Akurat Logo

Hobi Olahraga Makin Mahal, Amar Bank Ungkap 29,8 Persen Gen Z Sampai Rela Membobol Dana Darurat

Idham Nur Indrajaya | 15 September 2026, 07:46 WIB
Hobi Olahraga Makin Mahal, Amar Bank Ungkap 29,8 Persen Gen Z Sampai Rela Membobol Dana Darurat
Hobi olahraga makin mahal? Riset Amar Bank menemukan 29,8% Gen Z pernah memakai dana darurat untuk membiayai hobi. - Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Bermain padel setelah pulang kerja, ikut kelas tennis di akhir pekan, mengejar target marathon, atau mencoba Hyrox kini bukan lagi sekadar cara menghabiskan waktu. Bagi banyak masyarakat urban, hobi olahraga sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Masalahnya, semakin serius seseorang menekuni wellness, semakin panjang pula daftar pengeluaran yang mengikutinya.

Kondisi tersebut membuat hobi olahraga memiliki paradoks tersendiri. Aktivitasnya memang ditujukan untuk membuat tubuh lebih sehat, tetapi pengeluaran yang tidak dikendalikan justru dapat membuat kondisi keuangan semakin rapuh. Riset media sosial Amar Bank bertajuk “Sehat Fisik vs Sehat Dompet” terhadap 300 responden di Jabodetabek dan sejumlah kota besar lainnya menunjukkan salah satu sisi paling menarik dari fenomena tersebut.

Sebanyak 29,8% Gen Z mengaku dana darurat mereka pernah “bocor” untuk membiayai hobi. Bahkan, 10,6% Gen Z bersedia mengalokasikan lebih dari 20% pendapatan bulanannya untuk olahraga hingga harus mengorbankan tabungan.

Secara sederhana, hobi olahraga mulai menjadi masalah finansial ketika biayanya tidak lagi berasal dari anggaran lifestyle, tetapi mengambil porsi dana darurat, tabungan, kebutuhan pokok, atau bahkan utang. Artinya, persoalannya bukan terletak pada olahraga, melainkan pada batas pengeluaran untuk mempertahankan gaya hidup tersebut.

Mengapa Hobi Olahraga Sekarang Bisa Menguras Dompet?

Olahraga urban memiliki karakter berbeda dibandingkan aktivitas fisik sederhana seperti jogging di sekitar rumah. Seseorang yang rutin berlari, misalnya, mungkin membutuhkan sepatu khusus, pakaian olahraga, biaya mengikuti lomba, transportasi, hingga perangkat untuk memantau performa.

Hal serupa terjadi pada padel dan tennis. Biaya tidak berhenti ketika seseorang selesai membayar lapangan. Ada raket, sepatu, apparel, akses komunitas, transportasi, hingga berbagai pengeluaran kecil setelah berolahraga yang jika dikumpulkan dapat menjadi pos pengeluaran tersendiri.

Fenomena ini menunjukkan bahwa active wellness telah berkembang menjadi ekosistem konsumsi. Olahraga bukan hanya aktivitas fisik, tetapi juga pengalaman sosial, komunitas, rekreasi, bahkan bagian dari identitas seseorang di ruang digital.

Persoalannya muncul ketika seseorang menghitung harga satu barang secara terpisah, bukan total biaya hobinya. Raket mungkin terlihat sebagai pembelian sekali, tetapi ditambah lapangan mingguan, sepatu, pakaian, transportasi, dan event, total pengeluaran bulanannya bisa jauh lebih besar.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.