AKURAT.CO Indonesia dalam perkembangannya saat ini sedang alami ketegangan, menyusul krisis konstitusional pasca keputusan Mahkamah Konstitusional yang potensial mengubah peta kontestasi Pemilihan Kepala Daerah, mendapatkan 'penolakan' dari Badan Legislatif DPR-RI.
Investor yang sejatinya tengah menikmati gelombang bullish sejak beberapa pekan terakhir, terdorong sentimen bunga acuan Federal Reserve, dan berhasil mengerek nilai rupiah menguat terbesar di Asia bulan ini, yang pada akhirnya mulai meningkatkan kewaspadaan.
Dilansir Bloomberg, bank investasi besar asal Amerika Serikat (AS), Wells Fargo, menilai ada kemungkinan sentimen terhadap rupiah dan obligasi pemerintah akan dipengaruhi kemunculan kerusuhan politik meski mungkin hanya berlangsung tidak lama. Analis Wells Fargo Brendan McKenna menilai, agak diragukan bahwa aksi massa protes sosial di Indonesia akan menjelma menjadi seperti apa yang terjadi di Sri Lanka atau Bangladesh.
Rupiah terpantau terjun 120,5 poin (0,78%) ke Rp15.620 pada perdagangan Kamis (22/8/2024) siang pukul 12.10, berdasarkan data Bloomberg.
"Pendorong terbesar bagi aset-aset di pasar keuangan RI adalah kemungkinan penurunan bunga The Fed dan arah kebijakan fiskal pemerintah. Kombinasi itu membantu sentimen positif dan mendukung penguatan rupiah, juga aliran modal masuk ke pasar surat utang RI," jelas McKenna.
DPR RI dijadwalkan akan menggelar Rapat Paripurna hari ini di mana salah satu agendanya adalah mengambil keputusan terhadap Rancangan Undang-Undang Pemilihan Kepala Dunia (RUU Pilkada) yang menjadi sentral isu saat ini. Berbagai elemen masyarakat sipil sejak Rabu kemarin bergerak untuk menggelar aksi bersama Kamis ini.
"Kami melihat risiko politik dari revisi UU pilkada. Risiko yang dihadapi adalah demonstrasi bertransformasi menjadi social unrest. Namun, informasi yang tersedia belum dapat digunakan untuk menetapkan probabilitas terjadinya social unrest," kata Lionel Priyadi selaku analis mega Capital Sekuritas.
Pasar hari ini sebenarnya mendapatkan sentimen positif dari rilis risalah rapat FOMC The Fed, bank sentral AS, yang nadanya dovish dan menaikkan ekspektasi penurunan bunga The Fed. Sentimen seputar The Fed itu juga yang menjadi 'bahan bakar' arus masuk modal asing ke RI belakangan ini.
Laporan Bank Indonesia, aliran investasi portofolio asing menguat ke berbagai instrumen pasar keuangan domestik, pada kuartal dua ini, termasuk ke surat utang negara, sekuritas rupiah, dan saham di mana nilainya USD7,2 miliar quarter-to-date, hingga 19 Agustus.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal










