai 33,50 juta rekening. Pertumbuhan BNPL tersebut menjadi salah satu perkembangan yang perlu diperhatikan dalam melihat dinamika kredit konsumsi. Pasalnya, secara agregat kredit konsumsi perbankan hanya tumbuh 5,38% yoy.

Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) perbankan juga mengalami akselerasi. OJK mencatat DPK mencapai Rp10.336 triliun per Juli 2026, tumbuh 11,21% yoy.

Pertumbuhan DPK terutama berasal dari deposito yang tumbuh 13,13% yoy. Selanjutnya, giro tumbuh 11,81% yoy, sedangkan tabungan tumbuh 8,37% yoy.

Dengan pertumbuhan kredit sebesar 13,58% dan DPK sebesar 11,21%, aktivitas intermediasi perbankan menunjukkan ekspansi yang tetap kuat.

OJK juga menilai kondisi likuiditas perbankan masih memadai. Rasio alat likuid terhadap non-core deposit (AL/NCD) tercatat 102,45%, sedangkan rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) berada di level 23,1%.

Kedua rasio tersebut masih berada di atas ambang batas masing-masing sebesar 50% dan 10%. Sementara itu, liquidity coverage ratio (LCR) perbankan tercatat 187,5%.

Di tengah ekspansi penyaluran kredit, kualitas aset perbankan juga masih terjaga. OJK mencatat rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross berada pada level 2,10%. Adapun NPL net tercatat 0,81%, sedangkan loan at risk (LAR) berada pada level 8,39%.

Dari sisi profitabilitas, return on assets (ROA) perbankan berada di level 2,45%. Ketahanan permodalan juga masih kuat. Hal tersebut tercermin dari capital adequacy ratio (CAR) yang berada pada level 23,84%.

Dengan kondisi tersebut, pertumbuhan kredit hingga Juli 2026 berlangsung bersamaan dengan likuiditas, kualitas aset, profitabilitas, dan permodalan perbankan yang masih berada pada level yang terjaga.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.