Akurat
Pemprov Sumsel

Generasi Muda Ubah Wajah Investasi, dari Gengsi Jadi Gaya Hidup

Hefriday | 20 September 2025, 18:50 WIB
Generasi Muda Ubah Wajah Investasi, dari Gengsi Jadi Gaya Hidup

AKURAT.CO Dunia investasi di Indonesia tengah mengalami transformasi besar-besaran. Dulu, berinvestasi identik dengan aktivitas eksklusif yang hanya dilakukan oleh kalangan mapan seperti pengusaha atau profesional berpenghasilan tinggi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, peta itu berubah drastis.

Dikutip dari berbagai sumber, Sabtu (20/9/2025), Generasi milenial dan gen Z, adalah generasi yang dikenal aktif di ranah digital, mulai mendominasi panggung keuangan dengan semangat baru dan cara yang lebih segar dalam mengelola uang.

Fenomena ini bukan sekadar angin lalu. Dengan akses teknologi yang semakin mudah dan edukasi finansial yang tersebar luas lewat media sosial, generasi muda tak lagi hanya menabung, tetapi juga aktif berinvestasi di berbagai instrumen keuangan. Modal kecil dan kemudahan digital menjadi kunci inklusi finansial yang semakin kuat.

Baca Juga: Ikut Serta di Expo 2025 Osaka, Indonesia Kantongi Komitmen Investasi Rp396,2 Triliun

Salah satu faktor pendorong utama tren ini adalah kemajuan teknologi. Aplikasi keuangan kini hadir dengan antarmuka yang ramah pengguna dan memungkinkan siapa pun untuk memulai investasi hanya dengan Rp10 ribu. Dari saham, reksa dana, hingga emas digital, semua tersedia hanya dalam genggaman.

Melalui smartphone, para pengguna muda kini bisa memantau pergerakan pasar, mengatur portofolio, bahkan berdiskusi di forum investor. Ini adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi satu dekade lalu, ketika dunia investasi masih didominasi oleh institusi dan proses birokrasi yang panjang.

Tak bisa dipungkiri, media sosial memainkan peran besar dalam menyebarluaskan informasi keuangan. Berbagai platform seperti TikTok, Instagram, hingga YouTube kini dipenuhi konten edukatif dari kreator keuangan yang menyampaikan materi dengan cara yang ringan dan menarik.

Konten seperti "cara investasi reksa dana untuk pemula" atau "tips mengatur keuangan saat gaji pas-pasan" menjadi viral dan mudah dipahami. Inilah yang membuat literasi finansial tidak lagi terasa kaku dan elit, melainkan menyatu dengan keseharian generasi muda.

Baca Juga: CBD Beachwalk PIK2: Simbol Investasi Tepi Laut yang Menyatukan Bisnis dan Gaya Hidup

Pengaruh dari situasi sosial dan ekonomi turut mendorong anak muda untuk lebih melek finansial. Generasi milenial dan gen Z hidup di era ketidakpastian kerja, tekanan generasi sandwich, dan ancaman inflasi. Hal ini membuat mereka sadar bahwa merencanakan masa depan finansial harus dimulai sejak dini.

Tren gaya hidup seperti financial freedom dan retire early juga menjadi motivasi besar. Keinginan untuk lepas dari jeratan penghasilan tetap dan bekerja sampai tua, membuat generasi ini lebih aktif mencari cara agar uang bisa bekerja untuk mereka.

Menurut data dari Bursa Efek Indonesia hingga April 2025, terdapat 16,2 juta investor pasar modal, dan 55% di antaranya berasal dari kalangan milenial dan gen Z. Instrumen yang paling banyak diminati antara lain reksa dana pasar uang, saham, dan emas digital.

Investasi emas, misalnya, menjadi favorit karena kesannya yang stabil namun kini bisa dilakukan secara digital. Sementara itu, instrumen seperti P2P lending dan kripto menarik karena menawarkan potensi imbal hasil yang tinggi, meski dengan risiko yang sebanding.

Meski tren ini menunjukkan arah yang positif, bukan berarti tanpa risiko. Banyak anak muda tergoda berinvestasi karena rasa takut ketinggalan tren (FOMO), bukan karena pemahaman yang matang. Belum lagi fenomena investasi bodong yang kerap menjebak investor pemula dengan iming-iming keuntungan cepat.

Manajemen keuangan dasar juga masih menjadi tantangan. Tak sedikit yang semangat membeli saham, tapi belum memiliki dana darurat atau asuransi dasar. Saat kebutuhan mendesak datang, mereka bisa terjebak menjual aset di waktu yang tidak tepat.

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2025 mencatat bahwa indeks literasi keuangan kelompok usia 15–17 tahun baru mencapai 51,68%, lebih rendah dari rata-rata nasional 66,46%. Ini menunjukkan masih perlunya edukasi finansial sejak dini, tidak hanya melalui media sosial, tetapi juga lewat kurikulum pendidikan formal.

Literasi keuangan yang baik akan membantu anak muda membedakan mana investasi yang sehat dan mana yang berisiko tinggi atau bahkan ilegal. Ini adalah bekal penting untuk membangun fondasi finansial yang kuat.

Berbeda dengan generasi sebelumnya yang mungkin melihat investasi sebagai kewajiban atau kebutuhan masa tua, generasi milenial dan gen Z menjadikannya sebagai bagian dari gaya hidup. Mereka tidak hanya fokus pada keuntungan finansial, tetapi juga menjadikan investasi sebagai simbol kemandirian dan perencanaan yang matang.

Aktivitas seperti membagikan tangkapan layar portofolio investasi di media sosial, berdiskusi di forum finansial, hingga mengikuti komunitas investor muda menjadi bagian dari identitas baru anak muda urban masa kini.

Melihat tren ini, pemerintah dan sektor swasta perlu terus mendorong ekosistem keuangan yang inklusif dan aman bagi investor muda. Ini bisa dilakukan melalui pelatihan, kampanye literasi, serta regulasi yang memastikan perlindungan investor pemula dari praktik curang dan penipuan.

Bank, sekuritas, dan perusahaan fintech juga diharapkan terus berinovasi dalam menyediakan produk keuangan yang sesuai dengan karakteristik anak muda yaitu mudah, transparan, dan terjangkau.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi