AKURAT.CO Ekspor baja China pada September 2024 mencapai titik tertinggi sejak 2016, mencapai 10,2 juta ton. Lonjakan ini menambah volume ekspor baja tahun ini menjadi hampir 81 juta ton, naik 21% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Ledakan ekspor ini terjadi di tengah melemahnya pasar domestik, yang mendorong produsen China untuk memasarkan surplus produksi mereka ke pasar global.
Seperti yang diketahui, baja China telah menjadi salah satu komoditas yang terdampak oleh penurunan sektor properti domestik, dan peningkatan ekspor ini memicu kekhawatiran akan ketegangan perdagangan, terutama dari negara-negara di Asia Tenggara hingga Amerika Latin, yang khawatir akan dampak surplus tersebut pada industri baja lokal mereka.
Meskipun ekspor baja China menuai kritik dari berbagai negara, pemerintah China menegaskan bahwa sebagian besar produksi baja mereka masih digunakan di dalam negeri. Melansir dari Bloomberg, pejabat bea cukai China menepis kekhawatiran tersebut, seraya menyoroti bahwa penurunan nilai ekspor baja dalam dolar sebesar 5% selama sembilan bulan pertama tahun ini disebabkan oleh jatuhnya harga global.
Baca Juga: China Peringatkan Uni Eropa Soal Negosiasi Terpisah Tarif EV
Namun, di tengah kekhawatiran perdagangan, ekspor baja China tetap diminati. Menurut Direktur Departemen Analisis Statistik di Administrasi Bea Cukai, Lv Daliang memaparkan bahwasanya inovasi dan peningkatan kualitas baja China telah menarik permintaan global, terutama untuk produk-produk manufaktur kelas atas dan mesin presisi.
Namun, di tengah kekhawatiran perdagangan, ekspor baja China tetap diminati. Menurut Direktur Departemen Analisis Statistik di Administrasi Bea Cukai, Lv Daliang memaparkan bahwasanya inovasi dan peningkatan kualitas baja China telah menarik permintaan global, terutama untuk produk-produk manufaktur kelas atas dan mesin presisi.
“Pasar global untuk produk baja inovatif akan terus berkembang,” kata Lv dikutip Kamis (17/10/2024).
Asosiasi Baja Dunia melaporkan bahwa permintaan baja domestik China diperkirakan turun 3% tahun ini menjadi sekitar 869 juta ton, sementara permintaan global diprediksi tumbuh 1,2% menjadi 882 juta ton. Di sisi lain, negara-negara seperti India, Asia Tenggara, dan Timur Tengah mengalami peningkatan permintaan baja yang signifikan.
China diperkirakan akan mengekspor lebih dari 100 juta ton baja pada tahun 2024, dengan Vietnam menjadi pembeli terbesar. Lonjakan ekspor ini dipandang sebagai akibat dari harga domestik yang lemah, yang memicu produsen untuk memaksimalkan ekspor. Analis Wei Ying dari China Industrial Futures Ltd. menilai bahwa pedagang baja China memanfaatkan premi harga yang lebih tinggi di pasar internasional dibandingkan dengan harga domestik.
Selain baja, impor batubara China juga mencatat rekor tertinggi pada September 2024, dengan volume mencapai 47,6 juta ton. Hal ini menandai lonjakan 12% dalam impor batu bara sepanjang tahun, didorong oleh persiapan negara tersebut untuk memastikan pasokan bahan bakar yang memadai menghadapi musim dingin mendatang.
Dampak pada Perdagangan Global
Peningkatan ekspor baja China menambah dimensi baru dalam dinamika perdagangan global. Di satu sisi, inovasi dan kualitas tinggi dari produk baja China memberikan keunggulan kompetitif di pasar internasional.
Namun, di sisi lain, lonjakan ekspor ini meningkatkan tekanan pada negara-negara dengan industri baja yang lebih kecil, terutama di Asia Tenggara dan Amerika Latin, yang khawatir akan dampak negatif pada industri lokal mereka. Ketegangan ini berpotensi memperburuk hubungan perdagangan internasional dan memunculkan isu-isu proteksionisme, terutama di kalangan negara-negara yang terimbas oleh masuknya baja murah dari China.
Bagi China, tantangan utamanya adalah menyeimbangkan antara mempertahankan pasar domestik dan mengelola surplus produksi, sambil tetap menjaga hubungan perdagangan yang stabil dengan negara-negara mitra. Dalam jangka panjang, kebijakan perdagangan dan inovasi yang diambil oleh China akan sangat mempengaruhi bagaimana negara ini berinteraksi dengan pasar global, terutama di sektor baja dan industri terkait lainnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal










