RI Kebut Pembahasan Aliansi Pendanan Campuran Global (GBFA)
Demi Ermansyah | 21 Mei 2024, 17:58 WIB

AKURAT.CO Indonesia dikabarkan akan segera mempercepat pembahasan program lanjutan untuk Aliansi Pendanaan Campuran Global atau Global Blended Finance Alliance (GBFA). Hal ini dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk merealisasikan proyek iklim dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Menurut Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan, terhitung dua minggu ke depan, pihaknya akan melakukan konferensi untuk melakukan program tersebut.
"Dalam dua minggu, tanggal 6 (Juni) kami akan bertemu melalui zoom untuk membicarakan program itu," kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan melalui lansiran Antara, Selasa (21/5/2024).
"Dalam dua minggu, tanggal 6 (Juni) kami akan bertemu melalui zoom untuk membicarakan program itu," kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan melalui lansiran Antara, Selasa (21/5/2024).
Baca Juga: Singgung Anggaran IKN, Luhut: Tidak Ada Masalah
Lebih lanjut dirinya menyebuitkan negara anggota memiliki antusiasme yang tinggi terkait GBFA yang dipelopori Indonesia soal pendanaan campuran tersebut dan bersemangat untuk menyusun program selanjutnya.
Ada pun negara anggota itu yakni Uni Emirat Arab (UEA), Fiji, Prancis, Sri Lanka, Kongo, Kenya, Luksemburg, dan Kanada serta Indonesia selaku tuan rumah. Inisiatif GBFA lahir pada pertemuan 19 negara dan Uni Eropa yang tergabung dalam G20 pada November 2022 di Bali.
Sementara itu, di sela World Water Forum Ke-10, markas GBFA juga diresmikan yang dipusatkan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan di Sanur, Denpasar, Bali pada Senin (20/5).
Nantinya, lanjut Luhut, program tersebut akan masuk dalam program kerja sama negara selatan-selatan yang menyangkut berbagai hal termasuk masalah air, kemiskinan, hingga stunting.
"Jadi Indonesia memiliki platform untuk memberikan bantuan atas gap (keterbatasan) finansial yang terjadi di negara berkembang. Ini menunjukkan kepemimpinan Indonesia dan pencapaian Presiden Joko Widodo selama 10 tahun menjadi presiden," imbuh Luhut.
GBFA mewakili inisiatif inovatif untuk menerapkan prinsip-prinsip pendanaan campuran untuk mendukung transisi ramah lingkungan bagi negara-negara berkembang dan negara-negara kepulauan, serta South-South Cooperation.
Melalui GBFA, kerja sama selatan-selatan (South-South Cooperation) dapat memanfaatkan kekuatan dari beragam komunitas untuk mendorong kemajuan menuju tujuan bersama dengan melalui kolaborasi antarnegara.
Lebih lanjut dirinya menyebuitkan negara anggota memiliki antusiasme yang tinggi terkait GBFA yang dipelopori Indonesia soal pendanaan campuran tersebut dan bersemangat untuk menyusun program selanjutnya.
Ada pun negara anggota itu yakni Uni Emirat Arab (UEA), Fiji, Prancis, Sri Lanka, Kongo, Kenya, Luksemburg, dan Kanada serta Indonesia selaku tuan rumah. Inisiatif GBFA lahir pada pertemuan 19 negara dan Uni Eropa yang tergabung dalam G20 pada November 2022 di Bali.
Sementara itu, di sela World Water Forum Ke-10, markas GBFA juga diresmikan yang dipusatkan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan di Sanur, Denpasar, Bali pada Senin (20/5).
Nantinya, lanjut Luhut, program tersebut akan masuk dalam program kerja sama negara selatan-selatan yang menyangkut berbagai hal termasuk masalah air, kemiskinan, hingga stunting.
"Jadi Indonesia memiliki platform untuk memberikan bantuan atas gap (keterbatasan) finansial yang terjadi di negara berkembang. Ini menunjukkan kepemimpinan Indonesia dan pencapaian Presiden Joko Widodo selama 10 tahun menjadi presiden," imbuh Luhut.
GBFA mewakili inisiatif inovatif untuk menerapkan prinsip-prinsip pendanaan campuran untuk mendukung transisi ramah lingkungan bagi negara-negara berkembang dan negara-negara kepulauan, serta South-South Cooperation.
Melalui GBFA, kerja sama selatan-selatan (South-South Cooperation) dapat memanfaatkan kekuatan dari beragam komunitas untuk mendorong kemajuan menuju tujuan bersama dengan melalui kolaborasi antarnegara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






